Kolom Asaaro Lahagu: Ahok di Atas Angin, Agus-Anies Stress

1
334
Tina Talisa, moderator debat Pilkada DKI 2017 ke dua. Foto: Duniaku Network.

Sebetulnya debat tadi malam [Jumat 27/1] sudah diprediksi apa isinya. Publik yang menonton dan tidak menonton pun sudah paham kira-kira apa isi perdebatan. Dan, memang itulah yang terjadi. Pasangan Agus-Anies mencoba mati-matian menyerang Ahok, tetapi gagal total. Ahok terlihat santai karena ia hanya bertahan dan menangkis serangan-serangan keroyok dari Agus dan Anies.

Bagi saya sendiri, tidak ada yang baru dalam debat itu. Sudah dibahas banyak dalam berbagai tulisan. Tadinya memang saya menunggu ide baru yang lebih bernas dan brilian dari Agus dan Anies. Kalau Ahok sendiri, saya sudah paham cara kerja dan etos kerjanya yang menggetarkan dan membahana. Dalam menata ibu kota selama 2 tahun terakhir ini, kinerja Ahok sungguh luar biasa.

Sampai berakhirnya acara debat, saya tidak memperoleh dan menemukan ide luar biasa dari Agus-Anies. Malah ide keduanya dalam membangun Jakarta semakin kabur dan mengapung. Justru ide Agus dan Anies untuk menata birokrasi dan menata pemukiman kumuh terlihat rancu, lucu, mengawang dan menerawang. Kedua pasangan ini hanya berusaha melawan ide program Ahok. Jadi asal beda, asal antitesa. Akibatnya argumen dan ide mereka terlihat konyol dan tak jelas. Saya bisa katakan bahwa ide Agus dan Anies untuk menata birokrasi dan pemukiman di bantaran sungai adalah ide bingung nan stress.

Saya ambil 2 contoh saja. Soal menata birokrasi di DKI. Saya nilai kebijakan Ahok sangat jitu, mempan dan pas. Gaji dan kesejahteraan pegawai dinaikkan berkali-kali lipat. Para pegawai yang berkualitas dan berkinerja hebat mengisi jabatan dengan cara lelang. Celah korupsi ditutup rapat dan pelayanan masyarakat nomor satu. Mereka yang bermalas-malasan, mengambil pungli dan berkinerja buruk disingkirkan atau dipecat. Hasilnya? Jika anda pergi ke kantor-kantor kelurahan, kecamatan di seluruh Jakarta, mental pejabatnya sudah berubah total. Dan, itu adalah bukti.

Contoh ke dua adalah penataan pemukiman kumuh di pinggir sungai. Ahok terlebih dahulu membangun rusun dan menyediakan berbagai fasilitas di sana. Sesudah siap, rumah-rumah di bantaran sungai digusur. Penghuninya dipindahkan ke rusun dengan berbagai insentif dan bantuan lain dari pemerintah. Sesudahnya sungai-sungai dikeruk, diperlebar, dibeton dan dibuat jalan inspeksi. Hasilnya? Sungai bersih, banjir berkurang hingga 75%, kota pun menjadi indah berseri. Dan, itulah bukti.

Agus? Ah serangannya itu-itu saja. Dia mengecam cara Ahok yang memarahi dan memecat anak buahnya. Agus yang anak papa, belum tahu bagaimana kinerja birokrat DKI yang amburadul sebelum Jokowi dan Ahok. Menurut Agus, para PNS di DKI harus dihargai, disayangi, dibela dan dimanjakan. Kurang lebih begitu. Yang gawat, Agus mengatakan bahwa untuk mendisplinkan birokrasi di DKI, ia akan menempuh cara-cara militer. Ini malah lebih berbahaya.

Soal menata pemukiman, Agus bersih keras untuk tidak menggusur. Namun setelah dikejar, Agus akhirnya mengakui bahwa ia akan menggeser sedikit pemukiman. Ini juga lucu nan kabur. Menggusur dan menggeser rumah tidak ada bedanya. Baik rumah yang digeser maupun yang digusur toh dua-duanya hancur. Ah, asal program beda. Beda malah tidak jelas. Mending ikuti cara Ahok menggusur namun ditambah dengan pemberian uang  1 Miliar sebagai pengganti bagi rumah yang digusur misalnya. Itu lebih konkrit.

Anies? Ah serangannya itu-itu saja. Anies mengecam cara Ahok yang pemarah dan tukang pecat. Menurut Anies, dalam menata birokrasi di ibu kota harus melibatkan warganya alias open goverment. Ah, gotong royong lagi. Anies belum paham bagaimana ributnya mengajar warga Jakarta yang terbiasa amburadul. Soal penataan pemukiman di bantaran sungai, Anies lagi-lagi memfokuskan diri pada manusianya. Jadi, kalau kualitas manusianya sudah di-upgrade, maka mereka sendiri akan pindah dari bantaran sungai. Butuh berapa tahun itu, mas Anies?




Soal reklamasi yang menjadi senjata pamungkas Anies, argumennya juga semakin tak jelas. Pada acara Mata Najwa, Sandiaga  setuju dengan Anies untuk menghentikan reklamasi. Namun setelah dikejar, akhirnya kedok Anies dan Sandiaga terbongkar. Keduanya tak punya konsep yang jelas untuk memikirkan nasib pengembang, nasib pembeli dan seterusnya. Jawabannya nanti kita pikirkan. Jadi asal beda.

Dalam debat tadi malam, saya menjadi kasihan kepada Agus-Anies yang mencoba membantai Ahok dengan pertanyaan dan pernyataan maut mereka. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Ahok dengan lugas membantai kedua pasangan lawannya dengan argumen-argumen cerdas karena memang Ahok dan Djarot sangat menguasai akar masalah Jakarta. Mereka sangat paham seluk-beluk birokrat mulai dari A sampai Z.

Hal yang terjadi dalam debat semalam, Ahok dan Djarot mengajari Agus dan Anies bagaimana seharusnya birokrat itu bekerja. Tak heran dalam debat tadi malam, Ahok-Djarot menang telak atas Agus dan Anies. Dengan kata lain, Ahok di atas angin. Sementara Agus dan Anies semakin stress mencari cara menekuk Ahok dalam debat.

Kesimpulannya, hampir semua ide dan program Agus hanya bermodal kata yakin, yakin dan yakin. Sementara Anies hanya mengumbar janji bidadari di langit ke tujuh. Anies malah menggiring masyarakat Jakarta untuk tinggal di menara gading. Di balik ide keduanya, saya menemukan dalam diri Agus dan Anies rasa bingung dan stress cara menekuk Ahok. Ah, kalau masyarakat Jakarta semua waras, pasti tahu siapa yang layak membenahi kota mereka. Begitulah Kura-kura.

Salam waras ala saya.

1 COMMENT

Leave a Reply