aktor-politik-1



M.U. Ginting“Aktor Politik”, istilah tersohor setelah Demo 411. Siapa politikus yang tidak menyukai istilah ini? Manusia Indonesia sekarang sudah terbagi, yang pro dan kontra atas figur gubernur DKI Ahok, figur bukan Islam alias ‘kafir’, tetapi bersih dari kebusukan era modern Indonesia “korupsi”. Itu salah satu benteng terkuat Ahok bertahan dari seribu satu serangan lawan-lawannya.

“Ada yang dibohongi pakai Ayat 51 Al Maidah,” kata Ahokdi Kepulauan Seribu kepada warga setempat.

Dalai Lama bilang (2014),”religion has become an isntrument to cheat people.” Dia katakan ini di Shillong, ibu kota Meghalaya (India utara). Tidak ada yang menuduh Dalai Lama menghina religion atau agama. Tetapi, mengapa Ahok dicap menistakan agama karena Ayat 51 itu dipakai sebagai instrument untuk bohongi orang supaya tidak memilih dia di Pilgub?

Tetapi, biar bagaimanapun sudah terlanjur semua. Sudah terjadi apa yang sudah terjadi, tidak bisa diulangi sehingga tidak terjadi. Banyak yang sudah dipolisikan, termasuk Ahok. Kekeliruan semua pihak ialah bahwa agama sudah dicampur aduk dengan politik, dimulai oleh Ahok, dalam hal ini di pulau Seribu. Masih patutkah diteruskan mencampur aduk agama dengan politik ini? 

Siapakah yang akan memulai memisahkan agama dari politik?

aktor-politik-2Polisi sudah menerima banyak pengaduan dalam 2 soal ini. Pertama, penistaan agama, dan yang lain ialah soal ‘provokator politik’ demo 411.  Dari segi hukum, mungkin bisa semua jadi terang, mana yang adil dan yang tidak adil. Kepercayaan kita sepenuhnya kepada aparat kepolisian untuk bikin penjelasan dan putusan seadil mungkin, sehingga ada pegangan bagi kita semua untuk tidak lagi meneruskan pekerjaan yang sia-sia ini. Dengan begitu, semua bisa kembali lagi ke tugas besar pembangunan negeri ini, yang sudah banyak dimulai tadi oleh menteri-menteri Kabinet Jokowi dengan berbagai terobosannya.

Demo 411 telah sempat menghambat semua terobosan Kabinet Jokowi.

Tentu juga muncul pertanyaan dalam hati rakyat banyak, mungkinkah semua kekacauan ini sengaja diprakarsai oleh kekuatan luar untuk adu-domba rakyat Indonesia seperti Tahun 1965? Kekuatan Divide and Conquer seperti di Timur Tengah Irak, misalnya?

“Boleh demo, tetapi jangan mau dikendalikan oleh orang yang tak jelas,” kata Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

“Boleh (demonstrasi) tapi harus bisa memberi solusi dan mengubah, kalau dikendalikan amat sangat memalukan,” lanjut  panglima TNI ini.

Menurut Panglima, di Timur Tengah orang diadu domba karena mau minyaknya. Di Indonesia juga banyak SDAnya. Karena itu juga diincer dari luar, oleh kekuatan Greed and Power itu atau Divide and Conquer.

Ada atau tidak ada rekayasa luar ini, tetapi kita harus selalu waspada karena kita punya SDA berlimpah yang selalu jadi inceran kekuatan luar seperti 1965. Ketika kita membunuhi dan membantai 3 juta orang bangsa kita sendiri . . . sim sallabim . .  emas Papua langsung dikuasai lebih dari setengah abad lamanya, tanpa kompensasi sepeserpun kepada rakyat Papua atau Indonesia.

Belakangan sudah ada yang mengingatkan kontrak Freeport, lantas kita dibom dengan teror Thamrin, menakut-nakuti supaya rakyat dan pemerintah bungkam soal niat memutuskan kontrak atau nasionalisasi Freeport. Tetapi, kemudian malah terjadi yang sangat positif, Presiden Jokowi bilang bahwa teroris tak perlu ditakuti karena maksudnya memang menakut-nakuti. Wapres JK juga bilang tak ada kaitan teroris dengan agama Islam. Seluruh dunia apresiasi pernyataan Jokowi dan JK.




Di Eropahpun bergema omongan Jokowi itu. Orang-orang mulai berkata: “Tak perlu takut sama teroris. Mari kita kerja biasa saja, karena selalu akan ada saja orang mau bunuh diri bawa bom, tidak bisa dihindari.”

Di Eropah yang sangat takut sama teroris hanya Hollande, yang bikin a state of emergency seluruh Perancis karena ketakutannya sama teroris. Peancis dengan tentaranya yang begitu kuat dan punya bom atom juga, takut sama teroris yang jumlahnya di Perancis tidak pernah lebih dari belasan orang. Keterlaluan dan Memalukan kelakuan Hollande. 

Terorisme dan perekayasa teror 3  juta 1965 orangnya sama, Greed And Power internasional. Prof Chossudovsky bilang:

 The so-called war on terrorism is a front to propagate America ’s global hegemony and create a New World Order. Terrorism is made in USA , The global war on terrorism is a fabrication, a big lie”. 

Jadi teror-teror itu, adu domba atau pecah belah model Demo 411, hanya untuk mengalihkan perhatian dari SDA minyak atau emas. Karenanya mari perkuat kewaspadaan dan persatuan nasional. Kembali ke semua terobosan kabinet kerja.




1 KOMENTAR

Leave a Reply