Kolom Asaaro Lahagu: Daya Juang Ahok Teruji, Elektabilitas Kembali Tertinggi

0
176
Foto: TheJakartaPost



Walau disenggol, ditanduk, diserempet  kiri-kanan, Ahok terus melaju. Baginya, garis finis adalah Hari H Pilkada 15 Februari 2017 mendatang. Sebelum mencapai garis finis, Ahok terlihat ngotot, terus berjuang, ulet, tabah, fokus dan terus berusaha. Mantap. Hasilnya elektabilitasnya naik setelah anjilok dan terjun bebas pada bulan sebelumnya.

Survey LSI yang dirilis 15 Desember 2016, menyatakan eletabilitas Ahok kembali mencapai 31,8%. Ia mengungguli Pasangan Agus-Sylvi yang mulai turun pada angka 26,5% dan  Anies-Sandi yang mendapat dukungan 23,9%. Walapun hasil survey LSI ini masih bersifat anomali, namun dari hasil survey itu, terkandung pesan tersembunyi nan kuat dari warga Jakarta.

Sejak 2 bulan lalu, jutaan rakyat Jakarta terus memantau Ahok. Mereka menyorot, mengamati dan memantau semua gerak-gerik Ahok. Apakah Ahok saat tersandung masalah mudah menyerah? Apakah Ahok adalah seorang pengecut? Apakah Ahok gampang lari dari masalah? Apakah Ahok gampang menyalahkan pihak lain saat lidahnya sendiri keseleo? Apakah Ahok akan melecehkan hukum saat ia berurusan dengan hukum?

Pertanyaan-pertanyaan itu telah dijawab oleh Ahok di depan jutaan warga Jakarta. Saat Ahok dianggap melakukan penistaan agama di Kepulauan Seribu 27 September 2016] lalu, Ahok langsung meminta maaf dengan tulus. Bukan hanya itu, pada setiap kesempatan, Ahok terus meminta maaf, meminta maaf dan meminta maaf. Jelas warga Jakarta diuji tingkat keimanannya jika tidak memaafkan Ahok. Kini, warga Jakarta sudah mulai memahami, mengerti kasus Ahok itu dan mulai memaafkannya.

Foto: NKRI Benteng

Saat Ahok dilabeli bermulut comberan, kasar, pongah, tak bisa menjaga mulutnya, kini jutaan warga Jakarta merasakan perubahan dalam diri Ahok. Ahok terlihat lebih santun, lebih halus, jaga mulut, jaga perilaku dan rendah hati. Perubahan itu mendapat simpati warga Jakarta. Ternyata Ahok bisa berubah. Walaupun sebetulnya banyak warga Jakarta menginginkan Ahok seperti dulu, meledak-ledak dan menyudutkan para koruptor hingga terkencing-kencing di celana. Saya sendiri rindu mulut Ahok. Karena dari mulutnya itu, banyak cerita dirangkai.

Saat Ahok dilaporkan ke polisi oleh lawan-lawannya, tak sekalipun Ahok menolak datang. Ia datang menjelaskan kasus Sumber Waras. Ia berkali-kali datang terkait kasus UPS-nya Lulung. Ahok datang menjelaskan pembelian lahan sendiri di Cengkareng kepada polisi. Gila, saat ia dilaporkan terkait kasus penistaan agama, belum dipanggil, Ahok sudah mendatangi Bareskrim Polri terlebih dahulu.

Bandingkan dengan warga negara lainnya saat dipanggil polisi. Amin Rais, Habib Rizieg, Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet dan kawan-kawan saat dipanggil oleh polisi terkait ucapan penghinaan Presiden oleh Ahmad Dhani, mereka tidak datang dengan alasan A sampai Z. Terakhir saat Eko Patrio, anggota DPR, diminta datang ke kantor polisi terkait ucapannya bom panci Bekasi sebagai pengalihan isu, ia menolak datang. Soal berurusan dengan Polisi, Ahoklah rajanya. Ia taat, ia datang, ia bukanlah pengecut. Masyarakat Jakarta menilai itu.

Saat Ahok diminta datang ke stasiun televisi swasta untuk diwawancarai dan adu argumen alias berdebat soal visi-misi Pilkada, Ahok datang. Ia datang berdebat. Ia mampu membeberkan program kerjanya baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilakukan. Ahok datang dengan visi kerja, bukti dan juga mampu berdebat sampai ke ujung kata.

Bandingkan misalnya dengan Agus yang dua kali absen saat debat. Agus dipandang melecehkan persatuan nama AGUS di seluruh Indonesia, karena  sudah dua kali tidak datang berdebat hehe. Mungkin orang mengatakan bahwa debat bukanlah segala-galanya tetapi bukti kerja yang penting. Emangnya kerja Agus sudah terbukti? Masyarakat Jakarta akan menilai itu.


[one_fourth]Luar biasa bukan?[/one_fourth]

Saat Ahok ditetapkan tersangka oleh Polisi, ia tidak menyalahkan polisi dan mengatakan bahwa ia dikriminalisasi. Bahkan, Ahok memuji polisi yang sudah bekerja keras mengusut kasusnya. Hebat bukan? Ahok juga tidak menempuh pra-peradilan seperti Buni Yani agar bebas dari sematan tersangka mencontoh Budi Gunawan. Akan tetapi Ahok menerima sematan tersangka dengan ikhlas dan meminta pendukungnya agar gelar tersangka itu diterima dengan ikhlas. Luar biasa bukan? Bandingkan dengan pejabat lain saat ditetapkan sebagai tersangka, mereka menyalahkan polisi, menyalahkan penguasa dan  menempatkan diri sebagai korban kriminalisasi, korban kezaliman, korban fitnah dan sebagainya.




Saat Ahok berkampanye dan dihadang sana-sini, Ahok tidak putus asa dan menyerah. Ahok puny ide brilian bersama para pendukungnya. Mereka mendirikan Rumah Lembang sebagai tempat kampanye. Hasilnya ratusan bahkan ribuan orang, datang ke Rumah Lembang setiap hari untuk mengadu atau menyatakan dukungan. Bandingkan dengan calon lain yang terus mendatangi pemilihnya. Ahok? Terbalik. Justru pemilihnya datang kepadanya. Jelas Ahok berdaya magis hehe.

Melihat Ahok yang tetap tegar walaupun berkali-kali didemo oleh ratusan bahkan jutaan orang yang sebetulnya kasusnya tak pantas masuk ke pengadilan, warga Jakarta mulai simpati kepadanya. Warga Jakarta sudah mulai sadar bahwa Ahok sebetulnya tidak menista agama. Hal itu terbukti pada saat demo, justru orang luar Jakarta yang berbondong-bondong datang.

Bila kemudian elektabilitas Ahok kembali naik, itu karena ia sudah teruji di hadapan warga Jakarta. Bila pada tanggal 15 Februari mendatang, Ahok menang satu putaran, maka itu juga tidak mengejutkan lagi. Mengapa? Karena Ahok adalah pemimpin yang sudah teruji, tahan banting, tahan ditabrak, tahan diserempet, tahan digencet. Inilah karakterisitk pemimpin yang dirindukan warga Jakarta. Warga Jakarta menginginkan pemimpin hebat yang tahan uji, tahan banting dan tahan godaan.

Begitulah kura-kura.




Leave a Reply