Ibu Muda Buta Huruf dari Siantar Digilir Laki-laki di Medan

0
227

imanuel sitepu 3IMANUEL SITEPU. NAMORAMBE. Malang benar nasib P boru Tindaon (23) ibu beranak satu asal Batu VI Siantar ini. Niat untuk mencari suaminya Ari (28) ke Medan, ibu muda ini malah jadi korban pemerkosaan. Meski sudah 5 bulan terdampar di kota sibuk ini, nasib apes yang menimpa P boru Tindaon berakhir setelah Kepala Desa Namorambe Jhon Fiter Sembiring mengantarkan korban ke stasiun bus jurusan Pematang Siantar [Jumat 18/11: sekitar 12.00 wib].


Cerita P boru Tindaon saat diwawancarai Sora Sirulo di Polsek Namorambe, bencana yang dialaminya berawal 5 bulan lalu ketika dia pergi mencari suaminya yang sebelumnya telah berangkat ke Medan dengan alasan untuk mencari pekerjaan. Lantaran sejak pergi setahun lalu, Ari tidak pernah memberi kabar, P boru Tindaon mengambil inisiatif untuk mencari suaminya itu.

Dari Siantar, membekali diri dengan pakaian seadanya, HP serta uang Rp 350 ribu, P pun menggendong putra tunggalnya Rama yang masih berusia 4 tahun pergi ke Medan dengan menumpangi bus. Akan tetapi, setibanya di Terminal Amplas sekira 20.00 wib, P menjadi bingung lantaran baru pertama menginjakkan kaki di Kota Medan.

cari-suamiDi sinilah penderitaan P boru Tindaon mulai terjadi. Ketika dia berada di sekitar jembatan Flyover Amplas, tas sandang miliknya berisi uang serta HP dirampok orang tak dikenal. Dengan terpaksa, P dan anaknya malam itu menahan haus dan lapar. Tak lama kemudian, seorang sopir angkot yang pura-pura iba melihat P dan anaknya mempertanyakan apa yang terjadi kepadanya dan ke mana sebenarnya tujuan P bersama anaknya.

Dengan polos dan memang butuh pertolongan, P menceritakan nasib serta tujuannya ke Kota Medan adalah untuk mencari suaminya. Pura-pura kenal dengan suami korban, sopir angkot tersebut lalu menyuruh P dan anaknya naik ke dalam angkot miliknya dengan alasan untuk mengantarkan P kepada suaminya Ari. Menurut pria paruh baya itu, suami P juga bekerja sebagai sopir angkot Rahayu Trayek 53.

Yakin dengan ucapan pelaku, P akhirnya menuruti. Mirisnya, P bukannya dibawa menemui Ari suaminya. Melainkan bersama 4 pria (teman sopir angkot tersebut), P malam itu dibawa ke areal perkebunan sawit. Di sana, P pun digiliri oleh kelima pria tersebut. Usai melampiaskan nafsu bejatnya, P pun ditinggalkan begitu saja.

Menurut P, penderitaannya bukan sampai di situ saja, selama 5 bulan tinggal di Medan, ia tidak kunjung bertemu dengan Ari suaminya. Dalam 5 bulan tersebut, P berulang kali menjadi korban pemerkosaan.

“Tidak terhitung berapa kali aku jadi korban pemerkosaan oleh begundal selama 5 bulan di Medan. Sudah puluhan kali. Memang selama di Medan, aku tidak ada tempat tinggal. Hidup terlunta-lunta di pinggir jalan,” tutur P menitikan air mata.

Lanjut dikatakan P, ia terakhir kali menetap di Gg. Pendidikan Belawan bersama anaknya, dan terakhir kesasar ke Namorambe setelah menumpangi Angkot Nitra trayek P25 Simpang Pos.

“Tidak siang tidak malam, aku selalu berjalan mencari suamiku. Karena tidak pernah ketemu, baik siang mau pun malam asal ada lelaki yang menangkap aku terpaksa kulayani. Rata-ratanya paling sedikit 5 orang yang harus kulayani. Aku terakhir tinggal di Belawan, karena ada yang mengatakan suamiku tinggal di sekitar sana,” tutur ibu yang tak tahu membaca ini.

Masih kata P, dirinya tidak mau melayani lelaki yang menangkapnya. Bukan tidak sering P dipukuli dan rambutnya dijambak oleh lelaki jalanan.

“Sudah puas aku mencari suamiku di Medan ini. Sebenarnya aku mau pergi ke Sibolga tempat keluargaku. Tolong bantu aku, karena tidak punya uang, bang. Tapi aku malah nyasar kemari (Namorambe, red),” tuturnya sambil menangis.




Sementara menurut U. Bukit Supir Nitra P24, P naik ke angkotnya dari Karya Wisata menuju Namorambe.

“Tiba di Namorambe, saya tanya turun di mana. Dia  malah ketawa sendiri. Di pikirnya aku juga membawanya ke tempat sunyi lalu memperkosanya seperti yang dilakukan sopir angkot lain. Jelas saja aku takut dibuatnya. Apalagi dia selalu biacara ngawur seperti orang mengalami trauma. Makanya aku turunkan wanita ini bersama anaknya di depan Kantor Polsek Namorambe,” kata Bukit.

Hal serupa juga dikatakan, Kepala Desa Namorambe, Jon Filter Sembiring.

“Sepertinya perempuan ini mengalami stres karena memikirkan suaminya. Apalagi dia telah berulangkali menjadi korban pemerkosaan. Sering terlihat dia berbicara sendiri,” kata Sembiring seraya mengatakan kalau dirinya juga ikut memberi ongkos kepada P boru Tindaon ini agar bisa pulang ke kampung halamannya di Pematang Siantar.








Leave a Reply