Oleh: Penatar Perangin-angin (Jambi)

 

Penatar Perangin-anginBagi Suku Karo, menganut keyakinan lain di luar konsep ketuhanan yang ada di dalam budaya Karo tidaklah menjadi persoalan. Sejarah telah membuktikan budaya Karo sangat menerima dan memberi ruang bagi budaya asing termasuk agama, sejauh individunya tidak merasa hal itu menyalahi dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Tetapi, waktu pulalah yang telah mempertontonkan hal yang terbalik dari semua peristiwa interaksi budaya ini, dimana tamu telah merasa menjadi tuan rumah, menghakimi si pemilik tempat, menista, menganggap sesat dan merasa lebih mulia dan suci.

Apa ini tidak keblinger namanya? Satu keganjilan yang diselundupkan dikemas dengan bahasa surga, ditampilkan dengan kesan penuh cinta kasih dan pangir-2kedamaian, dibuai dengan janji-janji hidup dalam keabadian, dan siapapun yang larut terbuai akan menggadaikan segalanya demi memperoleh itu semua.

Seperti yang saya sampaikan tadi, fakta telah jungkir balik adanya, terutama dalam hal ststistik. Ya, dominasi hati masyarakat berlabuh pada tamu yang menawarkan kehangatan. Sangkin hangatnya, si tuan rumah lupa jika tamu tetap lah tamu.Ia diberi kebebasan untuk tinggal, diberi kamar oleh situan rumah untuk tidur sampai waktu yang ia inginkan. Alhasil apa yang terjadi?

Tamu mengatur semuanya. Tamu memegang kendali atas rumah, memerintahkan tuan rumah untuk patuh pada aturan tamu karena yang disampaikan adalah titah Sang Pencipta. Bahkan pencipta yang dikenal oleh tuan rumah dianggap sesat dan harus dibuang jauh-jauh.

Dari ilustrasi cerita di atas, mari kita lihat dan renungkan apa itu kasi, apa itu damai, apa itu toleransi, dan apa itu pelayanan. Mudah- mudahan ada terlintas dalam benak kita siapakah diantara keduanya yang lebih menunjukkan kasih, damai, toleransi dan pelayanan itu? Atau, sadarkah kita ini siapa sehingga kita sanggup menghakimi orang lain?




Kepercayaan Suku Karo tidak mengajarkan penghakiman terlebih soal kebenaran Tuhan orang lain. Ia tidak merumuskan surga atau neraka, tetapi perbuatan jahat akan mendatangkan hal yang tidak baik pula, bukan atas perbuatan melainkan karma. Hal ini sejalan dengan hukum sebab akibat, sederhana memang tetapi lebih dari cukup untuk membangun moral dan tatanan kehidupan sosial Suku Karo.

Mejuah juah

#stop-intolerance#stop-justifikasi



Leave a Reply