Kolom M.U. Ginting: Latihan Militer FPI di Lebak Patut Dicurigai

1
164

 

Latihan ‘bela negara’ di Lebak ini sangat menakjubkan memang, menimbulkan pertanyaan yang serius. Ini bisa juga dibanding-bandingkan dengan situasi seperti pada jaman PRRI-PERMESTA dulu, tahun 1958. Kalau dulu itu tentu masuk akal, begitulah jamannya, banyak golongan mau bikin negara sendiri atau negara yang dianggap cocok dengan politik masing-masing. Sebagian besar mau bikin negara Islam, seperti di Aceh (GAM) yang berkobar sampai permulaan Abad 21.

Gerakan kemerdekaan GAM ini adalah yang paling lama, tetapi juga tidak bisa diteruskan. Pertama, karena PENGETAHUAN MASYARAKAT yang meningkat drastis dengan bantuan internet dan era informasi yang tidak bisa dibendung oleh siapapun, termasuk yang menginginkan supaya publik tetap berpengetahuan lebih rendah supaya lebih gampang dikutak-katik atau dipecah belah.

Bedakah pengetahuan GAM soal Aceh dengan pengetahuan Pemerintah Pusat soal Aceh? Atau pengetahuan publik pada umumnya soal Aceh dan GAM?

Pengetahuan Pusat soal Aceh atau soal daerah-daerah Indonesia pada umumnya sangat minim ketika menangani soal Aceh atau soal perundingan dengan GAM pada tahun-tahun pertama Abad 21, terutama dari segi kultur/ budaya/ etnis di Aceh. GAM mengerti soal ini dan memanfaatkan dalam perjanjian GAM-Pusat 2005, dimana GAM menuntut batas Aceh seperti batas 1954.

Pusat tidak menganggapnya masalah karena memang tidak mengerti masalahnya. Tetapi, kemudian, setelah muncul tuntutan pemisahan diri dari Aceh (ALA dan ABAS), Pusat sedar bahwa Aceh bukan hanya Aceh seperti mereka pahami selama ini. Orang Gayo bukan orang Aceh, orang Alas atau orang Singkil, begitu juga orang-orang (suku-suku) yang bergabung dalam ABAS, semuanya bukan Aceh seperti yang ada dalam pengetahuan orang-orang pusat.

Ha ha .  . .. Ini hanya intermezzo sebentar soal pentingnya PENGETAHUAN, bagi semua, bagi pemerintah daerah maupun terutama bagi pemerintah pusat yang mengurus seluruh negeri berbagai kultur/ suku NKRI itu.

Kalau kepala militer Ahmad Husein Tahun 1950-an (tepatnya 1958) bikin latihan militer di Padang atau Bukittinggi dalam persiapan ‘membela negara’ ketika itu, atau di Aceh bikin latihan GAM, bisalah jalan dan memang masuk akal mengingat perkembangan jaman ketika itu. Tetapi kalau tanggal 5 Januari 2017 bikin latihan militer pasukan Islam (FPI) di Lebak untuk ‘bela negara’ dan oleh pasukan TNI pula . . . sangat terlalu jauh dari akal sehat. Patut dicurigai, dan betul memang harus langsung dipecat militer inisiatornya.

Apakah inisiatif ‘bela negara’ ini karena sikap bodoh kurang pengetahuan atau inisiatif dari luar (DC, divide and conquer) atau ada kaitannya dengan Gerakan  411 atau 212 adalah pertanyaan yang sangat perlu dituntaskan. Gerakan pecah belah datang dari luar kata Panglima TNI, terutama dari AS dan Australia menurut beliau. Gerakan 212 adalah gerakan makar sudah dipastikan oleh Kapolri. Sudah ditangkap juga beberapa orang.

Kewaspadaan dalam soal gerakan dari luar ini terutama setelah ada juga usaha-usaha mengeruhkan NKRI dari segi ekonomi, mengingat tindakan dan sikap JP Morgan yang dengan tegas dan berani sudah didepak dari Indonesia oleh Menkeu Sri Mulyani. Gerakan pecah belah dan kekacauan politik ternyata digabungkan juga dengan gerakan mengacau ekonomi nasional seperti kegiatan JP Morgan itu




Sikap komandan militer di Lebak adalah salah satu bukti masih kurangnya PENGETAHUAN soal DC (Divide and Conquer) di kalangan militer daerah, walaupun di kalangan aparat negara (militer dan polisi) di Pusat termasuk pemertintahannya sudah sangat tinggi pengetahuan ini. Terbukti dari keberhasilan yang sangat gemilang dalam menghadapi Gerakan 411 dan 212 Termasuk juga pengacauan dari luar di tingkat ekonomi dan finansial yang ditangani secara jitu oleh Menkeu Sri Mulyani.

Pengetahuan, pengetahuan . .. . adalah penyelamat dari rongrongan DC. Selama pengetahuan kita lebih tinggi atau setidaknya sederajat dengan pengetahuan orang-orang DC, selama itu kita tidak akan bisa dikutak-katikkan seperti 1965 atau 1958. Buktinya sudah terlihat, dalam ujian 411, 212, ujian JP Morgan dan ujian ‘bela negara’ di Lebak, ternyata bangsa ini sudah bisa mwngatasinya dengan sangat jitu!

Walaupun usaha divide and conquer masih akan terus tanpa henti-hentinya kedepan, tetapi rasanya tidak mungkin lagi kita bisa ditipu seperti 1965 atau 1958.

 Semoga

1 COMMENT

  1. Untuk lebih mendalami pengetahuan tentang DC (Divide and Conquer) akan diteruskan mendalami dan memperluas informasi 3 figur/badan yaitu siapa Trump, Sri Mulyani, dan JP Morgan. Ketiga soal ini sangat erat kaitannya dengan perkembangan dan nasib dunia dan Indonesia.
    Trump sebagai pemimpin satu negara besar adidaya, dan orang pertama dalam sejarah dunia melawan PC (political correctness) senjata ampuh yang dipakai oleh orang ‘kiri’ sebagai benteng the setablishment dunia.
    Sri Mulyani sebagai bagian atau ex-bagian (?) dari the establishment dunia itu tetapi sekarang berperan sebagai menkeu NKRI.
    JP Morgan adalah bagian dari the establishment dunia.

    MUG

Leave a Reply