Pendiri bangsa . . .  pejuang kemerdekaan nation Indonesia ini, yang sudah dengan suka rela mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan, demi harapan membahagiakan bangsa ini lepas dari penindasan kolonial. Nation yang Bhinneka Tunggal Ika ini disatukan dalam perjuangan bersama oleh pendiri bangsa. Kita tinggal menikmati . . .  mestinya . . .  dan membangun apa yang kita bisa, di atas puing-puing 350 tahun kolonial itu.

Untuk menguasai nation ini selama penjajahan itu, pemerintah kolonial harus bikin pecah belah, dan kuasai, dan ambil hasil SDAnya, tebang hutannya dan tanam, tembakau, karet, apa saja untuk kepentingan kolonial dan kebutuhan militer kolonial. Pendiri bangsa ini menyatukan kekuatan nasional, segala suku, segala agama, semua daerah, dan berhasil mengusir penjajah dan merdeka 1945. 

Tidak hanya ketika kita berjuang melawan kolonial itu, tetapi leluhur kita memang bahkan jauh sebelum kolonial datang, sudah terbiasa punya tradisi mulia. Kedamaian dan hidup berdampingan secara damai sudah ada ribuan tahun. Terbukti juga ketika berbagai agama datang masuk ke Indonesia. Agama dari Barat maupun dari Timur (Hindu, Budha, Islam, Protestan, Katolik), semua diterima dengan senang hati dan bisa hidup bersama; termasuk dengan semua agama asli yang sudah ada di seluruh negeri. Sampai kita merdeka dan berdiri sendiri 1945.

Setelah merdeka, datang kembali kekuatan pemecah belah itu. Rasanya tidak pernah berhenti, sampai detik ini, seperti dalam bentrokan Demo 411, atau peristiwa tanggal 6/12 pesta Natalan di Bandung yang dibubarkan oleh satu Ormas tertentu.

“Massa merangsek masuk ke ruang auditorium dan membubarkan jemaat yang sedang menyanyikan kidung di atas panggung,” dimana setelah itu  anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Diah Pitaloka mengingatkan pesan pendiri bangsa.

“Persatuan dan kekompakan adalah modal dasar supaya kita tidak tertinggal dari negara-negara tetangga,” katanya sebagaimana dirilis Merdeka.com [Rabu 7/12].

Ke mana persatuan dan solidaritas sesama kita, yang pernah ada dan begitu kuat ketika kita berjuang mengusir penjajah, maupun tradisi mulia leluhur kita yang sudah ratusan tahun itu?




Heran juga memang, atau tidak perlu heran . . .  marilah kita saling hantam saja sepanjang masa, dan hidup dalam pertengkaran dan saling mematikan terus menerus selama kita masih hidup. Juga jangan lupa mengajarkan kepada anak-anak kita, generasi berikutnya untuk melanjutkan hidup saling menghancurkan di kalangan berbeda agama atau suku atau ras, atau perbedaan apa saja yang bisa dijadikan pertengkaran dan saling bunuh.

Betul memang, nasihat itulah yang benar dan tepat jadi pedoman hidup kita di negeri ini. Mulailah dari sekarang!

Dari segi lain, apalah artinya kalau saya bilang pedoman/ nasihat itu tidak benar kalau kenyataannya benar?! Apalah artinya kita ramai-ramai mengingatkan nasihat bagus ‘pesan pendiri bangsa’ kalau dalam kenyataan yang diingat dan dijalankan ialah sebaliknya; perpecahan dan konflik kekerasan terhadap yang berbeda agama, suku atau ras?

Mungkinkah kita memikirkan cara/ pedoman lain?





Leave a Reply