Kolom M.U. Ginting: MELAWAN KEMAPANAN

0
123

silent-majority-2



M.U. GintingBerita tersangka penista agama Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta tersiar luas di media luar negeri. Apa saja memang bisa jadi sorotan dunia. Tidak ada kenegatifan yang menonjol dalam hal ini. Malah ada positifnya bagi Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta dan bagi Indonesia untuk lebih terkenal karena jadi diskusi dunia. Keterkenalan sangat positif bagi industri turisme, membantu ekonomi rakyat.

Di luar negeri (Barat) berlaku ‘freedom of speech’, terutama sangat terasa dan dipegang teguh di Eropah Barat. Walaupun di AS belakangan kebiasaan bagus ini sudah lama  mau dihilangkan perlahan-lahan oleh apa yang dinamakan PC (Political Correctness) yang dipakai oleh The Etablishment mematikan lawan-lawannya seperti Trump yang nasionalis itu.

Dan, Trump menang dalam perlawanannya menentang the establishment dan PC. Tekanan PC ini sangat dirasakan oleh penduduk Eropah Barat, dan AS, juga Australia. PC seakan-akan sudah menjadi kultur yang bagus dan keharusan dalam masyarakat, tetapi PC pada hakekatnya adalah alat dari pihak penguasa menutup mulut dan kebebasan berbicara. 

Kemenangan Trump terutama adalah karena suara mutlak dari ‘The Silent Majority’ penduduk AS yang tidak pernah digubris selama abad multikulti, abad lalu.

Hebatnya sekarang ialah bahwa kekuatan ‘the silent majority’ itu telah atau dalam perjalanan akan mengubah dunia, dari dunia ‘multikulti’ ke dunia nasionalis kultural, dari dunia ‘bragart loudmouth’ (mulut besar) ke dunia ‘quite revolution’ (revolusi senyap) atau revolusi mental.

silent-majoritySilent Majority di belakang Ahok akan menentukan siapa yang akan menang dalam Pilkada ibu negeri Indonesia itu. Silent majority tidak banyak ngomong tetapi akan datang ke pemilihan secara besar-besaran kalau ada yang mereka rasa tepat untuk dipilih. Contohnya kemenangan Trump. Selama setengah abad the silent majority tidak pernah memilih, karena pilihannya sama saja, tidak ada alternatif bagi mereka. Pilihan yang ada selama ini adalah diantara pendukung the establishment R atau D. Sedangkan the establishment (R atau D) sudah tidak mengindahkan mereka.

Mereka ini ialah suku orang putih AS, terdiri dari:

1. kelas buruh miskin di daerah industri

2. penduduk miskin pedesaan

3. penduduk miskin daerah pedalaman.

Orang-orang ini yang umumnya berpendidikan rendah dan sangat jauh dari pendidikan tinggi, jauh dari peradaban modern AS. Penduduk dalam kategori ini semakin terdesak secara suku dan kultur oleh pesatnya gerakan multikulti yang dengan sengaja dipelopori oleh the establishment (penguasa AS dari R atau D + penguasa ekonomi pemodal besar).

Mereka secara ekonomi terdesak dari persaingan tenaga kerja,. Paling mematikan ialah perpindahan modal AS ke negeri miskin sehingga tenaga kerja murah, terutama China dan bikin fabrik di sana sehingga bikin pengangguran besar-besaran di AS. Barang-barang hasil industri atau fabrik-fabrik itu dijual malah di AS, paling laku pula karena paling murah dibandingkan hasil industri dalam negeri. Keadaan dan situasi buruk yang membangkrutkan kelas pekerja AS terus menerus, tidak mungkin berhenti atau dihentikan, karena ini adalah kehendak the establishment, dan ada dalam sistem itu sendiri.

Yang terus menerus diuntungkan ialah pemilik kapital besar itu. Mereka memindahkan modalnya ke mana saja negeri yang tenaga kejanya jauh lebih murah daripada di AS. Peningkatan pengangguran dan kemiskinan adalah pasti. Ditambah lagi dengan migrasi jutaan orang miskin dan pengangguran dari ‘Selatan’. Hal seperti ini umumnya terjadi di semua negara kaya Barat, di Eropah Barat juga. Perpindahan kapital ke Eropah Timur setelah Blok Timur runtuh, sangat terasa pengangguran meningkat drastis di Eropah Barat, yang sampai sekarang tidak pernah berkurang apalagi mengatasinya. Itu terjadi karena sudah menjadi satu sistem tersendiri di seluruh Uni Eropah, The Economic Establishment of Europe, organisasi besar kapital dunia di Eropah.

