Kolom W. Wisnu Aji: SARI ROTI SIMBOLISASI RASA KEJUJURAN

0
193





Ketika di media sosial berseliweran info hoax, tiba-tiba kemarin publik dikejutkan dengan informasi klarifikasi dari Sari Roti. Semuanya terhenyak menyikapi hal tersebut yang telah menjungkirbalikkan selebrasi dramatisasi heroiknya Bela Islam. Bahkan sari roti punya andil pujian terhadap dramatisasi tersebut. Klarifikasi sari roti bukti simbol rasa kejujuran masih ada energinya di negeri ini.

Kalau kita flashback dinamika dramatisasi Bela Islam, memang begitu heroiknya Bela Islam bikin netizen terhanyut suasananya. Bukannya bermaksud untuk membuka celah kondisi sebenarnya heroik Bela Islam, tapi kita akan mencoba mendudukkan secara proporsional kondisi seutuhnya Bela Islam.

Setting dramatisasi Bela Islam dimulai dari langkah penuh heroik santri Ciamis datang ke Jakarta dengan jalan kaki, hingga respon netizen begitu menggebu untuk menjadi viral semangat menghimpun massa besar di Monas. Bahkan langkah setting dramatis tersebut menjadi embrio bergeraknya massa dari berbagai daerah yang menjadi kantung potensial mereka seperti Sumatra Barat, Kalimantan, dsb. yang merupakan kantung tradisional dalam menghimpun massa.

Sehingga Bela Islam dianggap berhasil menghimpun massa besar di Monas. Terlepas jumlah massa yang pasti di sana dari berbagai klaim yang berkembang di media sosial, maka perhimpunan massa Bela Islam III dengan tema Doa Untuk Bangsa patut diapresiasi dan disyukuri.

Namun, tiba-tiba publik dikejutkan dengan adanya klarifikasi dari Sari Roti yang ingin menjelaskan ke publik makna gratis dari Sari Roti yang ada di Monas. Suasana tersebut membalikkan suasana emosional netizen yang awalnya memuji Sari Roti menjadi membenci karena kejujurannya.

Kami tidak ingin masuk pada makna kepentingan di balik klarifikasi Sari Roti tapi lebih tertarik pada simbolisasi rasa kejujuran di balik peristiwa tersebut. Kejujuran menjadi barang langka di media sosial karena di dunia tidak bertuan tersebut seolah-olah kejujuran hanya mitos dalam berkomunikasi di media sosial. Interaksi selama ini lebih mengarah pada info viral tentang hoax, ujaran kebencian, hasutan bahkan provokasi pembusukan.

Maka ketika Sari Roti dengan jujur mengungkapkan keutuhan cerita di balik makna gratis, maka Sari Roti mewakili simbolisasi rasa kejujuran yang mulai ditinggalkan.

Kejujuran Sari Roti menjadi hikmah berharga bagi netizen dalam memaknai peristiwa. Walaupun pasca kejadian tersebut terimbas pada rasa emosional netizen terhadap Sari Roti hingga munculnya desakan boikot produk Sari Roti bahkan hingga berpengaruh pada turunnya saham Sari Roti.

Tapi, betapapun mahal resikonya memaknai kejujuran di negeri ini, langkah klarifikasi Sari Roti patut diapresiasi sebagai wujud keterbukaan dalam menjalankan usaha yang sudah menjadi milik publik. Prinsip kejujuran harus terus dipegang dan ditanamkan dalam kegiatan apapun, sehingga tidak muncul sakwasangka dalam menyikapi peristiwa.

Terlepas hiruk pikuknya respon netizen pada Sari Roti, mari kita sikapi pemaknaan simbolisasi rasa kejujuran dengan pikiran jernih.




Pertimbangkanlah dampak buruknya jika sikap emosional dengan boikot produk Sari Roti. Karena Sari Roti juga punya andil memberikan nafkah bagi banyak orang terutama dari mulai pedagang roti keliling, buruh produksi hingga karyawan serta agen distributor Sari Roti di seluruh penjuru Tanah Air.

Jika sikap emosional diteruskan maka keluarga yang menggantungkan nasib dari para pekerja yang bekerja di Sari Roti maka nasib mereka dipertaruhkan.

Bela islam bertujuan untuk kemaslahatan umat sesuai gambaran dramatisasi tapi kalau sikap orang-orangnya tidak mencerminkan nilai agama maka gerakan tersebut dipertanyakan. Untuk itu, berfikirlah jernih dalam bersikap di media sosial. Salah merespon dalam sebuah peristiwa maka nasib orang lain terdampak oleh ulah kalian… jadi, renungkanlah.

#SalamPencerahan

Dipublikasikan oleh :
CENTER STUDY REPUBLIC ENLIGHTMENT FOR PROGESSIF MOVEMENT (CS REFORM)

Leave a Reply