ahmad-dhani
Foto: Indo Warta



Asaaro LahaguPenangkapan Ahmad Dhani bersama 9 temannya merupakan langkah berani polisi. Selama ini Ahmad Dhani terkesan sebagai orang yang sulit disentuh alias the unctouchable person. Berbagai kicauan, pernyataan dan orasi Ahmad Dhani terlihat sangat berani menyerang Jokowi apalagi Ahok di DKI. Tingkah Ahamd Dhani soal hasut-menghasut semakin menjadi-jadi dan keterlaluan.

Maka, penangkapan Ahamad Dhani yang selanjutnya disingkat AD [Jumat 2/12: Pagi], lalu ditetapkan sebagai tersangka, merupakan tindakan tegas aparat. Harapan publik yang menginginkan tindakan tegas kepada AD akhirnya terwujud. Publik bersorak ketika AD akhirnya tak mampu memberikan perlawanan seperti yang digembar-gemborkannya sebelumnya bila ia ditetapkan sebagai tersangka. AD bertekuk lutut di tangan polisi. Ia kemudian menjadi pecundang.

Selama 2 tahun terakhir ini, AD dikenal gigih dan menghabiskan energinya melawan Jokowi. AD secara membabi buta menyerang Jokowi dari berbagai kesempatan. AD sama sekali terlihat sulit move on dan masih menyimpan dendam kepada Jokowi. Jika AD mendapat kesempatan, maka ia tak segan-segan menyerang Jokowi.

Dari berbagai kicauannya di Twitter, sebetulnya tidak ditemukan alasan mendasar mengapa AD terus menerus melawan Jokowi yang sudah menjadi Presiden RI yang sah di republik ini. Hanya ada 2 alasan yang diketahui publik sementara ini. Pertama, AD adalah pendukung Prabowo pada Pilpres tahun 2014 lalu dan masih sulit move on. Ke dua, sebagai seorang artis yang sudah berumur 40-an, ketenaran AD di belantika musik Indonesia semakin menurun. Untuk mengerek kembali ketenarannya, maka ia berposisi sebagai antitesa kepada Jokowi meniru Jonru Ginting.


Mendengar kicauan atau pernyataan langsung  AD, kadang membuat kuping masyarakat merah-ungu. Sebut saja kicauannya di Twitter pada Tahun 2014. AD rela memotong kemaluannya jika Jokowi Presiden. Segila itukah taruhannya? Saat ia kampanye mengajak dukungan kepada Prabowo, AD mengatakan bahwa dia memilih Prabowo karena jantan, TNI dan pemberani. Publik pun menafsirkan pernyataan AD itu bahwa ia tidak memilih Jokowi karena tidak jantan, bukan TNI dan penakut.

Perlawanan AD terhadap Jokowi tidak berhenti. Memanfaatkan panggung demo 4 November 2016 lalu, AD menghina Jokowi dengan menyebut nama binatang. Saat ia dipanggil oleh kepolisian terkait hinaan itu, AD mangkir. Publikpun paham watak AD yang bercampur takut dan setengah berani, ketika ia mengadu ke Fadli Zon. Merasa sebagai orang kuat, AD berani melontarkan pernyataan bahwa kalau ia ditetapkan tersangka oleh polisi, ia akan melakukan perlawanan. Sampai akhir November 2016, AD masih disebut the untouchable person. Tetapi hari ini [Jumat 2/12] sematan itu, the untouchable person, lengser sudah.

ratna-sarumpaet
Ratna Sarumpaet

Saat demo Aksi Bela Islam I dan II, AD terlihat jeli dan lihai memanfaatkan situasi. Tak heran jika gerak-gerik AD selama beberapa minggu terakhir ini sangat beralasan untuk diawasi oleh polisi. Mengapa? Orang ini memang sangat berbahaya karena ia dan teman-temannya termasuk Ratna Sarumpaet bisa memanfaatkan situasi. AD yang terkenal sangat gigih melawan Ahok ini, bisa dengan mudah memancing di air keruh. Mereka sangat mudah memprovokasi keadaan dan mengambil keuntungan di sana. AD bisa menunggangi dengan baik gerakan demo untuk ikut berbuat makar.

Selama ini polisi sudah mencium berbagai gelagat AD. Namun  polisi tidak mudah menangkap AD apalagi menetapkannya sebagai tersangka. Mengapa? Karena jika polisi menangkap AD pada momen yang salah, bisa-bisa membuat situasi menjadi lebih buruk. Selama ini polisi terlihat sabar, menahan diri  dan menunggu saat yang tepat untuk membidik AD dan teman-temannya. Mengapa?

Sebetulnya AD bukanlah siapa-siapa di belantika politik di republik ini. AD hanya dikenal sebagai musisi papan atas yang bercerai dengan wanita cantik Maia. Tidak lebih dari itu. Namun karena banyak partai yang mendompleng pada ketenarannya, maka AD mendapat bekingan dari beberapa pihak. Sebut saja misalnya, Prabowo. Pada Pilpres 2014 lalu, AD dikenal sebagai pendukung membabi buta Prabowo yang rela memotong kemaluannya jika Jokowi menjadi Presiden. Namun tidak jadi memotong karena sayang kalau dipotong.

Pertemuan 2 kali Presiden Jokowi dengan Prabowo, pemuka agama, konsolidasi kekuatan dengan TNI-Polri dan para ketua partai, membuat posisi Jokowi aman dari beberapa serangan. Ketika Demo 212 mampu diubah oleh Jokowi dan Tito menjadi demo super damai, maka pihak intelijen Polri melihat kesempatan emas untuk membekuk AD dan teman-temannya. Maka saat Demo Super Damai 212, momen buruk terjadi pada diri AD. Jelas polisi mempunyai bukti-bukti yang valid untuk menjerat AD dan kawan-kawan yang diduga berbuat makar.




Penetapan AD sebagai tersangka oleh polisi, memang sudah bisa diduga sebelumnya. Pasca Bareskrim Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka penistaan agama, maka publik melihat bahwa polisi juga akan berani menetapkan para pembuat onar lainnya sebagai tersangka. Sebut saja misalnya Buni Yani, 4 orang aktivis HMI sudah menjadi tersangka dan hari ini Ahmad Dhani dan teman-temannya menjadi tersangka. Ke depan Polisi akan semakin berani bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang mencoba merongrong NKRI termasuk kepada penggagas Lebaran Kuda.

Jika Jokowi dan Tito secara tegas membiarkan proses hukum terhadap Ahok berjalan transparan, maka hal yang sama berlaku juga kepada pihak-pihak yang ingin melakukan tindakan makar, termasuk kepada AD. AD memang harus diberi pelajaran karena segala kicauan, pernyataan dan orasinya di berbagai kesempatan bernada menghasut termasuk rasis kepada Ahok sendiri. Tentu saja, penangkapan AD adalah langkah awal polisi untuk membidik para aktor politik yang lain yang juga ingin melakukan makar.

Selamat kepada Presiden Jokowi dan Kapolri Tito Karnavian yang sudah mulai unjuk ketegasan.




Leave a Reply