Kolom Asaaro Lahagu: Analisis Ucapan Rizieq, Penista Agama Kristen

0
77




Sejatinya ucapan Rizieg Shihab yang disebut menista agama Kristen dimaafkan dengan tiga alasan. Pertama, karena kemunafikannya, ke dua, ketidaktahuannya dan ketiga, karena daya nalarnya lemah. Sebelum saya ulas lebih lanjut, saya kembali kutip ucapan Rizieg sebagaimana terekam lewat video youtube itu.

 “Habib Rizieg ‘selamat natal,’ artinya apa? Selamat hari lahir Yesus Kristus sebagai anak Tuhan. Saya jawab, ‘Pak, Iam yalid walam yulad,’ Allah tidak beranak dan tidak diperanakan. Kalau Tuhan beranak, bidannya siapa?”

Pertama, analisa kata ‘habib’. Dalam kutipan di atas, Rizieg menyebut dirinya habib. Habib Rizieq Shihab. Habib (gelar yang diperoleh dari garis keturuan Rasulullah atau dari komunitas dengan syarat-syarat tertentu), berarti sosok yang dicintai. Orang yang menyandang gelar habib adalah orang yang mampu mencintai sekaligus sosok yang layak dicintai, menyejukkan, menjadi panutan, memiliki ilmu yang luas, bertaqwa dan berakhlak baik.

Jadi gelar habib, bukan gelar main-main. Orang yang menyandang gelar itu, kesuciannya di atas rata-rata. Karena itu tidak semua orang layak dan pantas menyandang gelar habib. Bahkan Quraish Shihab, salah seorang cendekiawan Muslim terkemuka Indonesia, menolak menyebut dirinya habib. Padahal Quraih Shihab layak menyandang gelar itu. Quraish Shihab dikenal di Indonesia dan bahkan dunia sebagai sosok santun, rendah hati, berilmu luas.

Nah, apakah Rizieg layak disebut habib?  Habib Rizieq? Masih diragukan, dipertanyakan dan disangsikan. Selama ini Rizieg terlihat sebagai sosok pribadi yang keras, arogan dan meletup-letup. Kata-katanya pedas, kerap mengeluarkan kata kafir, bunuh. Ia juga sosok yang angkuh. Hidup Rizieg juga akrab kehidupan mewah, naik Rubicon bernomor cantik. Ia juga berteman dengan konglamerat, memusuhi pemerintah yang sah dan kerap menyebarkan isu SARA.

Lalu mengapa ia menyebut dirinya habib? Agar kelihatan wah, suci, hebat, sok berilmu. Padahal sebetulnya itu hanya kedok. Jika dilihat dari karakternya, Rizieq termasuk sosok manusia yang haus perhatian, haus kekuasaan, haus pujian, haus pengakuan, haus ketenaran, haus sorakan, haus hal-hal keduniawian. Jadi jika ada manusia seperti ini, maka jelas ia sedang butuh pertolongan sekaligus butuh agar dipahami.

Ke dua, analisis kata ‘selamat natal’. Saat mengucapkan kutipan di atas, Rizieq sedang ceramah keagamaan. Bukannya Rizieq menginspirasi para pendengarnya dengan ilmu agamanya sendiri, tetapi ia mencoba membumbuinya dengan mengolok-olok agama lain. Kebetulan ada perayaan natal agama Kristen. Momen itu dimanfaatkan oleh benar Rizieq. Mengapa?

Karena setiap kali ada perayaan agama Kristen, akidah Rizieq terganggu. Setiap kali Rizieq mendengarkan lagu natal, jiwanya membara, membuih dan tersentil. Setiap kali ia melihat pernik-pernik dan atribut natal, akidahnya meredup, berkurang, hambar.  Seolah-olah lagu natal, atribut natal bak cahaya terang menembus jiwanya. Apalagi melihat spirit orang-orang Kristen yang selalu semangat menghayati agamannya, jiwa Rizieq semakin memberontak.

