Kolom M.U. Ginting: COGNITIVE DISSONANCE

1
166





M.U. GintingSatu soal lagi yang harus dicerahkan kepada semua orang dalam menghadapi divide and conquer ialah soal psikologis Cognitive Dissonance. Ini sering mnjadi penghalang bagi kita untuk mengetahui lebih banyak. Dia menjadi penghalang kita menuju pengetahuan. Karena itu,  Cognitive Dissonance perlu dihilangkan dari kepala kita.

Cognitive Dissonance ialah kesedaran dalam otak kita, atau dalam jiwa kita, sebagai manusia yang tidak menyukai atau selalu berusaha menghindarkan adanya hal-hal yang bertentangan atau yang kontradiktif dalam diri kita dan sekitar kita. Keinginan keharmonisan yang berlebihan (Dalam bahasa gamblangnya dapat dikatakan enggan bertentangan, red.)

Contohnya adalah kalau sungkan untuk beranggapan kalau yang mau bikin makar itu adalah orang jahat Machiawelli. Sifat atau watak kemanusiaan itu selalu cenderung baik dan jujur, mengutamakan keharmonisan, tidak ingin melihat atau menerima sebaliknya, kontradiksi, pertentangan atau konflik.

kontradiksi-1Padahal, dalam kemanusiaan juga, yang jahat dan tidak manusiawi ada dan selalu ada. Selalu ada yang lahir ke dunia ini sebagai Machiawelli, orang-orang yang selalu mencapai tujuannya dengan kejahatan dan yang sering tidak tanggung-tanggung pula.

Cognitive Dissonance yang mendominasi kepala kita jadi penghalang untuk mengetahui soal-soal kelahiran Machiawelli. Mengawasi, mewaspadai dan mempelajari orang-orang ini dan menentangnya, bukan berarti kita tidak manusiawi.

Hilangkan cognitive dissonance supaya bisa belajar lebih jauh tentang kontradiksi, pengetahuan tentang sesama manusia dalam perjuangan hidup. Hidup yang hidup ialah kehidupan dalam kontradiksi dan perjuangan.

Menghilangkan cognitive dissonance adalah juga kontradiksi dan perjuangan, tetapi hidup dan lebih hidup . . .  




1 COMMENT

Leave a Reply