Kolom Asaaro Lahagu: Jika Sylviana Tersangka, Pasangan Agus-Sylvi Tamat

0
238
Foto: OptiDaily

 

Senin besok, 30 Januari 2017, Bareskrim Polri akan kembali memeriksa Sylviana. Jelas pemeriksaan Sylvie membuat bulu kuduk para pendukungnya menenggang. Alasannya, kasus yang melibatkan Sylvie itu sudah naik ke tingkat penyidikan. Artinya polisi sudah menemukan 2 alat bukti, plus calon tersangka. Polisi kini tinggal melengkapi bukti-bukti valid dan sahih sebelum mengumumkan siapa tersangkanya.

Jelas pemeriksaan Sylviana Senin besok itu, sangat mengkhawatirkan para pendukungnya. Pertanyaan besarpun mengaung-ngaum di telinga mereka. Bagaimana jika Sylviana ditetapkan oleh Polisi menjadi tersangka? Bukankah akan terjadi kiamat bagi pasangan Agus-Sylvie? Pilkada 15 Februari 2017 yang sudah di depan mata, tak akan mampu memberi kesempatan bagi keduanya untuk menarik nafas. Bisa dipastikan pemberian sematan tersangka kepada Sylviana, akan langsung meruntuhkan moral Agus dan para pendukungnya.

Sylvie mulai bolak-balik  mendatangi kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan karena ia tersandung dua kasus besar. Pertama, dugaan korupsi pembangunan Masjid Al Fauz di Kantor Wali Kota Jakarta Pusat. Saat itu Sylvie menjabat sebagai Wali Kota Jakarta Pusat. Ke dua, dugaan korupsi pengelolaan dana hibah Kwartir Daerah Pramuka DKI Jakarta tahun anggaran 2014 dan 2015. Saat itu Sylviana yang menjabat sebagai Deputi Gubernur DKI Jakarta bidang Kebudayaan dan Pariwisata, didaulat sebagai Ketua Kwarda Pramuka Jakarta Periode 2013-2018.

Dugaan korupsi pada kasus Bansos inipun statusnya sudah dinaikkan dari penyelidikan ke penyidikan oleh kepolisian. Pada kasus ini, Sylviana sebelumnya sudah diperiksa oleh Polisi pada tanggal 20 Januari lalu. Saat itu, denyut-denyut nadi para pendukung Agus-Sylvie bergetar-getar. Kendatipun Sylviana masih sebagai saksi, namun publik sudah mulai menduga-duga sekaligus bertanya-tanya apakah Sylviana punya keterkaitan atas kedua kasus itu. Publik pun tidak bisa menjawabnya. Hanya para penyidik polisi yang tahu. Yang jelas pemanggilan Sylviana untuk diperiksa oleh pihak Bareskrim Polri, sudah cukup membuat Sylviana sendiri ketar-ketir.

Jika Bareskrim Polri menemukan 2 alat bukti kuat, maka saya yakin polisi tidak ragu sedikitpun untuk menetapkan Sylviana sebagai tersangka. Kendatipun Sylviana merupakan kontestan Pilkada DKI 2017, namun hal itu tidak menghalangi polisi untuk menetapkan siapapun yang terbukti korupsi sebagai tersangka. Alasannya, Ahok sendiri sudah duluan ditetapkan sebagai tersangka dugaan penistaan agama. Dan, ini adalah untuk memenuhi rasa keadilan sampai lebaran kuda.

Megawati Soekarno Putri. Foto: Berita Redaksi

Suhu politik panas perebutan kursi Gubernur DKI memang luar biasa menggelora. 4 tokoh politik berada di balik pihak-pihak yang sedang bertarung. Ada Prabowo, ada SBY, Megawati dan Jokowi. Tokoh-tokoh ini saling mengeluarkan jurus mautnya untuk menjegal pasangan lainnya. Jurus SBY yang melempar kata demo sampai Lebaran Kuda, sukses besar menjadikan Ahok sebagai tersangka. Hasilnya, selama 2 bulan, Agus-Sylvie merajai berbagai survei dan menekuk pasangan Ahok-Djarot yang sebelumnya tak tertandingi. Akan tetapi setelah sidang-sidang Ahok dan acara debat 2 kali, pelan namun pasti, Ahok-Djarot bangkit dan berbalik merajai berbagai survei.

