Terkait Poster Carrefour, Alfonso Ginting: Kami Bukan Mengancam Tetapi Jangan Coba Mengusik

4
413

Laporan: Hevi S. Tarigan dan Bastanta P. Sembiring

“Kami bukan mengancam, tetapi jangan coba mengusik kami,” demikianlah inti dari protes yang disampaikan oleh Alfonso Maranatha Ginting dan pemuda Karo lainnya yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Karo (IMKA) dan Pemuda Merga Silima (PMS) saat melakukan protes langsung kepada pihak Carrefour, Medan [Minggu 22/1].

Protes mereka terkait dengan poster dan spanduk animasi berpakaian adat Karo seakan menyapa pengunjung dengan bertuliskan “horas”. Keberatan dari para pemuda Karo adalah adanya kesan seolah-olah orang-orang Karo juga menggunakan Horas sebagai sapaan mereka.

Ginting menuturkan, kejadian ini berawal saat beliau berkunjung ke salah satu pusat perbelanjaan di Jl. Letjen. Jamin Ginting, Padangbulan (Medan). Awalnya mengaku tertarik dengan tampilan poster dan spanduk yang banyak terpampang di dalam gedung tersebut. Namun, setelah melihatnya lebih dekat dan lebih ditail, merasa kemudian apa yang dilakukan oleh pihak pengelola Carrefour ini sebagi sebuah penghinaan dan pelecehan terhadap Suku Karo.

“Pertama aku lewat aku merasa bangga melihat animasinya. Karena ada dibuat gambar animasi berpakaian Karo, aku langsung mendekati animasi pada dagangan yang ditawarkan di salah satu stan yang ada di Carrefour di kawasan Padangbulan tersebut”.

Lagi katanya: “Tapi setelah dekat aku melihat tulisan gambar animasi itu tertulis horas. Wah, dalam hatiku langsung panas membara bagai seolah-olah menamparku. Padahal hari sudah larut, tapi kayaknya aku gak sabar menunggu pagi. Aku mulai sibuk mencari nomor hp teman-teman lainnya untuk melaporkan hal ini. Carrefuor sudah melakukan pelecehan terhadap Suku Karo”


[one_fourth]Harus diprotes karena sangat berpotensi mengkaburkan identitas Karo[/one_fourth]

Mungkin sebagian orang akan menganggap hal ini sepele dan tidak perlu dibahas. Namun, jika dibiarkan ini akan berlarut dan menjadi kebiasan sertas berpotensi mengkaburkan identitas Karo. Pasalnya, jelas dalam tampilan itu (animasi pria dan wanita) berpakaian adat Karo, akan tetapi bertuliskan horas, seakan menyapa pengunjung.

Iklan KPPT yang menampilkan wanita berpakaian adat Batak yang dikoyak-koyak oleh para pemuda Karo di Kabanjahe baru-baru ini.

Sapaan Suku Karo yang juga suku asli dan pendiri Kota Medan bukan “horas” melainkan “mejua-juah”.  Sehingga, apa yang dilakukan oleh pihak Carrefour ini sangat menyakiti hati masyarakat Karo dan merupakan satu bentuk pelecehan terhadap Suku Karo.

Juga, tak bisa kita pungkiri, hal demikian melatih masyarakat yang pada akhirnya akan terbiasa melihat Karo itu sebagai Batak dengan salam “horas”-nya, maka tidaklah kemudian mengherankan bila orang luar akan menyapa Karo dengan “horas”, karena mereka akan berkata, “buktinya demikian”. Maksud penulis, jika tidak benar salam Karo itu “horas” kenapa tidak diprotes? Apalagi terjadi di kampung sendiri.

Jadi hal demikian harus dibicarakan dengan diterangkan seterang mungkin. Maka apa yang dilakukan Ginting dan teman-teman (IMKA dan PMS) sudah benar dan memang harusnyalah demikian dilakukan sebagai seorang pemuda Karo dan putra bangsa untuk terus menjaga dan mengawal kebhinekaan di negeri ini.

“Aku menghubungi beberapa rekan PMS dan adik mahasiswa IMKA. Akhirnya besok paginya kami bergegas ke sana untuk menyatakan sikap dan tindakan yang sudah menyakitkan hati Suku Karo. Sehingga turunlah spanduk yang tidak sesuai tersebut”.


[one_fourth]Kesengajaan atau benar ketidaktahuan Karo bukan Batak?[/one_fourth]

Saat melakukan dialog dengan pihak Carrefour, Ginting juga mengaku sempat menanyakan kepada Humas Carrefour ikhwal mengapa hal ini bisa terjadi.

“Kenapa kok kalian tulis horas tetapi pakaian adat Karo?” tanya Ginting kepada pihak humas Carrefour.

Pegawai Carefour menurunkan poster iklan mereka setelah mendapat protes dari para pemuda Karo.

“Kami bukan mengancam tapi jangan coba untuk mengusik kami,” lanjut Ginting.

Jawab mereka: “Maaf, bang, kami memang gak paham kalau Karo itu bukan Batak”.

Setelah melakukan protes secara langsung ke lokasi dan pihak pengelola Carrefour, akhirnya Kepala Humas Carrefour meminta maaf dan staf security memohon agar masalah ini tidak diperpanjang.

“Mereka langsung menyadari kesalahan itu dengan langsung membuka spanduk itu dan menyatakan permohonan maafnya. Sehari setelah kejadian itu terjadi saya disms oleh pihak Carrefour melalui messanger facebook untuk membuat spanduk yang sesuai,” terang Ginting.

