Kolom M.U. Ginting: FIDEL CASTRO DAN KONSEP KIRI

0
134

fidel-castro



M.U. GintingFidel Castro adalah salah satu diantara orang-orang besar gerakan kiri di era perang dingin. Di Amerika Latin setelah Castro ialah Che Gevara. Istilah ‘kiri’ telah dimulai pada Revolusi Perancis 1789-1799, melawan Feodalisme. Yang duduk sebelah kiri raja di sidang ‘legislatif’ menginginkan dihapusnya kerajaan diganti dengan republik. Yang duduk sebelah kanan raja, pengikut raja dan sistemnya.

Kontradiksi pokok di masyarakat pada tingkat itu ditentukan oleh perjuangan yang ada antara dua kelas bertentangan dalam sistem produksi yang sedang berlaku yaitu antara kelas feodal pemilik tanah dengan hamba/ buruh tani.

Munculnya sistem produksi baru (kapitalisme) bikin pengertian kiri dan kanan menyesuaikan diri dengan kontradiksi pokok yang baru ini pula (antara kelas pekerja kontra kelas pemilik kapital) artinya yang memihak kelas pekerja jadi ‘kiri’ dan sebaliknya jadi ‘kanan’.

Gerakan kiri pada Abad 21 tidak berkembang lagi, karena gerakan kiri dunia sudah melewati puncaknya ketika menjelang dan akhir pertengahan ke dua abad lalu, setelah gerakan revolusi kemerdekaan di banyak negeri berhasil seperti Rusia, China, Cuba, dll. Dengan menghilangnya gerakan kiri ini, terlihat juga bisa dikatakan bahwa Castro adalah orangnya yang terakhir dalam gerakan kiri sesungguhnya sebagai perwakilan gerakan kiri abad lalu. Sebelumnya ialah Mao Tse Tung.

kiri-kanan

Tidak ada lagi pertumbuhan dan perkembangan gerakan kiri dunia, Castro adalah yang terakhir. Pemimpin kiri lainnya yang masih tersisa seperti dalam partai-patai sosialis dan sosial demokrat apalagi partai komunis yang masih ada, seperti di Rusia maupun di China atau Korut, bukan lagi mewakili kiri ‘asli’. Kiri sudah mulai lenyap, dan negara yang mereka pimpin sekarang bukan negara sosialis atau komunis seperti prinsip semula. Kalau mereka ini masih ingin membesarkan gerakannya (lebih tepat gerakan pribadinya) orangnya harus berubah mengikuti perkembangan baru yang alamiah itu, gerakan nasionalis kultural orang kanan baru. Di sini masih ada ‘lowongan’ bagi orang-orang ini.




Apa yang sangat menarik dan luar biasa belakangan ialah adanya gerombolan/ kelompok yang memanfaatkan perpecahan kiri dan kanan ini. Semakin jelas terlihat dan diketahui banyak orang pada Abad 21. Bahwa kontradiksi antara kelas-kelas dalam tiap periode sejarah perubahan dan perkembangan cara produksi atau hubungan produksi adalah alamiah, semua bisa memahaminya. Tetapi, bahwa ada yang memanfaatkan kontradiksi alamiah ini untuk kepentingan ‘lain’, belum banyak yang mengetahui, tetapi semakin banyak diketahui dan dipelajari pada abad KETERBUKAAN, Abad 21.

Salah satu contoh yang sangat jelas dan gampang dimengerti ialah memanfaatkan kontradiksi kiri dan kanan di Indonesia 1965. Siapa yang mamanfaatkan, bagaimana, dan untuk apa, sudah bukan lagi rahasia sekarang. Untuk mengetahui ini dibutuhkan hanya buka internet dan baca pakai Google. Tidak mungkin lagi ada yang digelapkan dalam era keterbukaan.


[one_fourth]gerakan nasionalis kultural (kanan baru)[/one_fourth]

Keterbukaan dan Partisipasi Publik, telah membuka halaman baru bagi gerakan ini juga, atau gerakan Divide and Conquer (The Globalist Pathway to New World Order Tyranny) yang sekarang sudah dalam tingkat menuju antitesis dialektika Hegel tesis-antitesis-syntesis. Perubahan ini belum pada tingkat syntesis seperti dalam kontradiksi kiri kontra kanan itu yang sudah menuju syntesis baru yaitu gerakan nasionalis kultural atau disebut juga dengan gerakan kanan baru. Karena gerakan Divide and Conquer (DC) ini berperan juga sebagai katalisator dalam kontradiksi pokok kiri dan kanan, maka secara prinsip DC ini akan hilang bersamaan dengan syntesis baru kontradiksi kiri dan kanan yaitu gerakan nasionalis kultural (kanan baru).

Gerakan nasionalis kultural yang semakin bermunculan sekarang di Inonesia, juga tidak terelakkan akan merupakan akhir juga bagi gerakan DC itu. Gerakan Demo 411 maupun lanjutannya Demo 212 adalah bagian yang tidak terpiahkan dari DC. Ini dikonfirmasi oleh pernyataan Kapolri soal adanya usaha terselubung (makar) dalam erakan 212, dan adanya pernyataan tegas dari Panglima TNI soal negara-negara yang mendanai terorisme di Indonesia a.l. Australia, Malaysia dan Brunei. 

Pengetahuan sosial-politik bangsa Indonesia yang sudah relatif sangat tinggi membikin gerakan makar DC kali ini (2016) bisa dicegah, dan kita terhindar dari gerakan saling bunuh atau teror pembunuhan 3 juta orang seperti 1965. Pengetahuan bisa mencegah perang dan menghindari adu domba saling bunuh dari orang luar DC itu.





Leave a Reply