Tentu saja senjata maut yang telah dilempar oleh SBY itu, akan membuat tokoh lainnya berusaha keras mencari senjata pamungkas lain untuk membalasnya. Tokoh lain itu yang saya sebut The Operator, siap memuntahkan senjata pamungkasnya di saat yang tepat. Dugaan keterlibatan Sylviana pada dua kasus di atas akan menjadi senjata pamungkas The Operator untuk menekuk pasangan Agus-Sylvie pada Pilkada DKI 15 Februari mendatang

Bisa dipastikan jika Sylviana menjadi tersangka, maka masyarakat DKI tidak akan mau memilih pasangan Agus-Sylvie. Besar kemungkinan jika Sylvie tersangka, ia sulit bangkit seperti Ahok mengingat waktu yang sangat dan amat sempit. Bisa jadi pasangan Agus-Sylvi langsung tereliminasi pada putaran pertama. Artinya pasangan ini akan tamat. Nah, apakah tokoh lain yang saya sebut The Operator tadi mau menekuk Sylvie pada putaran pertama?

Jika The Operator mau, maka bisa jadi Sylviana (jika cukup bukti) langsung mendapat gelar sebagai tersangka sebelum pemungutan suara 15 Februari mendatang. Sebaliknya jika The Operator mengulur waktu, dan mengeliminir lebih dulu pasangan Anies-Sandiaga, maka The Operator membiarkan Agus-Sylviana maju pada putaran ke dua. Senjata pamungkas tadi akan disimpan untuk sementara sebagai senjata maut yang akan dipakai untuk menekuk Agus-Sylviana pada putaran ke dua. Hasilnya pun sama saja berkhasiat dan berdaya guna. Sekarang tinggal maunya The Operator, sekarang atau sesudah 15 Februari mendatang.

Sekarang The Operator punya banyak senjata untuk menekuk lawan-lawan politiknya. Bebasnya Antasari yang sebentar lagi masuk barisan PDIP, akan mengungkap kembali rekayasa tuduhan pembunuhan kepada Antasari. Prediksi saya, dalam gerak senyap, The Operator sudah menyiapkan senjata maut lain yang akan dikeluarkan pada saat yang tepat guna menekuk lawan-lawannya. Ini sangat menakutkan, karena dilakukan penuh persiapan dalam gerak senyap. Pada saatnya akan keluar membahana dan sulit dilawan.




Gerak senyap The Operator yang ada di balik layar, jelas telah dibaca oleh para pendukung Agus-Sylviana. Kalau diperhatikan baik-baik, ucapan Sylviana yang menyebut nama Jokowi terkait pengelolaan dana Bansos, adalah ucapan panik dan ketakutan. Sylviana mencoba mengaitkan nama Jokowi untuk membentuk sebuah opini agar The Operator mengerem langkahnya. Konferensi pers yang dilakukan oleh Hinca Pandjaitan [Jumat 27/1] yang meminta Polri, TNI, BIN netral dan tidak merusak displin serta etika keprajuritan dan kepolisian, adalah bentuk antisipasi nyata untuk menahan gerak senyap The Operator.

Kini, saat ditanya media terkait 2 kasus yang sedang melilitnya, Sylviana hanya mengatakan bahwa itu adalah ujian dan bagian dari meningkatkan kualitas dirinya. Bahkan pemeriksaan oleh Bareskrim Polri itu direspon oleh Sylviana sebagai bentuk penzaliman. Ia merasa dalam posisi dirugikan. Apakah kata-kata Sylviana itu bisa membuat warga Jakarta percaya begitu saja? Jelas belum tentu.

Kata-kata Sylviana itu malah membuat publik mengingat ucapan Hakim Konstitusi MK, Patrilias Akbar, yang bersumpah atas nama Allah bahwa ia tidak korupsi dan menerima satu Rupiahpun saat ia ditetapkan sebagai tersangka suap oleh KPK. Padahal faktanya menurut KPK, Patrialis sebelumnya sudah 2 kali menerima suap.

Nah, apakah kata-kata Sylviana juga bisa dipercaya begitu saja bahwa ia sedang dizalimi? Entahlah. Yang jelas, badai kepada Ahok telah berlalu, badai untuk Sylvie mulai datang bergemuruh. Begitulah kura-kura.

Leave a Reply