Kolom Telah Purba: Hubungan Khusus Tugu Monas dengan Kami Suku Karo

1
616





Di tengah hingar bingar masalah intoleransi yang berkembang saat ini, kembali saya tuliskan ulang kisah ini agar seluruh masyarakat Indonesia, khususnya dari Suku Karo, tahu dan sadar bahwa kepemilikan Nusantara ini adalah karena perjuangan seluruh lapisan masyarakat yang ada di sini dan bukanlah tanpa pengorbanan. Sudah sangat jelas Kemerdekaan Indonesia ditebus dengan darah, air mata dan nyawa.

Sangatlah banyak putra daerah Karo yang gugur dalam perjuangan merebut Kemerdekaan Indonesia. Saksi sejarahnya adalah Makam Pahlawan di Kota Kabanjahe.

Sesudah Kemerdekaan, maka dimulailah era menata dan membangun bangsa ini dan masih berjalan sampai hari ini. Pembangunan Tugu Monas adalah salah satu ide dan dirancang oleh Bapak Proklamator kita yakni Ir. Soekarno. Di era pembangunan Tugu Monas itu, dalam situasi Indonesia masih sangat tertatih-tatih, keadaan ekonomi bangsa kita dan negara belum punya banyak uang seperti saat sekarang ini. Pak Presiden saat itu harus mencari putra daerah dari seluruh Nusantara untuk berpartisipasi membantu negara.

Diundanglah salah seorang putra daerah Karo yang bernama Radja Oekoem Sembiring (sering dijuluki Pak RO Sembiring) ke Istana Negara. Secara terus terang Bapak Presiden Ir Soekarno meminta kepada seluruh rakyat Karo melalui Pak RO Sembiring agar membantu negara.

Perlu kita ketahui bahwa Pak RO Sembiring ini pada masa dahulu dikenal sebagai nasionalis sejati. Sebagai pengusaha bus terkenal PT Saudaranta yang pernah berkiprah di Jalan Kabanjahe–Medan dan juga Jakarta–Bogor serta bus kota Jakarta pada waktu itu dengan ciri khas warna cat hijau daun.

Karo sangat menyukai emas dan pandai emas Karo adalah terbaik di Asia Tenggara. Pemilik toko-toko emas di Sumatra Utara didominasi oleh orang-orang Karo; terutama di Medan, Binjai, Tebingtinggi, Siantar, Sidikalang, Kabanjahe dan Berastagi.

RO Sembiring juga tercatat pernah mendirikan Bank Tani Nasional dengan kantor pusat di Kota Kabanjahe dan juga mendirikan CV Maspersada. RO Sembiring melalui CV Maspersada inilah melaksanakan permintaan Pak Presiden Ir Soekarno, yakni meminta dan mengumpulkan sumbangan emas dari warga Suku Karo yang tinggal Tanah Karo kepada Negara.

Banyaklah terkumpul emas di Tanah Karo.

RO Sembiring sendiri pernah bercerita langsung kepada saya di Tahun 1983. Waktu itu, kami berbincang saat mendampingi beliau dalam perjalanan darat dari Jakarta ke Kabanjahe selama 7 hari 7 malam. Beliau waktu itu sudah uzur dan tiap sebentar harus beristirahat.

Ketika itu, PT Saudaranta hendak membuka trayek Jakarta Medan dan kami banyak singgah di beberapa kota. Menurut Pak RO Sembiring ada 3 kali sumbangan emas rakyat Karo yang pernah beliau antarkan langsung ke Presiden Ir Soekarno di Istana Negara. Dia menceritakan jumlah kilogramnya dari keseluruhan emas tersebut, namun dipastikan emas itu tidaklah sedikit.




Emas yang ada di puncak Tugu Monas itu adalah 62 kilogram. Sumbangan terbanyak dari daerah Aceh.

Kami berharap seluruh generasi muda Karo agar tahu jika kita dan mereka lihat kilaunya emas di puncak Tugu Monas itu mengerti di situlah salah satu bukti cinta warga Karo kepada Bangsa ini.

Sungguh aneh rasanya jika ada satu kelompok atau organisasi yang hendak menggangu dan mempersulit jika warga Karo mendirikan rumah ibadah kalak Karo khususnya gereja, seperti yang sudah terjadi di beberapa tempat seperti di Bandung dan Depok. Sadarlah wahai saudaraku sebangsa, kami Suku Karo, walaupun jumlahnya kecil namun kami juga sudah berbuat banyak untuk negara ini dan negara ini milik kita bersama.

Kami Karo…..
Tak pernah menganggu !!!!
Salam Mejuah juah !!!

1 COMMENT

Leave a Reply