Apa yang terjadi di Carrefour ini adalah sebuah bentuk bagaimana kita selama ini mengabaikan dan menyepelekan hal yang berkaitan dengan kearifan lokal, yang sesunguhnya menyinggung dan menyakiti hati masyarakat lokal. Kesalahan-kesalahan tersebut terulang menjadi kebiasaan yang kita sendiri pun kemudian enggan untuk memperbakinya karena telah menjadi kebiasaan. Bahkan, kesalahan itu kemudian dianggap sebuah kebenaran.




4 COMMENTS

  1. “Harus diprotes karena sangat berpotensi mengkaburkan identitas Karo”

    Dalam ethnic competition, banyak cara dipakai oleh tiap etnis, cara kasar atau cara halus. Dengan cara ‘mengaburkan identitas’ ini, apakah halus atau kasar, semua bisa bikin penilaian. Terpenting saya pikir tujuannya jelas, mengaburkan identitas, apalagi dalam hal ini sesuai dengan tujuan konspirasi ‘membatakkan Karo’ dan sekali gus menentang gerakan pencerahan KBB.

    Sikap tegas AMG dan teman-teman patut dapat pujian dari seluruh masyarakat Karo, karena disini jelas pengaburan identitas dan pelecehan terhadap suku Karo sebagai salah satu suku utama di Sumut, suku asli Sumut yang tertua di Sumatra, budayanya sudah berumur 7400 tahun terbukti dari penemuan arkeologi terakhir di dataran tinggi Gayo. DNA fosil tua itu adalah dari suku Karo dan Gayo. Kalau dibandingkan dengan suku Batak (Toba) yang datang dari jurusan Taiwan baru datang ke Sumatra sekitar 500-700 tahun lalu dari hasil penggalian di daerah Batak Tapanuli oleh arkeologi USU dan arkeolog lain-lainnya. Ini sudah tidak mungkin dibantah, tetapi tentu saja masih bisa ngeyel atau pura-pura tidak tahu.
    Dan itulah yang terjadi dikalangan orang Batak/Toba dan yang pengaruhnya juga sangat besar bagi yang lain bukan Batak, sebagai buktinya admin Carrefour itu betul-betul diyakinkan ‘tidak mengerti’ kalau Karo bukan Batak.

    Carrefour tidak mengerti kalau dengan tindakannya itu telah menghina, melecehkan dan menghianati NKRI, dengan mengaburkan identitas satu suku bangsa Indonesia yang jadi unsur utama NKRI. NKRI tidak ada kalau tidak ada etnis/kultur yang banyak ragamnya itu dalam Bhinneka Tunggal Ika. Semua suku dan kulturnya, way of thinkingnya dan daerahnya, itulah NKRI. Carrefour harus belajar lebih banyak soal NKRI supaya tidak bikin kesalahan serius melecehkan NKRI dengan mengaburkan identitas salah satu dari suku bangsanya, disini karena pengaruh negatif desakan suku lain dalam ethnic competition.

    Dalam persaingan etnis di Indonesia, terutama antara Batak dan suku-suku lainnya yang dibatakkan oleh orang BatakToba itu sendiri, terutama Karo, Pakpak dan Simalungun, memang sangat istimewa. Diantara 3 suku yang dibatakkan ini, Karo terlihat lebih menonjol bikin perlawanan terutama dalam gerakan pencerahan KBB.

    Memang pernah juga terdengar SBB (Simalungun bukan batak) dan PBB (Pakpak bukan batak) tetapi ide bagus itu sepertinya tidak ditindak lanjuti, sebab utama ialah sikap kedua suku itu yang lengah atau tidak peduli situasi sekelilingnya dalam kehidupan sehari-hari, artinya desakan ethnic self-assertion tiap harinya. Apalagi yang terorganisasi rapi seperti perubahan nama Tahura, dan kejadian Carrefour itu. Juga kita belum lupa gerakan ‘horas’ di Kabanjahe ketika SBY berkunjung kesana. Semua kejadian ini tentu bukan kebetulan atau tidak disengaja, tetapi bisa dipastikan ada pengorganisasian dibelakangnya, dalam organisasi ‘asak-asak lembu’ sebagai taktik dan strategi ethnic competition yang sangat rapi dan sangat hierarkis, artinya dari atas kebawah dalam suku itu terorganisasi secara rapi.

    Semua sikap dan tindakan ini terorganisasi rapi, itulah ethnic competiton yang tidak bisa dielakkan. Setiap etnis punya taktik dan strategi untuk MENANG. Etnis-etni lain yang ditandingi harus cari jalan sendiri untuk bertahan supaya bisa survive tidak punah dalam persaingan itu atau dalam perjalanan ke kepunahan yang sudah pasti hanya akan merugikan kejayaan NKRI yang jadi tujuan bersama semua etnis/kultur untuk mempertahankannya.

    Dua suku (S dan P) ‘sudah jadi tamu didaerahnya sendiri’ (Simalungun dan Pakpak Dairi). Selangkah lagi tentu menuju fase kepunahan. Mungkin ini juga sudah jadi pelajaran penting bagi Karo dan anak-anak mudanya sehingga tidak diam saja dengan pelecehan dan usaha pengaburan identitas sukunya sebagai salah satu unsur NKRI itu. Dan generasi muda Karo sudah berusaha keras menjaga existensi dan keutuhan sukunya.
    Bravo anak-anak muda Karo, masa depan Karo ditanganmu.

    MUG

  2. Maaf pak saya enggak tau “kalo karo itu bukan batak” seharusnya ada perbincangan lebih bang, seharusnya abang bilang karo itu juga memang batak, tapi batak karo, kalo di batak karo sapaanya bukan horas tapi mejuah-juah, gitu bang.. Biar kita suku karo dan teman teman yang lainya juga gak gagal paham ya, tapi selain itu semuanya aksi dan tulisan abang saya suka, bagus:) mejuah-juah

Leave a Reply