Kolom M.U. Ginting: POLITICAL CORRECTNESS

0
423

 

Istilah ‘Karo’ menggantikan Kabupaten Karo di headline detikNews dalam memberitakan gempa bumi di Sumut ini, jadi perhatian juga sedikit. Mengingat kalau bicara soal ‘Karo Bukan Batak’ dulu dan sekarang juga lain. Dulu pemakaian istilah ini, bisa digolongkan termasuk sebagai salah satu ‘Political Correctness’, istilah terkenal belakangan yang jadi sasaran utama Trump dalam Pilpres AS.

Apakah definisi PC (Political Correctness) yang sesungguhnya?

Susah untuk bikin definisi PC. Dia dirasakan tetapi susah mengatakan. Walaupun ada di setiap negeri. Seperti di Indonesia, dulu orang Karo sungkan mengatakan KBB (Karo Bukan Batak), kebanyakan lebih suka diam tak buka mulut, dpl PC menciptakan a spiral of silence.

Mengapa?

Karena dulu dianggap ‘tidak sopan’ dan KBB dianggap menyalahi aturan ‘saling menghormati’ sesama suku. Tetapi siapa yang diuntungkan dengan ‘sopan santun’ itu, dan siapa yang dirugikan?

Di Amerika Serikat ‘sopan santun’ PC menjadi senjata bagi the establishment untuk menutup mulut banyak orang supaya tidak mengucapkan ini itu yang dianggap bisa menyinggung yang lain atau grup lain. Trump mengucapkan apa saja untuk melawan PC. Contohnya, dia mengatakan bangun tembok batas dengan Mexico dan harus dibayar oleh Mexico pula, karena kriminal dan narkoba masuk dari Mexico. Sekarang Presiden Mexico malah ingin berunding membicarakan soal ini. Atau yang populer lainnya ialah mengusir semua kriminal dari AS, atau membatasi masuknya muslim ke AS.




Membelejeti dan menentang PC adalah satu prasyarat kemenangan Trump dalam Pilpres. PC, yang telah mengekang mulut kelas pekerja orang asli putih, orang desa dan orang pedalaman selama setengah abad terakhir. Dengan kata lain, dengan keberanian Trump melawan PC, orang-orang ini bangkit kembali setelah setengah abad diam dan tak digubris. Mereka jadi the silent majority yang tiba-tiba bangkit dalam Pilpres.

Di Indonesia banyak yang ‘sungkan’ melawan yang namanya ‘agama’ model FPI, termasuk di kalangan Polri. Sebagai akibat ‘kesungkanan’ ini, semakin meraja lela tindakan anarkis kaum ‘agama’ ini, seperti FPI.

Apa yang terjadi belakangan?

Seperti di Karo soal KBB, di Indonesia secara nasional sikap terhadap ‘kaum agama’ ini berangsur berubah. PCnya mulai berangsur dibelejeti dan dihancurkan seperti dalam soal KBB itu.

Sikap Polri dan organisasi-organsiasi agama lainnya dari NU dan Muhammadiyah mulai bangkit melihat PC organisasi ‘agama’ FPI. Balans baru atau kesimbangan baru dalam ‘politik agama’ ini atau politik ras atau ‘kesukuan’ itu mulai lebih harmonis.

Leave a Reply