Dari Suku Karo Untuk Cagubsu?

0
741
Beberapa nama Balon (bakal calon) Gubsu yang telah mengemuka saat ini. 2 diantaranya (Nomor 2 dan 3) dari Suku Karo atau kuat kaitannya dengan Suku Karo karena ibu dan istrinya adalah orang Karo.

Oleh: Boby Rahman Ginting (Bogor)

 

Tahun 2018 masih setahun lagi, tapi sudah ada yang menyodorkan pilihan tokoh sebagai Gubernur Sumatera Utara terutama dari Suku Karo. Tentu saja hal ini sah-sah saja. Di sudut warung kopi di salah satu kuta kalak Karo, di Sumut, bisa lepas bercanda, menghina dan memuji calon gubernur di ibukota, tentu saja malah cocok sekali sudah bicara tentang Calon Gubernur Sumatera Utara. Masalahnya adalah : BANYAK. Tapi tak bisa dijabarkan semua.

Saya cuma pengusaha kecil, yang punya waktu sedikit di antara mengurus usaha dan keluarga kecil saya. Jadi, saya sempat melihat beberapa orang menyodorkan nama dari Suku Karo. Tentu saja, ada kebanggaan relatif bagi saya sebagai kalak Karo jika ada dari Suku Karo memberikan sumbangsihnya kepada Sumatera Utara secara maksimal. Dengan begitu, bukan syrup markisah dan jeruk saja yang diketahui berasal dari Karo. Manusia bermutu pun diberikan dari Karo.

Pendahulu kita sudah memberi contoh. Kaitan dalam pemilihan, menyodorkan seorang Karo, kita harus sadar bahwa ini adalah perjudian. Sama – sama manusia dan sama-sama Suku Karo, tapi dalamnya hati siapa yang tahu.

Jika ternyata calon dari Suku Karo yang kita dukung berkarakter jahat dan merusak, maka kita hanya menambah kesalahan saja pada masyarakat luas. Kita belum hitung dampak prasangka buruk pada Suku Karo. Memang, tidak adil karena ulah “oknum” prasangka buruk pada suatu suku disematkan, Tapi, itu adalah ekses yang bisa ada jika akhirnya kita memilih berdasarkan faktor primordial (suku). Apakah dampaknya besar atau kecil, waktu dan kedewasaan masyarakat yang akan menguji.

Pertama dari sekian banyak masalah adalah kita tidak tahu jumlah pemilih dari Suku Karo. Wikipedia menulis jumlah penduduk Sumatera Utara 41% adalah Suku Batak (mereka memasukkan suku Karo ke dalam suku Batak), dan Jawa 31%.

Jika pemilih kita anggap sesuai rasio itu, berapa persen Suku Karo dari 41%.  Saya membayangkan angka kasar (suka-suka saya – dengan hitungan jumlah jemaat GBKP tahun 2000, estimasi bahwa 20% suku Laro adalah jemaat GBKP, pertumbuhan penduduk 1,5% pertahun sejak tahun 2000, jumlah penduduk Sumatera Utara tahun 2010, dan jumlah pemilih tetap saat tahun 2014) maka pemilih dari Suku Karo 9-12% dari total pemilih di Sumatera Utara.




Kalau kita anggap pemilih di Sumatera Utara masih kuat kesan primordial (suku dan agama) maka pilihannya yang menang adalah calon Suku Jawa beragama Islam. Itu adalah pertimbangan bagi anda (tim sukses mana pun) yang berniat menghembuskan isu primordial Karo. Apa boleh buat, sudah dari sana Suku Karo cukup telaten dengan keluarga berencana.

Tentu saja yang saya ucapkan di atas masih melantur. Kalau tidak percaya, berkacalah pada hasil  pemilihan umum langsung, mulai dari anggota legislatif provinsi dan nasional, para calon dari Suku Karo benar-benar kepayahan. Mengantarkan seorang “jadi” anggota DPD pun sulit sekali, karena memang semua yang lolos menjual kecap agama.

Berbeda dengan suku lain yang cenderung didominasi salah satu agama, maka kasus unik berbeda pada Suku Karo. Tidak ada salah satu agama yang cukup dominan di antara suku ini. Ini jadi pekerjaan berat bagi siapa pun calon dari Karo sekali pun karena faktor agama bisa mengurangi setengah kekuatan.

Barangkali jika ada tokoh yang mempersatukan dan menyadarkan bahwa kinikaroan saat ini cukup penting untuk diperjuangkan, barangkali ada harapan. Setidaknya ada 9-12% suara di tangan. Selebihnya, pandai-pandailah calon dari Suku Karo ini bicara pada saudara kita yang lain, menunjukkan program apa yang mau ditawarkan, tunjukkan bahwa akan profesional, tunjukkan niat tulus untuk membangun Sumatera Utara bukan untuk membuat perut buncit atau menambah istri muda.

Saya titipkan buat siapa pun calon dari Suku Karo yang akan anda dukung dan sudah berancang-ancang menjadi tim sukses  “Selamat Berjuang! Kalau nanti jadi, jangan sampai bikin orang Karo malu.”




Leave a Reply