Maka bagi Rizieq mengucapkan selamat natal adalah hal yang haram. Mendengar kata ‘natal’ saja, Rizieq sudah alergi, apalagi mengucapkan selamat natal. Bahkan mungkin kata natal bisa menusuk jiwanya dan mendengungkan telinganya. Ia mungkin tidak tahan mendengar kata natal itu. Oleh karena itu, bila ada kesempatan, ia mengobarkan kebencian dengan menghina arti natal itu. Tujuannya agar gema natal hilang di muka bumi Indonesia dan dunia.

Penghinaan agama Kristen yang dilakukan oleh Rizieq terkait ucapannya itu, memiliki dua pesan. Pertama, agama  yang dianut oleh Rizieq sendiri seolah-olah sudah terbukti paling benar, paling hebat dan paling dibenarkan dan pemeluknya pasti masuk surga. Ke dua, agama yang lain tidak benar, kafir. Padahal keyakinan bahwa hanya agamanyalah yang benar adalah keyakinan subyektif dan bukan keyakinan obyektif. Keyakinan bahwa orang lain itu kafir, orang lain itu masuk neraka, adalah juga keyakinan subyektif. Mengapa?

Sampai saat ini, tak seorangpun yang pernah ke surga, pernah ke neraka, pernah bertemu dengan Tuhan dan kembali ke bumi. Pun belum pernah ada manusia yang datang bolak-balik ke surga, ke neraka dan bertemu dengan Tuhan. Demikian juga sampai saat ini belum ada foto, video atau gambar asli dan terbukti benar tentang keberadaan surga dan neraka.

Oleh karena itu keyakinan sebuah agama adalah hanya keyakinan subyektif dan bukan keyakinan obyektif. Sehebat apapun keyakinan iman akan agama yang dianut, akan Tuhan yang didipercayai,  akan Kitab Suci yang dipegang, itu semua hanya keyakinan subyektif. Belum tentu sebuah agama, benar-benar terbukti sebagai agama yang paling benar. Belum ada kepastian obyektif bahwa sebuah agama benar-benar terbukti membawa penganutnya ke surga dan bertemu dengan Sang Khalik. Bahkan bisa sebaliknya. Agama bisa menjadi jalan menuju kehancuran.

Jika Rizieq meyakini bahwa agamanyalah yang benar, itu sah-sah saja. Namun mengolok-olok agama lain di hadapan agama sendiri adalah tindakan tak bernalar. Itu hasil dogma bertahun-tahun yang berpikiran bahwa dunia ini seperti tempurung. Dalam bayangan Rizieq, dunia ini hanya sebesar tempurung dan dialah orang yang ada di bawah tempurung itu. Selain tempurungnya,  tidak ada lagi dunia lain. Selain kebenaran yang dianutnya, tidak lagi kebenaran lain. Inilah keyakinan yang sebetulnya mengerikan. Dan bila ada orang yang seperti itu, sangat layak dikasihani, dipahami dan dimaafkan.

Ke tiga, analisis tentang arti natal sebagai hari lahirnya Yesus Kristus, anak Tuhan dan keesaan Allah. Pemahaman Rizieq ini sudah benar. Natal bagi orang Kristen adalah perayaan hari kelahiran Yesus Kristus. Yesus adalah Putera Allah. Namun ketika Rizieg menyinggung Yesus, anak Tuhan, dia mulai offside karena ketidakpahamannya. Rizieq belum sampai pada pemahaman bahwa Yesus adalah Putera Allah. Yesus adalah bagian dari Allah Tritunggal Maha Kudus. Tiga tetapi satu. Satu tetapi tiga. Allah, Putera dan Roh Kudus. Tuhan itu hanya satu, esa, namun mempunyai tiga pribadi, yakni Allah, Putera dan Roh Kudus. Namun ketiga pribadi ini satu kesatuan, tak terpisahkan.

Jika Rizieq memahami Allah itu esa, tidak beranak dan diperanakan, maka agama Kristen juga sama. Allah itu adalah Esa, ia tidak kawin dan dikawinkan, ia tidak beranak dan diperanakan. Namun konsep keesaan Allah yang dipahami agama Kristen, berbeda dengan konsep keesaan Allah yang dipahami oleh Rizieq. Sejak peristiwa Paskah, tersibaklah keilahian Yesus sebagai logos yang memunculkan konsep Tritunggal. Dari peristiwa paskah inilah keilahian Yesus ditelusuri. Tanpa Paskah, Yesus tidak ada apa-apanya kendatipun dia melakukan banyak muzizat.

