Kolom Asaaro Lahagu: SBY Curhat di Twitter, Rahasia Jokowi Terbongkar

0
305

 

Sampai sekarang, Pakde Jokowi masih belum mau bertemu dengan mantan Presiden SBY. Apa alasannya? Bukankah SBY adalah sosok hebat yang 2 kali terpilih menjadi Presiden RI? Bukankah SBY masih punya pengaruh karena ia adalah ketua umum partai besar Demokrat? Apakah SBY terlalu tinggi bagi Jokowi melebihi Obama, Putin, Xi Jining? Atau SBY dipandang sudah tak berpengaruh oleh Jokowi dan sudah tidak level lagi dari Prabowo, Megawati, Habibie?

Jawaban-jawaban pertanyaan di atas akhirnya saya paham ketika SBY mengeluarkan cuitan di Twitter Jum’at 20 Januari 2017 kemarin. Perhatianlah baik-baik cuitan SBY tersebut.

“Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yang lemah menang? *SBY*”

Apa pesan dari cuitan SBY tersebut? Pasrah dan prihatin. Semua kalimat di atas bernada pesimis. Semuanya bernada menyerah. Madesu. Masa depan suram. Tak ada harapan. Putus asa dan semuanya terlihat buram dan gelap. Dan dalam keadaan serba suram, keluarlah doa prihatin dan seruan kepada Tuhan: “Ya Allah, Tuhan YME”.

Seruan SBY kepada Tuhan: “Ya Allah, Tuhan YME”, sebetulnya kalau hanya kata itu, masih bisa dibenarkan. Setiap orang dalam terdesak, layak berseru kepada Sang Khalik. Jadi tidak ada yang salah pada beberapa kata pertama itu. Tidak ada yang salah dalam seruan: “Ya Allah, Tuhan YME” karena orang beriman  dan percaya kepada Sang Khalik, wajib berseru siang dan malam kepada Tuhan. Apalagi jika diterpa kesukaran hidup, maka berserulah kepada Tuhan. Sampai pada kata: ““Ya Allah, Tuhan YME”, publik masih memuji SBY sebagai sosok orang yang beriman. Mantap.

Masalah pertama  kemudian muncul, ketika SBY melaporkan kepada Tuhan suasana negara yang sudah kacau-balau dan hancur lebur. “Negara kok jadi begini.” Ungkapan penggalan cuitan SBY ini menggambarkan suasana kehancuran. Harapan atas sebuah negara yang aman, damai, makmur dan sejahtera sebelumnya, tidak pernah terjadi. Sebaliknya yang terjadi kini adalah sebuah negara yang tengah kacau-balau, merana, tak aman, menderita. Di mana-mana ada kelaparan, penyakit, malapetaka yang semuanya mencerminkan kegagalan. “Negara kok jadi begini”.

Masalah ke dua  menjadi lebih menakutkan karena ada kata: “Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa dan merajalela. Di negara ini menurut cuitan SBY, rupanya ada orang dari kalangan rakyat, pejabat, pemimpin, sukarelawan yang kerjanya memfitnah. Para juru fitnah ini menurut cuitan SBY itu, tengah berkuasa. Jadi mereka bisa menggiring opini. Mereka bisa mengubah seseorang yang sebelumnya terkenal baik, bersih dan santun menjadi jahat, kotor dan kasar, hanya dengan fitnah.

Hal yang lebih parah lagi, selain adanya pasukan juru fitnah, ada juga pasukan penyebar hoax, penyebar kabar bohong. Baik juru fitnah maupun penyebar hoax bisa diperankan oleh orang yang sama atau diperankan oleh orang lain secara pribadi atau kelompok. Dan menurut SBY, kelompok juru fitnah dan penyebar hoax telah berkuasa dan merajalela. Mereka sudah ada di mana-mana, di segala tempat dan peristiwa. Menakutkan.

Masalah ke tiga adalah cuitan SBY yang bertanya kepada Tuhan: “Kapan rakyat & yang lemah menang”. Ini berarti selama ini rakyat selalu kalah, selalu diperalat, selalu dibodohi. Cuitan SBY ini juga sekaligus harapan kepada Tuhan agar sesekali rakyat diberi kemenangan. Mirip Timnas yang tidak pernah menjadi juara AFF. Kapan Timnas menjadi juara? Dan lebih mengerikan lagi, SBY memposisikan dirinya sebagai rakyat yang kalah dan lemah dengan tulisan *SBY* di belakang cuitannya.

