Kolom M.U. Ginting: NASIONAL ATAU INTERNASIONAL?

0
35

“Saya minta dilakukan evaluasi sejauh mana keanggotaan kita di 233 organisasi internasional tersebut memberi manfaat yang nyata atau tidak kepada kepentingan nasional kita,” kata Jokowi sebagaimana diberitakan oleh detik.com [Kamis 22/ 12: Pukul 19.14 WIB]. 





Ini satu terobosan pemikiran atas kepentingan nasional, perlu dievaluasi kegunaannya. Jaman berubah, perkembangan ke arah nasional kultural adalah mutlak. Trump sudah memahami soal ini juga, Putin juga, Jokowi juga, terutama organisasi perdagangan harus diganti dengan persetujuan bilateral, tak perlu ada orang ke 3 dalam mengurus dagang nasional Indonesia.

Trump mau keluar dari semua perjanjian dagang internasional yang dibuat oleh Obama, dengan prinsip ‘America First’. Urusan negeri lain, adalah urusan negeri lain. PBB adalah tempat bermain politik (political game) bagi elit PBB. AS akan mengurangi biaya ke PBB yang selama ini terbesar adalah dari AS, padahal tidak bikin apa-apa bagi AS dan tidak ada soal dunia yang diselesaikan oleh PBB, katanya.

“Kalau dari keinginan saya sendiri PBB tidak perlu dan tidak perlu ada di AS,” katanya.

Soal NATO sudah obselete kata Trump, karena tadinya dibangun untuk menghadapi pakta Warsawa yang sekarang tidak ada lagi. Tetapi NATO masih dihadapkan dengan Rusia, yang sudah jadi teman Trump, karena Putin juga orang naionalis kultural Rusia, sama nasionalisnya dengan Trump.

Pernah juga Trump bilang kalau negara mana saja yang mau pakai NATO harus bayar, tidak gratis katanya. Karena AS memang bayar paling banyak untuk NATO.

Orang-orang NATO dan UE sekarang pada bingung, terutama yang banyak pakai tentara NATO.  NATO dan UE mau diapakan?

Trump dan Putin mewakili trend dunia ke arah nasional kultural. Gerakan Kiri dan multikulturalisme sudah mau masuk liang kubur secara pasti, sama pastinya dengan hilangnya Blok Timur. NATO dan UE adalah produk multikulturalisme dan gerakan kiri dunia sebagai pelindung neoliberalisme. NATO dan MULTIKULRURALISME adalah puncak tertinggi gelombang neoliberal dan gerakan kiri.  TAK ADA LANJUTANNYA, keduanya berakhir di Abad 21.

Ketika fabrik-fabrik neoliberal di AS dipindahkan ke China dan negara-negera lain yang murah tenaga buruh, pengangguran besar-besaran terjadi di AS, terutama buruh-buruh suku putih AS sangat terpukul. Sekarang Trump mau denda setiap perusahaan yang pindah ke luar negeri. Supaya fabrik-fabrik di AS hidup lagi dan menyelamatkan kaum pekerja atau pegawai menengah untuk bangun lagi kembali. Itulah salah satu cara Trump ‘make America great again’.

Yang lucunya lagi ialah barang-barang produksi fabrik AS di luar negeri seperti di China, masuk ke AS tanpa pajak pula. Ini bikin marah Trump sama China. Sudah bikin pengangguran di AS, barang produksinya malah dijual ke AS tanpa pajak import. Sedangkan barang-barang AS masuk ke China sangat tinggi pajaknya. Kan  sangat mencekik memang bagi rakyat AS. Kepentingan pemodal neoliberal memang sangat bertentangan dengan kepentingan nasional AS.  




Trump mengerti sungguh kalau NATO maupun PBB adalah kepentingan mutlak neoliberal dan multikulti, tidak ada sedikitpun menyinggung KEPENTINGAN NASIONAL AS, atau kepentingan nasional satu negara mana saja, terutama sama sekali tidak menyinggung kepentingan nasional negeri berkembang.

Nasionalisme kultural adalah trend dunia yang sangat manis dan membahagiakan semua nation dunia (juga suku-suku bangsa dunia), dan dunia akan diselamatkan dengan gerakan ini dan pemikiran ini. Kehancuran yang tadinya bakal terjadi dengan neoliberalisme dan multikulturalisme sudah bisa dihindari.

Hiduplah nasionalisme tiap bangsa di dunia! Hidup pemimpin nasional Jokowi, Trump, dan Putin. Hidup Trisakti!

Leave a Reply