Live: Roy Fachraby Ginting Mengenai Karo dan Kinikaron

1
176





ITA APULINA TARIGAN. SURABAYA. Terkait dengan peristiwa berdirinya baliho dengan gambar perempuan berbusana Batak di Kabanjahe yang dibuat oleh Pemkab Karo, Sora Sirulo mengundang Roy Fachraby Ginting memaparkan gagasannya mengenai jati diri Karo saat ini.

Roy Fachraby adalah Sekjend Majelis Permusyawaratan Rakyat Karo yang akti dalam kegiatan-kegiatan politik dan budaya Karo serta aktif pula menulis essai di facebooknya.

Kami redaksi membebaskan Roy Fachraby mengarahkan sendiri pemikirannya seputar Karo dan kinikaron, khususnya terkait masa depan jati diri Karo sebagai sebuah suku berdiri sendiri yang bukan bagian dari suku manapun juga kecuali bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Siaran langsung ini akan diadakan pada Pukul 20. 30 WIB hari ini [Minggu 15/1] dari Padangbulan, Medan.

Di bawah ini adalah pengantar siran live yang masih akan disiarkan.

Posted by Roy Fachraby Ginting on Sunday, January 15, 2017

1 COMMENT

  1. Sungguh diharapkan memang supaya yang bertanggung jawab bisa menjelaskan persoalan ‘baliho dengan gambar perempuan berbusana Batak di Kabanjahe yang dibuat oleh Pemkab Karo’ dan minta maaf kepada rakyat Karo, pemuda Karo dan LSM Karo yang sangat prihatin atas sikap pemkap Karo, karena sikap itu tidak mencerminan saling menghargai sesama kultur berbeda dalam negara bhnneka ini.
    Mengapa kita berkoak-koak soal persatuan kalau syarat persatuan itu dikencingi saja.
    Mestinya kan dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Atau seperti prof MacDonald bilang bahwa pendatang ”should be welcome but they should not be able to remake society in their own image”, yang sama artinya dengan junjunglah langit dimana engkau berpijak! Mengakui, Menghargai dan Menghormati kultur/budaya penduduk asli didaerah tempat berpijak atau tempat numpang hidup.

    Saling menghormati dan menghargai sesama kultur berbeda, di Karo adalah kultur dan budaya Karo, semua pendatang bisa ikut melestarikan kearifan lokal, bukan menghina budaya lokal dengan menggantikan pakaian tradisi lokal dengan pakaian pendatang. Kalau istri bupati kebetulan orang Batak, adalah soal pribadi bupati, tetapi tidaklah berarti kalau bupati harus mengutamakan pakaian adat Batak di Karo. Saya sangat bangga atas sikap tegas dan kritis LSM Karo, pemuda Karo dan juga Fachraby Ginting menegaskan soal jati diri Karo itu. Bravo! Jati diri Karo adalah salah satu dari jati diri berbagai suku/kultur. Dan semua jati diri inilah juga yang menjadi dasar jati diri nasional itu, jati diri NKRI.

    Tidak ada salahnya pakaian adat manapun, tiap pakaian adat yang menggambarkan kultur dan budaya suku asli Indonesia, sangat indah karena menggambarkan keaslian kultur dan budaya negeri bhinneka ini. Secara pribadi saya selalu tersentuh semangatnya tiap kali melihat dan mendengar musik tradisional asli suku-suku bangsa Indonesia, maupun pakaian adatnya, yang jelas menggambarkan keaslian dan existensi kultur dan kreasi manusia asli bangsa Indonesia dalam hidupnya jauh sebelum sivilisasi barat muncul. Jadi bukan main-main keaslian tradisi suku-suku bangsa Indonesia itu.

    Saya selalu merasa pakaian adat dan keindahan lagu-lagu asli tradisional suku-suku bangsa negeri ini sangat inspiratif. Karena itu sikap melecehkan adat/kultur lain dengan cara menggantikannya dengan pakaian adat pendatang di satu daerah, dan secara resmi pula, memang sangat menyakitkan, bukan hanya bagi suku lokal itu, tetapi menyakitkan bagi perasaan nasionalisme itu sendiri, karena nasionalisme Indonesia itu adalah kesatuan dari semua kultur dan penghormatan bagi semua kultur itu. Dan syarat utama menghormati itu ialah ‘dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung’. Tanpa semua ini tidak ada yang namanya nasionalisme Indonesia itu, dan tidak ada NKRI.
    MUG

Leave a Reply