Kisah Nyata KBB, Cukup Memprihatinkan

0
400

Oleh: Edi Warta Surbakti (Kandis, Riau)

 

Sekitar 2 tahun lalu di Pasar Minggu Kandis (Riau), dibuatlah acara Pelantikan Pengurus Ikatan Keluarga Batak Riau (IKBR) wilayah Kandis yang dihadiri oleh seluruh unsur dari Muspika, TOGA, TODAT, Tokoh Pemuda-pemudi, dan beberapa anggota DPRD Siak. Acara ini direncanakan akan dihadiri oleh Bupati Siak, Syamsuar. Pelantikan dilakukan oleh Pengurus IKBR Provinsi Riau.

1 jam sebelum acara dimulai, kami hanya ada 2 orang dari Suku Karo, dan beberapa yang bukan kalak Karo menjumpai Bupati Siak dengan maksud hati meminta Bupati Siak selaku “bapak” dari semua suku di Kabupaten Siak, agar tidak hadir dalam acara tersebut walaupun Bupati sudah tiba di Kandis. Dia menerima permintaan dan batal menghadiri acara tersebut.

Kami yang 2 orang Karo dan beberapa orang non Karo datang menghadiri acara tersebut. Sebelum acara dimulai kami langsung naik ke podium ataupun pentas acara. Saya pun meminta mikropon dan memberikan statement.

“Apa yang kalian kerjakan ini tidak benar. Jangan coba ikutkan etnis Karo di Kandis ini dengan IKBR yang kalian bentuk. Kami Suku Karo tidak setuju dan tidak terlibat dengan IKBR Kandis. Jangan perjual-belikan Kalak Karo. Untuk Kalak Karo yang ikut, silahkan. Tapi, ingat, kam ikut secara pribadi, bukan atas nama Suku Karo. Terima kasih,” kata saya dengan tegas.

Tidak ada yang berkomentar, semua diam. Sebahagian tamu langsung berdiri dan menyalami kami. Semua orang Karo yang mau ikut dilantik tadi, langsung keluar bersama kami dan tidak jadi dilantik.

“Maaf, silih, kurang pengangka kami,” kata mereka.

Apa sebatas bahwa Kita Kalak Karo, Karo Bukan Batak? Apa sebatas bangga menjadi Kalak Karo, tanpa mengetahui dan melestarikan adat budaya Karo?

Tentu tidak. Sentabi.
Mejuah-juah.




Leave a Reply