Kolom Aletheia Veritas: STIGMA KELOMPOK

0
103

stigma



Aletheia 1Beberapa hari yang lalu, saya ‘ngobrol’ via telepon genggam dengan salah satu mantan mahasiswi saya yang sekarang telah bekerja di sebuah instansi pemerintah di Pulau Jawa. Ia berasal dari Jawa Tengah dan pernah tinggal di Labuhan Batu selama beberapa tahun.

“Mbak tahu pandangan orang banyak tentang suku Jawa belasan tahun lalu di Sumatera utara?” tanyanya.

“Iya Ren, saya tahu,” jawab saya singkat tanpa berminat menjelaskan pandangan tersebut.

“Dulu, orang Jawa dikatakan suka makan kutu, Mbak,” katanya sambil tertawa.

“Oh ya?” respon saya, pura-pura terkejut karena ingin menjaga perasaannya.

Memang yang dikatakannya betul. Sekitar seperempat abad yang lalu, saya juga sering mendengar sindiran anak-anak sebaya mengenai orang-orang Jawa yang dituduh suka makan kutu. Mendadak saya merasa pandangan seperti itu sungguh ‘mengerikan’. Bagaimana mungkin, ia menjadi sebuah kesadaran dan keyakinan komunal?

“Setiap etnis dan ras menanggung stigmanya masing-masing, Ren,” komentar saya yang masih ingin terlihat sebagai dosennya yang bijak.

“Mereka kan tahu sendiri kalau di level nasional, orang-orang Jawa yang banyak menjadi tokoh. Bahkan RI 1 pun selalu punya latar belakang etnis Jawa,” jawab saya sambil tersenyum meski ia tak bisa melihat.

stigma-2“Nah, Mbak tahu pandangan kami orang-orang Jawa mengenai orang-orang Batak di sana?” tanyanya lagi.

Kali ini saya segera meminta kejelasan pertanyaannya.

“Ada beberapa kategori Suku Batak menurut versi pemerintah dan sejarawan, Ren,” ujar saya. Sebelum saya melanjutkan pernyataan saya, ia segera memotong.

“Iya Mbak, saya paham. Maksud saya orang-orang Toba. Dulunya kami orang-orang Jawa memandang mereka kasar dan penjorok. Halamannya tak pernah disapu,” katanya tanpa tertawa.

“Bagaimana dengan orang Karo, Ren? Apakah kalian punya pandangan sendiri mengenai mereka,” tanya saya.

“Orang-orang Karo baik-baik saja, Mbak,” jawabnya sambil tertawa mencurigakan.

“Baiklah, Mbak! Saya pikir orang seperti Mbak taklah mungkin kecil hati karena stigma etnis. Dulunya di kalangan kami, orang-orang Karo ini cukup ditakuti karena kami percaya mereka suka pakai guna-guna,” jawabnya datar.

Saya segera tertawa lebar, sukar berhenti karena mengingat saudari saya yang pernah mengusir anak-anak yang hendak mencuri bunga-bunganya.

“Heiiiii! Awas kau ambil bungaku, ya! Kuguna-gunai kau nanti!” teriaknya (hahahahaha ?)

“Ah, tapi kami juga menanggung stigma diantara saudara-saudari satu etnis, Mbak,” katanya lagi.

“Karena kami beragama Kristen, orang-orang Jawa di sana selalu memandang kami aneh, seperti manusia yang lubang hidungnya tiga,” komentarnya seolah-olah hendak membesarkan hati saya.




Tapi percaya saja. Setiap etnis, suku, ras, agama bahkan setiap pribadi pasti selalu menanggung stigma dalam dirinya ketika berhadapan dan bersentuhan dengan manusia-manusia lainnya. Jangankan di Indonesia, di Inggris saja ada stigmatisasi bagi orang-orang dari wilayah tertentu.

Saya pernah ‘ngobrol’ dengan beberapa teman di sebuah cafe. Tiba-tiba seorang dari mereka pergi begitu saja. Teman saya yang pergi itu berasal dari Glasgow. Spontan, salah satu teman saya yang lain berujar: “Dasar Glasgowist! Mereka kebanyakan memang begitu. Sama sekali tak punya “manners” alias tata krama.”

Saya pun berefleksi kembali. Toh, hidup ini bukanlah kemauan kita. Pernahkah kamu meminta terlebih dulu dilahirkan dengan etnis dan agama tertentu?








Leave a Reply