Kolom M.U. Ginting: KEPRIBADIAN LELUHUR

1
121
demo-17
Foto: Darwono Tuan guru




M.U. GintingSaya pikir Kapolri sangat bijak dalam menanggapi demo hari ini. Peningkatan kesadaran masyarakat sudah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kesadaran masyarakat Tahun 1965 dimana langsung saja orang-orang ambil parang dan bunuh 3 juta orang dengan propaganda ‘murahan’.  

Setengah abad proses perubahan, telah betul-betul menghasilkan buah panen KETERBUKAAN DAN PARTISIPASI PUBLIK berkat perkembangan teknik informasi dan komunikasi itu. Memang masih bisa juga tertipu dengan penyimpangan informasi sengaja atau tidak, tetapi bukan arus utamanya. Seperti pembelokan kata-kata Ahok dalam kasus demo ini, tujuan jahat orang luar seperti 1965 tidak lagi mempan mengadu domba rakyat seperti masa-masa lalu. 

 

Kepribadian bangsa kita, jati diri, toleransi dan cinta damai sesama manusia Indonesia itu, terlihat semakin menyala, semakin tak mempan diadu domba dari luar seperti di Timur Tengah, Balkanisasi, dsb. Perubahan ini memang bisa mengherankan tetapi sudah menjadi kenyataan. Grup-grup extrem model FPI, HTI, Wallabi dsb harus pakai cara lain kalau mau berhasil memecah belah dan adu domba seperti 1965. Pengertian soal terorisme juga sudah banyak peningkatan ilmiah, berkat pencerahan dari banyak akademisi dunia dan disiarkannya secara bebas dan terbuka dengan memanfaatkan teknik digital informasi dan komunikasi cepat itu. 




Tak kalah hebatnya ialah pemikiran dan ketegasan para penguasa RI termasuk pimpinan polisi dan militer, presiden dan kabinetnya sangat cepat merespon dan sangat bertanggungjawab secara rasional dan paling penting ialah atas dasar HATI NURANI DAN KEPRIBADIAN BANGSA INI. Inilah kunci yang bikin keajaiban menakjubkan dalam demo 4/11 itu. Bahkan sampah pun ada yang suka rela mengumpulkan supaya tidak mengotori jalan dan kota. Hebat anak-anak muda bangsa kita bawa kepribadian sejati, naluri murni dari hati nurani sejati bangsa ini. 

Apa yang telah merusak nurani bangsa kita selama abad lalu dan sebelumnya ketika era kolonial? Keserakahan penjajah serta Greed and Power dari Barat yang telah menjangkiti bangsa kita. The Idolatry of Money, kata Paus Fransiskus dalam banyak ceramah dan pidatonya di banyak negeri abad 21. 

“[B]ehind all this pain, death and destruction there is the stench of what Basil of Caesarea called ‘the dung of the devil’. An unfettered pursuit of money rules. The service of the common good is left behind. Once capital becomes an idol and guides people’s decisions, once greed for money presides over the entire socioeconomic system, it ruins society, it condemns and enslaves men and women, it destroys human fraternity, it sets people against one another and, as we clearly see, it even puts at risk our common home.”http://fortune.com/

Inilah sebab utama perusak jati diri dan hati nurani leluhur kita sejak era kolonial sampai hari ini (4/11). Kita tidak percaya kalau sudah ada perubahan nurani bangsa kita itu sebelum demo 4/11 itu. Tetapi ketertiban demo itu telah membuktikan perubahan besar itu sudah terjadi. Bangsa kita telah kembali ke kepribadian leluhurnya meninggalkan kepribadian asing selama tiga setengah abad penjajahan dan lebih dari setengah abad kemerdekaan dengan masuknya multikulti, radikalisme dan terorisme ulah ideologi The Idolatry of Money itu.




1 COMMENT

  1. Gundari lanai telu juta ngenca tapi enggo rondap biang kerok thn 65 kerina anak muda Indonesia! Sabu sabu masih terus menerus masuk, La ngadi ngadi.

Leave a Reply