Kolom M.U. Ginting: MELIHAT PERSOALAN BANGSA

0
52





“Kebijakan seseorang lahir dari persoalan hidup yang ia hadapi dan selesaikan. Pada ahirnya Indonesia itu akan menjadi besar dan berbudi luhur ketika menghadapi dan menyelsaikan permasalahannya. Bagaimana Indonesia M.U. Gintingmenghadapi dan menyelesaikan masalahnyalah yang menentukan jati dirinya sendiri,” demikian ditulis oleh Joni H. Tarigan dalam kolomnya kemarin di Sora Sirulo.

Kalimat ini jadi pemikiran bagus melihat persoalan bangsa kita sekarang. Dengan pedoman ini bisa terhindar dari usaha luar bikin Indonesia tertimpa  ‘Balkanisasi’ itu. 

Hanya dengan cara kembali ke jati diri kita. Jati diri Indonesia yang terbentuk dari jati diri semua suku bangsa negeri Bhinneka Tunggal Ika ini. Hanya kita sendiri dengan nurani bangsa kita sendiri baru bisa menyelesaikan persoalan bangsa tanpa campur tangan dari luar atau dari kekuatan luar Divide and Conquer global hegemony.

vivi-e-tarigan-4
Semangat Pemuda Indonesia dari Taneh Karo. Model: Vivi Endaria Tarigan (koresponden Sora Sirulo)

Usaha ini harus dimulai dari ‘pinggiran’ (istilah Jokowi) atau dari daerah dan semua daerah kultur negeri ini menterapkan pemikiran ini dengan memperkuat kultur dan daerahnya masing-masing, melestarikan kebudayaannya, memanfaatkan kearifan lokal memperkuat dan mengembangkan ekonomi dan pendidikan di daerah. Kerjasama dan saling membantu dan memajukan diantara semua daerah kultur itu, selalu harus jadi perhatian dan ditingkatkan serta dikembangkan. Tiap daerah tidak sama perkembangannya dan itu pulalah faktor yang bisa mendorong untuk lebih mendalami dan menggali potensi daerahnya masing-masing.

Di banyak daerah sekarang ini termasuk di Karo sudah kejangkitan penyakit internasional, seperti narkoba, HIV/ AIDS, pelacuran, judi, bahkan begal (?). Penyakit-penyakit internasional ini tidak bisa diselesaikan dengan cara internasional atau menirukan negeri lain nan jauh di sana untuk menangani penyakit kita sendiri termasuk penyakit-penyakit internasional di Karo itu.

Pemimpin Karo dalam hal ini bupati patutnya bikin terobosan dalam menghadapi penyakit internasional ini secara ‘pinggiran’ itu, artinya memanfaatkan kekuatan lokal tradisional itu atau yang sering kita dengar dengan kearifan lokal.

Sudah banyak kita dengar pemimpin kabupaten yang bikin terobosan di daerahnya, tetapi belum ada di Sumut, bahkan di Sumatra, karena baru ada kejadian di Jawa. Umumnya cara memimpin daerah masih cara lama, statis  tidak bikin inisiatif apa-apa atau terobosan kita bilang sekarang.

Mengapa tidak dimulai di Karo?




Leave a Reply