Kolom Asaaro Lahagu: Sisa Harapan Jokowi Atas Ahok Kini Kembali Berseri

0
468

 

Sejak Ahok menjadi tersangka, Jokowi diam. Mengapa? Ia paham bahwa kasus Ahok sarat dengan bau busuk politik. Karena itu, untuk mencari kebenaran, ia membiarkan proses hukum berjalan. Supaya proses hukum berjalan, Jokowi bersama Tito membersihkan parasit yang berpesta-pora kegirangan atas kasus itu. Jokowi terus mengeliminasi para penunggang kasus, para pemancing di air keruh, hingga para bajingan politikus busuk.

Memasuki akhir Januari 2017, sepak terjang Jokowi untuk menekuk lawan-lawan politiknya semakin hebat. Sekarang bisa dilihat sendiri hasilnya. Spirit Demo 411 dan 212  sudah sangat menurun drastis. Para tersangka makar bungkam tak berkutik. Para penyandang dana makar terus was-was ketakutan. Mereka mulai stress mencari cara untuk menutupi aib keterlibatannya.

Rizieq yang terbang ke langit ke tujuh, sudah kembali membumi. Ia kini sibuk bertahan menghadapi berbagai kasus yang telah melilit dirinya. Rizieq lewat kaki tangannya hanya membuang waktu melapor ke sana ke mari, termasuk melaporkan Megawati dengan tuduhan aneh bin ajaib. Sementara itu, nama Bachtiar Natsir, ketua GNPF-MUI, sudah jatuh ke titik nadir akibat belangnya terbongkar. Ia diduga memberikan bantuan kepada teroris ISIS di Suriah.

Benar, bahwa Jokowi diam dan menaham diri untuk tidak mengomentari kasus Ahok. Akan tetapi di belakang layar, Jokowi bergerak membahana. Ia terus melakukan operasi senyap nan mematikan. Dua senjata utama Rizieq dan GNPF MUI yang menghantam Jokowi, yakni isu PKI dan membela Ahok yang kafir, telah dihancurkan. Penulis buku “Jokowi Undercover”, Bambang Tri Mulyono menangis rintih di tahanan. Sementara lambang palu arit pada uang BI justru berbalik menusuk tajam Rizieq.

Pada kasus Ahok sendiri, Jokowi pada awalnya dikira kalah dan menyerah, justru sekarang berbalik di atas angin. Semua para saksi pelapor yang dihadirkan Jaksa, terlihat abal-abal, bohong dan penuh kepalsuan plus kelucuan. Ketua Majelis Hakim yang mengadili kasus Ahok, Dwiarso Budi Santiarto pada sidang Ahok ke-7, sudah berani melempar pernyataan tegas. Dwiarso  mengatakan bahwa majelis hakim tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah.  Dwiarso menegaskan bahwa majelis hakim tidak akan tunduk pada tekanan-tekanan. Apa pesan dari Dwiarso itu?

Setelah Jokowi sukses mengeliminasi para penunggang demo, kini para hakim sudah berani berbicara lantang untuk menguak kebenaran. Jika hari ini keluar vonis bahwa Ahok bebas dari segala tuduhan, maka hakim akan berani mengeluarkan keputusan itu. Para hakim sudah tidak takut pada demo besar dengan jumlah massa 7 juta (hitungan alay dan lebay). Para hakim sudah bisa mengeluarkan putusan dari hati nuraninya.

Pun fakta sejarah pengadilan Indonesia bahwa tidak pernah ada orang yang bebas atas kasus penistaan agama, maka para hakim saat ini bisa mengeluarkan keputusan sebaliknya. Dalam sejarah ada orang yang dibebaskan dari tuduhan penistaan agama. Namanya Ahok. Dan, itulah sejarah baru di republik ini.

