Kolom M.U. Ginting: SIKAP TEGAS KBB

0
216

 

Dalam ethnic competition, banyak cara dipakai oleh tiap etnis; cara kasar atau cara halus. Dengan cara ‘mengaburkan identitas’ ini, apakah halus atau kasar, semua bisa bikin penilaian. Terpenting saya pikir, tujuannya jelas, mengaburkan identitas, apalagi dalam hal ini sesuai dengan tujuan konspirasi ‘membatakkan Karo’ dan sekaligus menentang gerakan pencerahan KBB.

Sikap tegas Alfonso Maranatha Ginting dan teman-teman patut dapat pujian dari seluruh masyarakat Karo. Di sini, jelas terjadi pengaburan identitas dan pelecehan terhadap Suku Karo sebagai salah satu suku utama di Sumut.

Karo adalah suku asli Sumut yang tertua di Sumatra, budayanya sudah berumur 7.400 tahun terbukti dari penemuan arkeologi terakhir di Dataran Tinggi Gayo. DNA fosil tua itu adalah dari Suku Karo dan Suku Gayo. Kalau dibandingkan dengan suku Batak (Toba) yang datang dari jurusan Taiwan baru datang ke Sumatra sekitar 500-700 tahun lalu dari hasil penggalian di daerah Batak Tapanuli oleh arkeologi USU dan arkeolog lain-lainnya.

Ini sudah tidak mungkin dibantah, tetapi tentu saja masih bisa ngeyel atau pura-pura tidak tahu. Itulah yang terjadi di kalangan orang Batak/ Toba dan yang pengaruhnya juga sangat besar bagi yang lain bukan Batak. Sebagai buktinya, admin Carrefour itu betul-betul diyakinkan ‘tidak mengerti’ kalau Karo bukan Batak.

Carrefour tidak mengerti kalau dengan tindakannya itu telah menghina, melecehkan dan menghianati NKRI, dengan mengaburkan identitas satu suku bangsa Indonesia yang jadi unsur utama NKRI. NKRI tidak ada kalau tidak ada etnis/ kultur yang banyak ragamnya itu dalam Bhinneka Tunggal Ika. Semua suku dan kulturnya, way of thinkingnya dan daerahnya, itulah NKRI. Carrefour harus belajar lebih banyak soal NKRI supaya tidak bikin kesalahan serius melecehkan NKRI dengan mengaburkan identitas salah satu dari suku bangsanya, di sini karena pengaruh negatif desakan suku lain dalam ethnic competition.

Dalam persaingan etnis di Indonesia, terutama antara Batak dan suku-suku lainnya yang dibatakkan oleh orang Batak Toba itu sendiri, terutama Karo, Pakpak dan Simalungun, memang sangat istimewa. Diantara 3 suku yang dibatakkan ini, Karo terlihat lebih menonjol bikin perlawanan terutama dalam gerakan pencerahan KBB.

Memang pernah juga terdengar SBB (Simalungun bukan batak) dan PBB (Pakpak bukan batak) tetapi ide bagus itu sepertinya tidak ditindak lanjuti, sebab utama ialah sikap kedua suku itu yang lengah atau tidak peduli situasi sekelilingnya dalam kehidupan sehari-hari, artinya desakan ethnic self-assertion tiap harinya. Apalagi yang terorganisasi rapi seperti perubahan nama Tahura, dan kejadian Carrefour itu. Juga kita belum lupa gerakan ‘horas’ di Kabanjahe ketika SBY berkunjung ke sana.

Semua kejadian ini tentu bukan kebetulan atau tidak disengaja, tetapi bisa dipastikan ada pengorganisasian di belakangnya, dalam organisasi ‘asak-asak lembu’ sebagai taktik dan strategi ethnic competition yang sangat rapi dan sangat hierarkis, artinya dari atas ke bawah dalam suku itu terorganisasi secara rapi.




Semua sikap dan tindakan ini terorganisasi rapi, itulah ethnic competiton yang tidak bisa dielakkan. Setiap etnis punya taktik dan strategi untuk MENANG. Etnis-etni lain yang ditandingi harus cari jalan sendiri untuk bertahan supaya bisa survive tidak punah dalam persaingan itu atau dalam perjalanan ke kepunahan yang sudah pasti hanya akan merugikan kejayaan NKRI yang jadi tujuan bersama semua etnis/ kultur untuk mempertahankannya.

Dua suku (S dan P) ‘sudah jadi tamu di daerahnya sendiri’ (Simalungun dan Pakpak Dairi). Selangkah lagi tentu menuju fase kepunahan. Mungkin ini juga sudah jadi pelajaran penting bagi Karo dan anak-anak mudanya sehingga tidak diam saja dengan pelecehan dan usaha pengaburan identitas sukunya sebagai salah satu unsur NKRI itu. Dan generasi muda Karo sudah berusaha keras menjaga existensi dan keutuhan sukunya.

Bravo anak-anak muda Karo, masa depan Karo di tanganmu.

Leave a Reply