Kolom Asaaro Lahagu: Tangisan Ahok, Tangisan Kepada Jokowi?

0
161
Foto: Merdeka.com



Ahok menangis. Dua kata ini mengguncang dunia nyata dan dunia maya Tanah Air sampai saat ini. Oleh karena banyak menyedot perhatian netizen, saya pun tertarik untuk mengulasnya. Dari seluruh komentar, tafsiran, yang hingar-bingar di sosial media, maka arti tangisan Ahok dapat digolongkan menjadi dua sudut, yakni pendukung dan lawan Ahok.

Pertama, dari sudut pandang pendukung. Ahok menangis karena ia sudah tidak tahan tekanan demo, ia tidak kuat diserang habis-habisan. Ahok menangis karena ia ingat ibu angkatnya yang sudah tiada. Ahok menangis karena ia kembali mengingat kisah nyata kedua orangtua angkatnya yang muslim yang sangat sayang kepadanya. Ahok menangis karena kebaikannya terhadap kaum muslim dibalas dengan tuduhan menista agama.

Ke dua, dari sudut pandang lawan. Tangisan Ahok adalah tangisan air mata buaya, tangisan palsu untuk mendapatkan simpati. Tangisan Ahok adalah tangisan permintaan kepada hakim agar berbelas kasihan kepadanya. Tangisan Ahok adalah hukum karma sebagai balasan saat orang yang digusurnya menangis, orang yang dipecatnya menangis, orang yang dimarahinya menangis. Tangisan Ahok adalah tangisan kesadaran karena ia telah menista agama. Tangisan Ahok adalah tangisan kehilangan jabatan sebagai gubernur dan kemungkinan ia dipenjara.

Arti tangisan Ahok dari kedua sudut pandang di atas sah-sah saja. Tidak ada yang salah. Orang bebas menafsirkan arti tangisan Ahok itu. Pun ketika Ahok menangis, ada banyak yang ikut menangis, itu juga hal normal. Atau ketika Ahok menangis, ada pihak yang muntah seraya mengejek bahwa itu air mata buaya. Monggo, beda tafsiran adalah hal yang lumrah. Akan tetapi sadarkah kita bahwa tangisan Ahok bukan hanya sekedar tangisan dari sudut pandang di atas?

Ahok menangis karena ia menangisi nalar kita. Ahok menangisi pemahaman agama kita yang jauh tertinggal dari orang  Barat. Ketika Barat sudah sibuk memperdalam rasa kemanusiaan, hak azasi manusia, persamaan derajat dan persamaan hak politik (seorang muslim bisa menjadi Walikota London), justru kita sibuk membagi kita dalam kotak kafir dan non kafir, masuk surga dan neraka. Padahal kepastian masuk surga itu adalah kepastian subyektif, karena tidak seorang pun manusia pernah ke sana dan kembali ke bumi.

Dari kata kafir, lahirlah pemahaman bahwa darah kaum kafir halal. Kaum kafir pasti masuk neraka. Gila, Ibu Theresa dari Kalkuta, masuk neraka? Kaum kafir tidak boleh menjadi pemimpin di negeri ini. Akibatnya putera bangsa terbaik yang pernah lahir di negeri ini sangat sulit menjadi pemimpin. Itulah yang ditulis Ahok dalam bukunya: “Berlindung di Balik Ayat Suci”.

Ahok menangis karena nalar kita setelah merdeka 71 tahun, masih bermental jajahan. Kita masih bergelut dengan kemiskinan, ketamakan, korupsi, kesemrawutan dan kebodohan. Jika kita berjalan-jalan di seluruh wilayah di tanah air, kita akan menyaksikan tempat ibadah di mana-mana. Mesjid dan Gereja bertebaran di mana-mana. Praktek ibadah keagamaan sangat mudah dilihat setiap hari. Kita terlihat seperti orang suci yang mengutamakan akhlak, akhlak, akhlak (AA Gym) dan bukan kerja, kerja, kerja (Jokowi).