Doktrin kekristenan tentang Tritunggal atau Trinitas (kata Latin yang secara harafiah berarti ‘tiga serangkai’, dari kata trinus, ‘rangkap tiga’) dirumuskan demikian:  Allah adalah tiga pribadi atau hipostasis yang sehakikat (konsubstansial) Bapa, Putera (Yesus Kristus), dan Roh Kudus sebagai Satu Allah dalam tiga pribadi ilahi. Ketiga pribadi ini berbeda namun merupakan satu substansi esensi atau kodrat (homoousios). Dalam konteks ini, kodrat adalah apa Dia, sedangkan pribadi adalah siapa Dia.

Lalu bagaimana pemahaman Rizieq tentang Yesus, anak Tuhan itu? Dari pemahamannya, jelas sangat dangkal. Ia memahami Yesus, anak Tuhan sebagai anak biologis. Padahal dalam agama Kristen, Yesus itu disebut anak Allah, putera Allah untuk melukiskan kedekatan Allah dengan Yesus dengan bahasa manusia. Hubungan itu bukanlah hubungan biologis. Tingkat hubungan kedekatan antara Allah dan Yesus hanya bisa dilukiskan dengan hubungan antara seorang bapa dengan anaknya. Tujuannya agar manusia dapat memahami hubungan antara Allah dengan Yesus.

Karena pemahaman Rizieq itu dangkal, maka wajar jika ia memahami Yesus itu sebagai anak biologisnya Allah. ‘Kalau Tuhan beranak, siapa bidannya?’ Tentu saja pertanyaan Rizieq itu bisa disambung tak henti-hentinya dengan pertanyaan lain. Kalau Tuhan beranak, maka siapa isteri Allah? Siapa tantenya, pamannya, kakeknya, neneknya. Jika Yesus, anak Tuhan, lalu siapa dokternya? Tentu saja jika Allah beranak, kapan kawinnya, apakah ada pestanya saat itu? Apakah ada undangannya? Apakah ada juga sertifikat perkawinan ayah Yesus? Apakah pada saat kawin, mereka sewa gedung atau tidak? Dan jutaan pertanyaan lainnya.




Menjelaskan kepada Rizieq tentang konsep Allah Tritunggal sama sulitnya menjelaskan kepada anak TK tentang teori kecepatan cahaya atau teori relativitas Albert Einstein. Hal yang mengerikan adalah Rizieq mencoba menjelaskan arti natal kepada para pendengarnya dengan konsep pemahaman yang salah. Bukan hanya konsep yang salah, Rizieq juga menyindir  dan mengolok-olok natal sebagai lahirnya Yesus Kristus dengan bumbu pertanyaan siapa bidannya.

Lalu mengapa Rizieq menyindir Yesus, anak Tuhan dengan menanyakan siapa bidannya? Rizieq yang memandang dirinya berilmu luas yakin bahwa pemahamannya tentang agama Kristen sudah cukup. Karena itu, ia mencoba membandingkan dengan agamanya. Hasilnya, menurut dia agamanya jauh lebih hebat, lebih tinggi dan lebih benar. Oleh karena itu wajarlah jika ia menghina Yesus, anak Tuhan yang tidak jelas siapa bidannya itu. Hal ini sebetulnya menunjukkan daya nalar yang lemah.

Pemahaman agama ala Rizieq itu sebetulnya amat mengerikan. Sekali lagi sangat mengerikan. Ia mengukur agama orang lain dengan pemahaman yang dia miliki. Pemahaman sosok manusia seperti ini tidak ada bedanya dengan pemahaman seekor kura-kura yang memandang  dirinya sebagai binatang yang paling cepat, paling kuat dan paling hebat di muka bumi. Jika pemahaman Rizieq seperti kura-kura, maka sebetulnya ia tidak perlu dilaporkan kepada polisi tetapi ia lebih layak dikasihani, dimaafkan dan dibantu agar kembali menjadi manusia waras. Begitulah kura-kura.

Leave a Reply