Kolom M.U. Ginting: POSTULAT MACHIAVELLI

1
149

perang-saudara



M.U. GintingTaktik dan strategi divide and conquer memang diotaki oleh orang-orang Machiavelli, bikin perpecahan dan mengadu domba adalah AXIOMA atau semacam POSTULAT yang sudah standard, atau sudah mendarah daging di kepalanya, yaitu: Untuk mencapai tujuan dalam hidup hanya bisa dituntaskan dengan adu domba, jika mungkin dengan bunuh-bunuhan besar-besaran di kalangan sasaran yang mau dituju.

Logikanya sangat terang, kekuatan yang ditantang dalam mencapai cita-cita itu menjadi minimal atau bahkan tak perlu keluarkan tenaga sama sekali. Lawan saling menghabisi dirinya dan saling bunuh. Diri sendiri tak perlu keluarkan energi. Ini bisa dilaksanakan dengan biaya ‘sedikit’ seperti biaya terorisme dari beberapa negara itu, seperti biaya Teror Thamrin, atau biaya Demo 411 yang masih dalam penyelidikan.  

Dalam soal menghadapi orang-orang dengan Postulat Machiavelli ini tidak bisa pakai pepatah kuno ‘sikuningen radu megersing‘, atau win-win solution secara modern internasional, yang jelas hanya bisa berlaku sesama manusia yang bertujuan baik dan jujur. Orang-orang Postulat Machiavelli bukan orang jujur tetapi orang jahat dan bertujuan jahat.  

perang-saudara-2Apa yang masih perlu disebarkan di kalangan publik negeri ini ialah bahwa usaha divide and conquer ini datang dari luar dan mereka pakai Postulat Machiavelli, artinya orang-orang jahat. Modus operandinya pecah belah dan suruh bunuh-bunuhan. Saya garis bawahi lagi: DATANG DARI LUAR  DAN ORANG JAHAT.

Inilah Pedoman Dasar bagi seluruh rakyat Indonesia, dalam menghadapi usaha divide and conquer. Karena itu Jangan ada ILUSI MUSYAWARAH atau ILUSI KOMPROMI dengan orang-orang ini, jangan menjaga sopan santun sama Orang-orang Machiawelli ini.

Saya mengingatkan PEDOMAN DASAR ini bagi Indonesia karena kita sekarang menghadapi persoalannya secara langsung dalam kontradiksi/ gesekan ‘Ahok-agama’. Tetapi, pedoman dasar ini juga mestinya belaku bagi rakyat seluruh dunia, di  tiap negara dunia yang masih mempertahankan PC (political correctness) sebagai alat tutup mulut dari  pihak The Establishment (PCE) maupun PC dari pihak Agamais (PCA) seperti di Saudi Arab.




PCE  dan PCA adalah alat untuk menutup mulut orang lain. Karena PCE dan PCA, disodorkan oleh orang-orang Postulat Machiavelli, alias orang JAHAT maka harus dihadapi dengan ketegasan tanpa kompromi apalagi musyawarah. Yang lainnya yang tak kalah pentingnya juga ialah bahwa KETEGASAN itu tak henti-hentinya harus diikuti oleh PENCERAHAN sejauh mungkin bagi publik dalam soal divide and conquer ini. Dengan pengetahuan yang luas dan mendalam soal divide and conquer di kalangan publik, kekuatan makar dan pecah belah orang luar ini tidak akan bisa menang. Publik dan Rakyat yang berpengetahuan cukup tinggi tidak bisa dikalahkan oleh kekuatan apapun.

Pengetahuan yang lebih tinggi di kalangan orang-orang divide and conquer selama abad lalu dibandingkan dengan pengetahuan rakyat banyak pada umumnya, itulah yang sudah berhasil memenangkan mereka di seluruh dunia menjarah SDAnya secara gratis, termasuk di Indonesis 1965. Sekiranya publik Indonesia sudah punya pengetahuan seperti tingkat sekarang ini, tak mungkin terjadi Teror 1965 dengan penjarahan SDAnya secara besar-besaran begitu.

1 COMMENT

Leave a Reply