Kolom Asaaro Lahagu: Jokowi Demo, Lompat Kuda, Bertarung dan Bertaring

0
184






Asaaro LahaguIndonesia dan dunia sedang menyaksikan Presiden Jokowi demo. Beberapa hari yang lalu, Jokowi demo atau unjuk rasa, membanting level kepresidenannya ketika mengunjungi Prabowo di Hambalang. Ia unjuk rasa kepada rakyatnya bahwa demi keutuhan bangsa dan negara, ia rela datang ‘menyembah’ Prabowo demi mendinginkan situasi bangsa yang semakin panas membara.

Sepulang demo di kediaman Prabowo, Jokowi kembali demo di istana. Ia merendahkan dirinya dengan ‘mengemis’ kepada 35 pemimpin redaksi berbagai media. Ia meminta kepada media agar tidak menjadi provokator terkait gelegar demo 4 November 2016. Jokowi paham bahwa media punya peranan luar biasa untuk mengompori nalar-nalar pihak yang logikanya bengkok.

Jokowi sangat paham, bahwa ada banyak media online, media cetak dan TV oon plus portal abal-abal yang gemar memfitnah. Jokowi demo dan menuntut media-media penyebar fitnah agar bertobat. Jokowi kemudian menuntut mereka agar ikut meluruskan logika bengkok dan nalar-nalar dungu sebagian publik dan bukan sebaliknya.

Tidak cukup demo bertemu Prabowo dan media, Jokowi kemudian melanjutkan demo di hadapan para pemimpin MUI, NU dan Muhammadiyah. Ia dengan suara nyaring berteriak meminta tolong untuk menyelamatkan negara dan bangsa. Sekali lagi Jokowi unjuk rasa kepada rakyat Indonesia. Ia ‘membuang’ harga dirinya dengan berteriak nyaring meminta organisasi-organisasi keagamaan untuk menyelamatkan NKRI. Demi menyelamatkan bangsa, Jokowi rela ‘menghamba’ kepada MUI, NU dan Muhammadiyah.

demo-10




Seirama dengan demo-demonya, Jokowi kemudian berteriak kepada Polri untuk mempercepat pengusutan tuduhan penistaan agama yang ditunjukkan kepada Gubernur petahana, Basuki Tjahaja Purnama. Ia menuntut Kapolri untuk mengusut dengan cepat kasus itu berdasarkan hukum. Jokowi menuntut keadilan kepada para penegak hukum agar memproses lebih cepat kasus Ahok itu. Dari situ akan kelihatan apakah Ahok benar menista agama atau memang dia hanya dituduh menista. Jokowi demo agar hukum dijadikan sebagai panglima.


[one_fourth]aroma kentut SBY dan Amin Rais di balik gelegar demo[/one_fourth]

Di hadapan para lawan politik abadinya, Jokowi demo dengan menunjukkan karakter kepala batunya bahwa ia tidak ‘menyembah’ FPI, HTI, Amin Rais dan SBY Apalagi Fadli Zon dan Fahri Hamzah. Jokowi tidak mau menyembah dan bertemu dengan mereka. Jokowi paham bahwa ada kepentingan terselubung ormas-ormas keagamaan itu. Pun Jokowi mencium aroma kentut SBY dan Amin Rais di balik gelegar demo 4 November itu.

Menghadapi Amin Rais dan SBY, Jokowi cukup memakai taktik lompat kuda. Ia tidak datang menemui kedua orang itu. Karena jika ia bertemu dengan mereka, maka hasilnya draw alias seri. Dan itu tidak ada artinya. Maka kemudian Jokowi memakai taktik kuda. Ia melompat menghindari skak Amin Rais dan SBY. Lewat taktik lompat kudanya, Jokowi mendatangi Prabowo dan ‘menyembahnya’. Hasilnya Prabowo mengumandangkan pentingnya keutuhan NKRI dan menghimbau agar semua berkepala dingin.

demo-11

Lewat taktik lompat kuda, Amin Rais dan SBY terlihat terkunci. SBY kemudian lewat konferensi pers di kediamannya, masih terus memberikan perlawananan untuk menghantam taktik lompat kuda Jokowi. SBY terus memantik api. SBY mengeluarkan statement bahwa demo yang  menggelegar 4 November itu terjadi karena ada api  yang terus membara dan belum dipadamkan. SBY ingin agar Ahok langsung ditekuk agar jalan puteranya menuju DKI-1 mulus. Jika tidak, maka demo 4 November akan terus berlanjut sampai lebaran kuda berikutnya.

Lalu apa yang hendak dilakukan Jokowi menghadapi aksi sampai lebaran kuda SBY itu?

Untuk menghadapi aksi berkelanjutan SBY, Jokowi akan demo dengan menunjukkan kekuatan super dahsyatnya. Di bawah kendalinya ada 400 ribu anggota Polri dan hampir 500 ribu anggota TNI yang siap membela Pancasila dan UUD 1945. Pasca konsolidasi strategisnya tahun lalu dengan memilih Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI,  Jokowi kini telah mampu menarik hati TNI untuk siap di belakangnya jika perlu. Pemilihan Kapolri Tito Karnavian bulan Juli lalu adalah buah strategi tepat yang sangat berguna menghadapi situasi seperti sekarang ini.




Kini, rakyat pun paham bahwa dalam menghadapi demo 4 November 2016, Jokowi telah duluan demo mendinginkan situasi. Namun jika situasi memaksa, Jokowi telah siap demo lebih keras dan bahkan siap mati untuk membela konstitusi. Dengan kepala batunya Jokowi tidak akan menyerah sampai titik darah penghabisan pada tekanan pihak yang hendak mengganti hukum negara. Jokowi bersama rakyatnya yang setia pada NKRI sudah siap mengambil resiko. Jika memang situasi menuntut resiko tinggi, Jokowi bersama rakyat siap menghadapi bersama.

Besok 4 November, Jokowi akan demo mengambil keputusan penuh resiko termasuk jika memang Indonesia harus seperti Suriah. Jika memang pilihan terakhir harus seperti Suriah, maka biarlah Indonesia tercabik-cabik, tercincang-cincang, jika memang itu harus terjadi. Mungkin Indonesia harus seperti itu dari pada menyerah kepada ormas-ormas sangar dan kepentingan licik berbagai pihak untuk meraup masa depan negeri ini.

Jika memang Indonesia harus seperti Suriah dan itu adalah pilihan terakhir, maka rakyat Indonesia harus siap menjalaninya. Indonesia mungkin membutuhkan revolusi hancur-hancuran sekali lagi agar bisa mengambil pelajaran berharga darinya.

Besok dan seterusnya, termasuk sampai lebaran kuda, Jokowi siap demo menunjukkan karakter kepala batunya. Ia akan mengeluarkan keputusan terbaiknya, termasuk keputusan beresiko tinggi untuk masa depan bangsa ini. Sekali lagi, kini, besok dan lusa, Jokowi sudah siap bertarung dan siap menunjukkan taringnya menghadapi segala kemungkinan bersama rakyatnya yang setia kepada NKRI.




Leave a Reply