Dari cuitan SBY di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa SBY semakin kelihatan sebagai sosok yang mudah menyerah, sosok yang hanya berpangku tangan, menunggu uluran tangan Tuhan. Tak ada gairah hidup, tak ada motivasi, tak ada yang diharapkan dan akhirnya menjadi sosok iis, yang prihatinis, pesimistis, putusasanis, pengadunis, dan cuitanis.

Seandainya kita bisa mendengar suara Tuhan di atas sana, maka mungkin Tuhan akan menjawab: “Apakah benar bangsamu seperti itu SBY? Kacau, lemah, tak aman dan dikuasai oleh juru fitnah dan penyebar hoax? Apakah rakyat dan anda sendiri SBY sedang kelaparan, menderita dan hidupnya merana sekarang? Apakah engkau SBY hanya berpangku tangan selama ini dan bahkan justru ikut menciptakan suasana tidak kondusif demi kepentingan pribadimu?” Mungkin Tuhan menggeleng-gelengkan kepala.

Dan akhirnya saya menjadi paham bahwa sosok SBY yang selalu prihatin dan pesimistis membuat Jokowi masih belum mau bertemu dengannya. Jokowi tidak mau kalau aura pesimistis dan hanya prihatin dari SBY bahwa bangsa ini serba tidak bisa, merusak semangat membahana Jokowi, mengempiskan semangat hebat dalam membangun negeri ini.

Jika Jokowi bertemu dengan SBY, maka mungkin akan tertanam dalam benak Jokowi hal-hal pesimitis tentang bangsa ini. Mungkin SBY membisikkan ke telinga Jokowi (mudah-mudahan saya tidak dituduh hoax) bahwa PSSI dan Petral tidak mungkin dibekukan dan dibubarkan. Subsidi BBM yang sudah Rp 300 Triliun tidak mungkin dicabut karena rakyat nanti akan memberontak. Jokowi, jangan engkau luncurkan itu Tax Ammensty, karena itu pasti dan 100% gagal. Sadis.

SBY akan terus membisikkan dengan suara mendesis dan santun di telinga Jokowi bahwa kapal-kapal pencuri ikan di laut kita tidak mungkin diberangus apalagi kapalnya ditenggelamkan. Kita tidak mungkin melawan China di Natuna, melawan Amerika di Freeport. Kita tidak mungkin membangun infrastruktur masif karena tidak ada biaya. Anda Jokowi, tidak mungkin membangun Indonesia Timur (Papua) dan membuat harga BBM di sana, sama seperti di Jakarta.




Hal yang lebih mengerikan adalah SBY mungkin membisikkan lagi kepada Jokowi bahwa anda tidak mungkin lepas dari bayang-bayang Megawati, melawan Koalisi Merah-Putih (KMP). Anda harus merangkul Amin Rais, Din Syamsuddin, Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, Sri Bintang Pamungkas. Anda, Jokowi, harus bermesraan dengan Habib Rizieq, Habib Novel dan habi-habib yang lainnya. Anda harus merangkul FPI dan HTI.

Selanjutnya hal yang lebih sadis adalah bisikan tegas SBY kepada Jokowi: Anda Jokowi tidak mungkin bertemu dengan Prabowo karena dia itu musuhmu. Jangan pernah bertemu dengannya karena yang dia tahu hanya menunggang kuda. Anda Jokowi, justru harus selalu meminta masukan dari saya karena saya adalah pendiri dan Ketum Demokrat serta Presiden hebat 2 periode yang sukses menyebarluaskan slogan: “Katakan tidak pada Korupsi”. Jokowi, lihatlah, saya adalah presiden terhebat di dunia karena bisa menelurkan 4 album. Suara saya akan abadi dan akan dikenang sepanjang masa oleh bangsa ini.

Akhirnya saya paham rahasia Jokowi mengapa ia justru 2 kali bertemu dengan Prabowo, Megawati, Habibie dan para tokoh-tokoh NU lainnya. Karena orang-orang ini telah dibakar semangat nasionalisme, semangat Pancasilais yang luar biasa bahwa negara ini akan maju, makmur dan jaya ke depannya dengan dasar Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai NKRI di tangan pemimpin merakyat Jokowi. Begitulah kura-kura.

Leave a Reply