Tetapi, apa yang tidak diduga-duga ialah bahwa di Eropah juga ada yang namanya ‘The Silent Majority’. Atau lebih tepat ialah kalau di Eropahlah pertama kali silent-majority-3dicetuskannya Revolusi Besar Politik the Silent Majority itu, dalam revolusi besar BREXIT, dipelopori oleh pemimpin UKIP Nigel Farage. Revolusi terbesar the silent majority di luar Eropah ialah The Great Political Revolution pimpinan Donald Trump di AS. Satu ciri tersendiri dari revolusi ini ialah tidak ditandai oleh satu partai tertentu (partai-partai lama the establishment), tetapi ditandai oleh The New Emeging Forces kekuatan the silent majority dari semua partai dan terutama dari kekuatan the silent majority itu, pendudui AS yang selama ini dilupakan. Berlainan dengan Farage di Eropah membangun partai baru UKIP, Trump memanfaatkan partai lama R jadi penyangga revolusinya.

Seperti Brexit, Trump mengutamakan AS, ‘America First’ sebagai slogannya, mau menghapuskan semua perjanjian dagang seperti NAFTA dan TPP, skeptis terhadap NATO maupun PBB. Trump lebih memilih perjanjian perdagangan bipoler saja, rundingkan apa yang perlu antara dua negara, tidak perlu ada orang ke tiga model NAFTA atau TPP. Yang sudah jelas memang kedua oraganisasi ini sangat menguntungkan bagi anggotanya pemilik kapital besar, karena bisa jadikan negeri lain jadi pasar dan bisa import murah apa yang perlu dari negeri lain itu, terutama bahan mentah dan tenaga kerja murah. Apalagi kalau bisa pindahkan fabriknya ke mana saja yang menguntungkan.

China is eating our lunch and sucking the blood out of the U.S,” kata Trump.

Export ke China sangat  tidak berarti dibandingkan dengan import dari China. Barang-barang yang dihasilkan oleh modal AS yang pindah bikin fabrik di China, diimport pula ke AS . Untuk menghindari ini semua Trump mau ‘menghukum’ perusahaan yang pindah ke luar negeri, dan akan bikin tariff import yang tinggi, sehingga orang akan membeli hasil industri dalam negeri, supaya bisa meningkatkan kembali produksi dan kegiatan industri dalam negeri AS. Dengan begitu akan ‘Make America Great Again’, katanya.


[one_fourth]karena semua diimport dan lebih murah pula[/one_fourth]

Politik ‘proteksionis’ kata musuh-musuh Trump. Teringat ketika sebelum Swedia masuk UE harga beras murah sehingga dengan gaji kecil juga, kita masih bisa hidup ‘enak’. Ketika masuk UE tarif import beras dinaikkan oleh UE, beras naik 2-3 kali lipat, kita yang makan nasi/ beras terasa sekali di perutnya. Penjual kentang makan enak, kentang lebih laris. Jadi proteksionis itu dilakukan oleh semua, demi melindungi dan menghindarkan kematian negeri masing-masing. Lihatlah Indonesia yang selama setengah abad tak berkembang industrinya, karena semua diimport dan lebih murah pula, Indonesia hanya jadi negeri pemasaran barang industri bagi semua negeri lain. SDAnya banyak dan bisa menunjang keterbelakangan industri ini. . . . untuk sementara dan berapa lama lagi.

Dengan politik ekonomi proteksionisnya itu, Trump dituduh mercantilis Abad 16. Tetapi kalau kita tinjau dari segi dialektika perkembangan Hegel tesis-antitesis-sintesis, kalau kita ganti dengan “mercantilis-liberalis-mercantilis” lagi. Merkantilis sekarang sudah jauh kwalitasnya lebih tinggi dari merkantilis Abad 16. Dalam bidang sosial kemasyarakatan, “nasionalisme-internasionalisme-nasionlisme” lagi. Perkembangan terakhir nasionlsisme atau ethnic revival dunia, tidak sama dengan nasionalisme Abad 18-19.




Proses dialektika yang selalu akan dan harus kembali lagi ke tesis semula atau syntesis, dan proses ini harus melewati lingkaran spiral, pada gilirannya lingkaran yang berlaku sudah lebih tinggi dari sebelumnya, artinya peningkatan kwalitas, lingkaran sama tetapi lebih tinggi. Nasionalisme Trump atau Brexit tidak sama dengan nasionalisme Abad 18 atau 19. Perubahan dialektis ini tidak terhindarkan, berlaku alamiah menurut hukum-hukum perubahan dan perkembangan. Karena itu seorang prfesor Katolik AS bilang:

“Whether politically correct or not, ethnonationalism will continue to shape the world in the twenty-first century.” (Jerry Z. Muller is Professor of History at the Catholic University of America).

Ini berlaku bagi nation Indonesia dan nation AS.

Dari segi etno nation yang lebih kecil atau suku Erik Lane bilang dalam bukunya tentang globalisasi:

“The focus is almost exclusively at ethnics and not nations . . . Thus, people are so intimately connected with a culture that they are, so to speak, constituted by the culture in question or embedded in such a particular culture.”

Ini berlaku bagi suku putih AS yang NB telah dilupakan selama abad multikulti. Juga berlaku tepat sekali bagi suku-suku bangsa multi-etnis Indonesia.




Leave a Reply