Community Learning

1
213

Oleh: Alfonso Maranatha Ginting (Medan)

 

Perkembangan jaman yang begitu pesat, telah menggerus keberadaan Suku Karo di kampungnya sendiri. Sadar atau tidak, itulah yang sudah terjadi. Bukankah pendiri Kota Medan adalah seorang manusia dari Suku Karo yang bernama Guru Patimpus bermerga Sembiring Pelawi? Bukankah nama – nama jalan, kota, desa di Medan adalah sebagian dari bahasa Karo? Bukankah perkampungan di Kota Medan adalah perkampungan yang dulunya perkampungan Karo?

Madan yang berubah nama menjadi Medan. Kesain yang berubah nama menjadi Kesawan. Songgal yang berubah nama menjadi Sunggal. Belum lagi perkampungan-perkampungan Karo yang terdapat di Kota Medan seperti, Tanjung Merawa, Lubuk Pakam, Deski, Simalingkar, Padang Bulan (Padang Mbelang), Lau Cih, Sempa Kata, dan lain-lainnya.

Lalu ketika terjadi masalah seperti penulisan kata Horas dengan memakai baju kebesaran adat Karo di spanduk makanan yang ada di pusat perbelanjaan Carefour, kata horas yang terdapat di pintu masuk swalayan Brastagi dan bahkan bus Damri yang merupakan milik pemerintah menulis kata Horas di atas kain kebesaran Karo beka buluh. Spanduk yang berpakaian adat suku lain tetapi dibuat oleh Pemkab Karo. Orang Medan, Sumatera bahkan Indonesia kurang mengetahui bahwasanya di Sumut ada suku yang bernama Karo sebagai pendiri Kota Medan.




Salahnya di mana?.

Salahnya terletak pada diri kita sendiri, kekeliruan itu disebabkan keteledoran kita sendiri. Ketika hal itu terjadi kita seolah – olah seperti kebaran jenggot. Kita mengamuk.

Cinta budaya bukan harus seperti memakai kacamata kuda yang tidak mau melihat sekelilingnya dan bukan menjadi kolot. Cinta adat bukan harus mencampakkan agama kita. Cinta budaya dan adat adalah proses pembauran kita terhadap sekeliling, ikut dalam perkembangan jaman, taat kepada agama.

Dentuman meriam sudah terdengar. Pasukan musuh sudah membuat siasat. Saatnya kita memakai perisai Budaya Karo dan pedang Adat Karo untuk tetap berdiri tegak dan memenangkan peperangan, melawan perkembangan jaman sehingga kita tidak tergerus dan leyap dimakan jaman.

1 COMMENT

  1. “Cinta budaya bukan harus seperti memakai kacamata kuda yang tidak mau melihat sekelilingnya dan bukan menjadi kolot.” (AMG)
    Banyak arti yang mendalam dalam artikel ini, dan perlu bukan hanya untuk direnungkan (refleksi) tetapi perlu pelaksanaan dalam bersikap dan bertindak.

    Ada sekitar 10 etnis/kultur dunia diluar Indonesia yang bakal segera punah. Artinya ini terjadi di jaman modern sekarang ini, kepunahan etnis masih akan terjadi terus. Salah satu yang terdekat ialah etnis ‘Batak’ di Filipina pulau Palawan (istilah ‘Batak’ tidak ada sangkut pautnya dengan orang Batak di Sumut) . Sekarang suku ini hanya tinggal sekitar 500 orang. Suku ini sudah puluhan ribu tahun mendiami Palawan. Sekarang sudah dapat perlindungan dari pemerintahan Filipina supaya tidak terus menerus didesak daerah kediaman suku ini. Tetapi survival suku ini masih terus terancam.

    Sebab kepunahan yang utama ialah mereka itu terdesak dan tidak bisa mempertahankan dirinya untuk survive. Tidak ada pemimpinnya yang bisa maju memimpin perjuangan dari desakan orang luar dan bertahan. Nasibnya tergantung ‘alam’ saja. Disini tidak tepat juga kalau dikatakan kalah dalam ethnic competition, terutama karena mereka didesak saja tanpa perlawanan sama sekali. Mereka tidak mengerti melawannya, karena mereka hanyalah manusia alamiah yang selama hidupnya hanya berjuang melawan alam dalam mempertahankan hidupnya. Karena itu mereka hanya siap untuk punah.

    Tidak sejauh itu, bisa juga kita lihat suku Simalungun dan suku Pakpak Dairi yang sekarang sudah boleh dikatakan sudah ‘menjadi tamu didaerahnya sendiri’. Istilah ini saya ambil dari ucapan seorang mahasiswa Simalungun ketika permulaan reformasi. Sudah agak lama, ketika sedang meriahnya ethnic revival pada permulaan reformasi setelah lengsernya Soeharto. Ketika itu ada juga orang Simalungun yang bilang, kalau tidak salah ingat diucapkan oleh seorang menteri orang Simalungun, katanya orang Toba kalau ke Karo, mereka ikut berbahasa Karo, tetapi kalau orang Toba ke Simalungun, orang Simalungun ikut berbahasa Toba, katanya. Ini menunjukkan bagaimana perbedaan mobilitas dan self-assertion suatu etnis/kultur menentukan perkembangan kulturnya dan survivalnya.
    Sekarang jarang sekali terdengar ‘persaingan’ Simalungun kontra Toba ini. Terakhir kita dengar bagaimana orang Simalungun menyatakan protesnya kerena di Parapat seorang menteri dipakaikan adat Toba, dan bupati Simalungunpun menangis keluar airmata sedih. Ada bagusnya memang, karena Jokowi pun yang hadir juga disitu jadi bertanya atau mempelajari mengapa bupati Simalungun menangis.

    ‘tidak mau melihat sekelilingnya’ kata AMG, barangkali itulah semua kesimpulan mengapa bisa terjadi sejauh itu, terdesaknya suku Simalungun oleh suku Toba. Keadaan sekeliling tiap harinya mereka tidak pernah gubris atau pura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Desakan etnis lain bukan tiba-tiba, tetapi berangsur-angsur dan semakin ketat.

    Memang setiap suku punya karakteristik tersendiri dalam sifat dan tingkah lakunya sehari-hari, sifat dan tingkah mana erat dengan kulturnya dan way of thinkingnya, artinya bukan dibuat-buat seketika saja. Atau malah bisa dikatakan adalah semacam sifat bawah sadar. Atau seperti DR RE Nainggolan pernah bilang kalau orang Batak dibawah sadarnya punya jiwa berlomba, dan dia ingin menang katanya. Orang Simalungun kelihatannya lebih dekat dengan jiwa ‘bawah sadar’ Karo, dalam siagengen radu mbiring, sikuningen radu megersing. Sama-sama menang atau sama-sama kalah. Celakanya ialah orang lain tidak mau kalah, hanya mau menang, dan terus menang. Masih mungkinkah dipertahankan filsafat hidup Karo ini atau perlu ada perubahan?

    Untuk singkatnya saya serahkan kepada orang Karo semua, bagaimana menghadapi persaingan etnis dengan suku yang bawah sadarnya terus akan manantang berlomba dan mau menang terus dalam ethnic competition dunia itu. Perlukan kita bikin perubahan atau menunggu kepunahan seperti dua suku sahabat kita itu?

    MUG

Leave a Reply