Bisa jadi, jika hari ini Ahok dinyatakan bebas, maka tinggal Amin Rais yang berkoak-koak bahwa Jokowi mengintervensi hukum. Sementara Din Syamsuddin yang berjanji memimpin perlawanan, ia akan terlihat bagai macan ompong. Dan tentu saja tinggal FPI dan ormas ganas lainnya yang jumlahnya seribuan, mati-matian terus berisik mengecam keputusan itu. Lalu, bagaimana kalau putusan atas Ahok dilakukan akhir Mei? Pasti spirit Demo 212 tinggal sayup-sayup ditelan suara ombak laut yang membuih putih.

Kini sisa harapan Jokowi atas Ahok yang sempat surut kembali berseri. Jelas Jokowi sangat mengharapkan Ahok memimpin ibu kota. Sepak terjang Ahok dalam menata ibu kota, tak bisa dilakukan oleh Agus dengan teori apungnya dan Anis dengan teori lukisnya. Sekarang masyarakat Jakarta yang sebagian besar silent majority mulai unjuk gigi. Dua survei terakhir pasca debat Pilkada DKI Jakarta, yakni survei Poltracking dan Indikator, menempatkan Ahok sudah kembali teratas mengungguli Agus dan Anis.

Hasil survey Indikator yang dirilis pada Rabu, 25 Januari 2017, menunjukkan bahwa elektabilitas Ahok sudah mencapai 38,2%. Sementara Agus merosot tajam pada  kisaran 23,8% dan Anis 23,6%. Mengapa? Karena ternyata cara menyampaikan gagasan, program kerja dan pemahaman masalah Jakarta, Ahok lebih unggul dan sudah terbukti.

Melihat situasi terkini, maka terlihat jelas bahwa skenario senyap Jokowi atas Ahok yang rela membiarkan Ahok tersangka terungkap sukses. Saya menjadi paham mengapa Jokowi tidak mengambil keputusan untuk ikut babak belur membela Ahok. Tadinya publik berharap bahwa Jokowi akan siap babak belur menyelamatkan Ahok. Tetapi, ternyata Jokowi punya strategi lain, yakni strategi operasi senyap. Saya semakin paham taktik Pakde Jokowi.




Jokowi rupanya menghindari gaduh dengan jalan memutar. Pada kasus kegaduhan yang ditimbulkan oleh Budi Gunawan, Budi Waseso, Rizal Ramli, Ignasius Jonan, Archandra Tahar misalnya, Jokowi memilih mundur selangkah baru menyerang dua langkah. Nah ini strategi jitu nan cantik. Strategi lompat kuda, lompat kodok lalu membidik anak panah yang mematikan.

Dalam strateginya, Jokowi lebih memilih mengorbankan Ahok untuk sementara. Bersamaan dengan itu, ia pelan-pelan mematikan lawannya lewat taktik senyap.Tekuk lawan dengan jalan memutar, menyerang sayap lawan dari kiri-kanan, kepung dari belakang, lalu kemudian menyerang secara bertahap inti pertahanan lawan. Nah, ketika kekuatan lawannya hilang setengah, barulah Jokowi membidikkan panahnya. Bersamaan dengan gemercik anak panahnya, harapan Jokowi atas Ahok untuk ikut mewujudkan revolusi mentalnya pun, kini kembali berseri.

Lalu mengapa taktik senyap Jokowi itu sukses? Karena Jokowi berada pada rel kebenaran. Jokowi ikhlas memajukan negerinya. Ia tidak bermuka dua, tidak rakus dan korupsi. Ia sama sekali tidak membiarkan keluarganya ikut mencicipi dan merebut kekuasaan. Berbeda dengan kubu mantan sebelumnya yang rakus untuk mewarisi kekuasaan. Selain itu, kesetiaan Jokowi untuk terus membela Pancasila dan UUD 1945, membuat ratusan juta rakyat ada di belakangnya. Ternyata Pancasila lagi-lagi sakti. Begitulah kura-kura.

Leave a Reply