aletheia-7
Foto di York Minster. The cathedral of York.

“Ohh, bajumu cantik sekali. So pretty,” kata seorang perempuan muda berambut pirang, ketika saya dan teman sedang menelusuri Newland Avenue.

Saya kaget dan masih kebingungan dengan tindakan perempuan itu sambil (tanpa sadar) mengamati baju saya sendiri yang sebenarnya tak lagi menarik apalagi cantik dengan warna yang telah memudar karena tak terhingga berapa kali ‘keluar-masuk’ mesin cuci.

“Kamu tinggal di mana? Apakah kamu seorang mahasiswa?”tanyanya dengan senyum termanis.

Saya pun mengamati perempuan itu, sepatunya, tasnya, dan bajunya. Ya, bajunya! Di dadanya terdapat ‘name tag’ dan sepintas terlihat kata ‘Jesus’. Kembali saya mengamati senyumnya. Ya, senyumnya! Senyum yang persis sama dengan milik para perempuan muda di mal-mal kota Yogyakarta yang pernah menawarkan parfum dan lipstik kepada saya.

“Ya, betul. Saya seorang mahasiswa,” kata saya setelah berhasil ‘menguasai’ keadaan, sementara teman saya menarik lengan saya untuk segera pergi.

“Brilliant! Apakah kamu merasa nyaman tinggal di sini?” katanya dengan senyum yang tetap melekat di wajahnya.

“Apakah kamu pernah mendengar nama Yesus?” tanyanya lagi dengan berapi-api.

Saya mengangguk dan tersenyum.




“Dia adalah Penyelamat. Jika kamu ingin mengenal Yesus saya akan bercerita banyak tentangNya,” katanya.

“Well, saya tahu siapa Yesus,” kata saya singkat sambil mengamati lagi mimik wajah dan gerak tubuhnya.

“Setiap Minggu saya ke gereja. Saya punya Alkitab. Keluarga saya pun mengenal Yesus. Bahkan nenek dan kakek saya yang telah tiada pun tahu siapa Yesus.”

“Mungkin kamu ingin mengenalNya lebih jauh?” katanya memelas, kali ini senyumannya menghilang.

“Apakah kamu seorang ‘student’?” tanya saya balik.

“Betul,” katanya.

“Bagus! Pasti kamu punya banyak ‘papers’ yang harus dikerjakan sebelum Natal tiba, kan?” tanya saya.




“Iya,” katanya malu.

Setelah kami berjabat tangan, saya pun melangkah pergi bersama teman saya.

“Orang seperti itu pernah datang ke rumah kami dan memberikanku ‘Bible’. Dia tak tanya agamaku apa,” kata sang teman yang adalah seorang Muslim dari Irak.

“Seharusnya kamu tadi memberikannya lagi Al Quran,” kataku tertawa.

“Are you crazy? Kamu gila,” teriaknya sambil ikut tertawa.

Di United Kingdom, gereja ‘tradisional’ seperti Anglikan telah mengalami krisis. Akan tetapi aliran-aliran seperti Mormon dan Jehovah’s Witnesses tumbuh subur di sini. Kehadiran komunitas yang anggotanya seperti perempuan muda tadi telah ‘mendestruksi’ institusi tradisional gereja, tapi di sisi yang lain sebenarnya mereka juga telah ‘mendekonstruksi’ religiusitas yang mapan.




Leave a Reply