Poster Carrefour Abaikan Kearifan Lokal

1
186

Laporan: Hevi S. Tarigan dan Bastanta P. Sembiring

 

Walau belum sempat menjadi viral di internet karena pihak managemen langsung menurunkannya setelah mendapat protes langsung dari kaum muda Karo. Poster dan spanduk ini, yang bergambar animasi sepasang muda mudi berpakaian adat Karo namun bertuliskan “horas”, sempat menjadi perbincangan hangat di grup-grup Karo di media sosial facebook, khusunya di grup Jamburta Merga Silma (JMS).

Tampak beberapa akun memposting gambar tersebut dan sontak ramai komentar yang kesemuanya menyayangkan dan mengecam tindakan pihak pengelola pusat perbelanjaan yang terletak di Jl. Letjen Jamin Ginting itu sebagai sebuah bentuk pelecehan terhadap Suku Karo yang nota bene merupakan suku asli dan pendiri Kota Medan.

“Ngga taulah ini kesengajaan atau memang kebodohan […], setau saya sapaan untuk orang Karo itu mejuah-juah bukan horas,” tulis akun bernama Nesti Sembiring di postingannya via facebook di grup JMS.

Akun yang bernama Kurnia Barus juga turut memberi komentar, tulisnya: “Salam Suku Karo itu mejuah-juah. Horas itu salam suku Batak. Jadi sagat tidak etis kemudian foto yang berpakaian adat Karo namun ditulis horas. Kita takut jika terus dibiarkan ini akan mengkaburkan identitas Karo. Harus kita protes segera! Apalagi kejadian ini terjadi di Kawasan Padangbulan, dimana merupakan kawasan yang masih dominan Suku Karo. Wah..! Ngeri ini”.

Rasa kecewa juga turut disampaikan Alfonso Maranatha Ginting: “Pertama aku lewat aku merasa tertarik karna ada dibuat gambar animasi berpakaian Karo. Langsung kudekati animasi pada dagangan yang ditawarkan di salah satu stan yang ada di Carrefour tersebut. Tapi setelah dekat, aku melihat tulisan gambar animasi itu tertulis “horas….” “Wah…!”, dalam hatiku langsung panas membara bagai seolah-olah menaparku,” cetusnya via akun faceboknya.

Bagi masyarakat Karo, apa yang dilakukan pihak Carrefour ini sangat menyakitkan hati, ini sama seperti dipecundangi di rumah sendiri, sehinga tak perlu tungu lama, keesokan harinya sejak foto itu diposting beberapa kaum muda Karo yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Karo (IMKA) dan Pemuda Merga Silima (PMS) langsung mendatangi lokasi dan meminta agar pihak pengelola untuk mencabut semua poster dan sepanduk yang banyak terpampang di dalam gedung tersebut.




“Padahal hari sudah larut, tapi kayaknya aku gak sabar menunggu pagi. Aku mulai sibuk mencari nomor hp teman-teman lainya utuk melaporkan hal ini. Carrefuor sudah melakukan pelecehan terhadap Suku Karo” sambung Ginting kesal.

Lagi tulis Ginting: “Setelah menghubugi beberapa rekan PMS dan IMKA dan membuat janji, maka keesokan harinya [22/1] langsng meluncur ke lokasi. Kami bukan mengancam, tapi jangan coba untuk mengusik kami”.

Setelah diakukan mediasi antara kaum muda Karo yang diwakili PMS dan IMKA, akhirnya Kepala Humas Carrefour meminta maaf dan staf scurity memohon agar masalah ini tidak diperpanjang.

Apa yang terjadi di Carrefour di Padangbulan (Medan) ini merupakan satu pelajaran agar ke depannya dalam melakukan sesuatu hal itu bukan aspek ekonomi saja yang perlu diperhatikan, tetapi juga menghormati kearifan loka juga sangatlah penting demi terciptanya keharmonisan.




1 COMMENT

  1. Labo carrefour ngenca Turang, Brastagi supermarket pe bage kang, H O R A S kang banna… epe perlukang siingetken man managementnya maka gantina.

    Bujur

Leave a Reply