Seharusnya ketika praktek keagamaan sangat kental setiap hari, moral kita setara dengan Singapura, Jepang dan Korea Selatan. Namun mengapa berbagai kasus kejahatan sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari? Kasus-kasus korupsi, pencurian, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan menjadi santapan berita kita sehari-hari. Ini terjadi karena pemimpin hanya mau memikirkan dirinya sendiri. Pemimpin hanya cerdas bermuka manis, munafik dan berpura-pura santun. Lihat duit, paha yang membelah, nafsu. Ahokpun menangis.


[one_fourth]nalar kita sebagai bangsa yang terbalik-balik[/one_fourth]

Ketika Ahok meniru  Che Quevara, memperjuangkan keadilan sosial, bertindak seperti Soekarno yang terbakar merevolusi bangsanya, mengambil spirit Lee Kuan Yew yang garang  memberantas korupsi, mencontoh Fidel Castro yang menentang mental penjajah dan jajahan, justru Ahok ditentang habis-habisan. Ahok menangisi nalar kita sebagai bangsa yang terbalik-balik. Ahok menangisi nalar kita yang mudah diadu domba dan sibuk bertengkar sendiri.

Di Jakarta selama berpuluh tahun, orang terus menerus mengutuki banjir, kemacetan, kesemrawutan, sweeping ormas yang sewenang-wenang, birokrasi yang berbelit-belit. Namun, ketika ada orang yang mampu dan sudah mulai mengatasi semua itu, justru ditentang dan dicari cara untuk menghentikannya. Ahok menangisi nalar bangsanya, ketika agama digoreng, ditumis, dicincang, digulai dengan adonan bumbu kacang politik. Nalar menjadi tumpul, otot membengkak, kolesterol tinggi, masuk ICU di rumah sakit.

Tangisan Ahok adalah tangisan masa depan yang suram. Saat Ahok cuti dari jabatan gubernur, birokrasi DKI Jakarta yang belum selesai ditata kembali ke zaman bahelo. Pelayanan di kantor-kantor Pemrov DKI turun drastis. Anda bisa buktikan sendiri sekarang. Plt. Gubernur Sumarsono dengan gigih memporak-porandakan APBD DKI Jakarta 2017. Ia berlagak sebagai gubernur benaran tanpa susah payah. DPRD pun mulai bersorak, anggaran siluman triliunan siap diembat, dibegal. Proyek fiktif di Pemrov siap menggelegar kembali.




Tangisan Ahok adalah tangisan yang ditujukan kepada revolusi mental Jokowi. Ketika Ahok terjungkal di DKI Jakarta, kerja sama pusat-ibu kota negara menjadi tersendat, terjegal oleh bau kentut politik Piplres 2019 mendatang. Duet maut Jokowi di pusat, Ahok di ibu kota tinggal kenangan. Dipastikan jika Agus ataupun Anis di DKI, program Jokowi yang belum selesai saat gubernur, akan dilukis dengan indah oleh Anis  di dinding tembok atau dikonversi menjadi uang satu milliard oleh Agus.

Maka ketika Ahok menangis, sebenarnya ia juga menangis kepada Jokowi. Cita-cita kedua putera bangsa ini untuk memajukan Indonesia setara dengan Singapura, membuat Jakarta sebagai the world class city, kini di ujung tanduk. Ibu kota terancam kembali dikuasai oleh para singa, harimau, serigala berbulu domba. Jakarta ke depan akan kembali ke habitatnya sebagai kota rimba seperti yang diakui sendiri oleh Sutiyoso.

Akankah tangisan Ahok berubah menjadi sorakan di pengadilan? Akankah Jokowi dengan diam-diam mengubah air mata Ahok itu demi Jakarta, demi Indonesia? Mari kita tunggu sidang-sidang Ahok selanjutnya.

Leave a Reply