jalan-deliserdang



imanuel sitepu 3IMANUEL SITEPU. NAMORAMBE. Sudah menjadi rahasia umum, sejak dulu kawasan bagian hulu Kabupaten Deliserdang yang penduduknya hampir seluruhnya dari Suku Karo tidak mendapat perhatian dari Pemkab Deliserdang. Masyarakat yang berada di daerah pegunungan ini kerap melakukan protes kepada Bupati, lantaran tidak melakukan pemerataan pembangunan infrastruktur.


Seperti contoh kondisi jalan protokol sepanjang 10 Km yang menghubungkan Desa Candirejo (Kecamatan Biru-biru) menuju Desa Silue-lue (Kecamatan Namorambe). Jalan ini setiap hari dilintasi oleh warga yang mendiami 12 desa. Miris memang, jalan yang saban hari dipergunakan untuk mengangkut hasil pertanian tersebut sudah hampir 20 tahun tidak pernah diaspal atau disentuh pembangunan.

Lantaran tak tahan karena setiap hari melintasi jalan rusak, 12 kepala desa diantaranya Kepala-kepala Desa-desa Batu Gemuk, Batu Mbelin, Lau Mulgab, Timbang Lawan, Rampah, Silue-lue dan beberapa lainnya serta tokoh masyarakat Deliserdang Mion Tarigan SE, akhirnya sepakat menggerakan warga dalam melakukan gotongroyong setiap hari Minggunya.

“Kondisi jalan sudah hancur lebur. Tak ada lagi yang bagus. Soalnya, selama 20 tahun tidak pernah diperbaiki,” sebut M. Ginting (45) salah satu warga Desa Batu jalan-deliserdang-2Gemuk (Kecamatan Namorambe) ketika ditemui oleh Sora Sirulo [Minggu 27/11].

Menurut Ginting, gotongroyong ini dilakukan serta merta karena adanya dukungan dari tokoh masyarakat Deliserdang Mion Tarigan SE yang menggerakan 12 kepala desa dan seluruh masyarakat untung melakukan gotongroyong.

“Dengan bergotongroyong memang upaya terakhir dilakukan masyarakat untuk memperbaiki jalan rusak ini. Soalnya, Bupati Deliserdang Ashari Tambunan sepertinya kurang peduli dengan nasib dan keluhan rakyatnya. Untung saja Pak Mion Tarigan SE mau membantu masyarakat,” kata anak tokoh pejuang ini lagi.

Hal serupa juga dibenarkan Pak Barus, warga lainya. Bahkan menurut Barus dan juga dibenarkan warga lainnya, mereka sudah berulangkali mengajukan usulan agar jalan tersebut segera diperbaiki.

“Sudah lama kami ajukan protes karena daerah kami kurang tersentuh pembangunan. Tapi sampai sekarang tidak ditanggapi. Kami seperti anak tiri di Kabupaten Deliserdang ini,” beber pak Barus kesal apalagi kalau dia mengingat warga Suku Karo adalah penduduk asli di Deliserdang Hulu, bukan pendatang, bahkan bupatinya yang suku pendatang.




Lanjut dikatakan, selaku masyarakat, kami juga turut menyesalkan kinerja anggota DPRD Deliserdang terutama yang telah terpilih mewakili rakyat dari Daerah Pemilihan 6 (Namorambe, Biru-biru, Pancurbatu, Sibolangit, Delitua dan Kutalimbaru) yang dituding tidak peduli dengan nasib warga yang telah mengangkatnya menjadi anggota dewan.

“Begitu terpilih, yang katanya wakil rakyat itu hanya mementingkan dirinya sendiri. Lebih parahnya lagi, seorang oknum anggota dewan DPRD Deliserdang pernah menjadikan jalan ini menjadi pelintasan truk untuk mengangkut bahan material dari usaha Galian C miliknya,” tambah warga lainya.

Foto-foto: Warga yang berdomisili di 12 desa melakukan gotongroyong meperbaiki jalan rusak.




Leave a Reply