Kolom Asaaro Lahagu: Ahok Sibak Semak, SBY Ngaku, Ma’ruf Amin Malu

0
318

 

Setelah FPI ditekuk, para lawan Ahok mencari siasat baru. Mereka kini mencoba memancing kemarahan umat NU untuk menghabisi Ahok. Caranya: ucapan Ahok terhadap Ma’ruf Amin dalam sidang ke-8 itu yang sebetulnya sebagai pembelaan dirinya, dibesar-besarkan dan digelembungkan. Munculah provokasi dan tuduhan baru. Ahok telah menghina Ma’ruf, Ahok telah melukai hati umat Islam, Ahok telah menista warga NU.

Taktik jitu. Para lawan Ahok kini mencoba mengatasnamankan warga NU. Mereka mati-matian bersuara nyaring senyaring mungkin agar warga NU ikut terprovokasi. Mereka terus menyanjung dan memuji Ma’ruf sebagai orang yang sangat dihormati, disegani, dimuliakan karena dia adalah Ketua MUI sekaligus Rais Aam PBNU, pimpinan tertinggi dalam jam’iyah NU.

Jelas jika warga NU terpancing, maka akan ada perlawanan keras kepada Ahok menjelang Pilkada DKI 15 Februari 2017 mendatang. Ujung-ujungnya, Ahok terjegal dan tarantuk lagi dan lagi. Bukan tidak mungkin, ucapan Ahok dalam sidang ke-8 itu akan dijadikan senjata baru untuk kembali menghantam Ahok. Apakah itu berhasil? Mari kita telaah sidang Ahok ke-8, kejujuran Ma’ruf dan pengakuan SBY.

Sidang ke-8 sangat jelas menguntungkan Ahok. Berbagai pengakuan mengejutkan Ma’ruf Amin telah membuka misteri di seputar keluarnya fatwa. Ma’ruf pun mengakui bahwa ia tidak menonton langsung video Ahok, tidak penting bertemu Ahok dan mengakui bahwa keluarnya fatwa karena desakan masyarakat. Ma’ruf juga secara lucu membantah bahwa MUI tidak ada hubungan dengan gerakan Demo 411 dan 212 serta tidak pernah menerima telepon dari SBY.

Pengakuan-pengakuan Ma’ruf itu membuat publik semakin yakin bahwa vonis MUI kepada Ahok telah menista agama dan ulama adalah sangat tendensius. Ketika Ma’ruf membantah bahwa dia tidak pernah bertelepon dengan SBY, maka Ahok yang mempunyai bukti percakapan itu langsung merespon dengan keras. Respon keras itulah yang dicoba dibesar-besarkan kembali oleh para lawan Ahok.

Pernyataan Ahok bahwa ada telepon dari SBY kepada Ma’ruf sontak membuat SBY keluar dari sarangnya. Hari ini SBY memberikan klarifikasi kepada media dengan suara galau nan parau. SBY mengakui bahwa ia sebetulnya sudah tak tahan lagi ingin bertemu dengan Jokowi dan menjelaskan semua penderitaannya selama ini. Namun pertemuan itu masih belum terlaksana karena ada pihak-pihak yang melarang Jokowi bertemu dengan dirinya. Sedih.

Hal yang mengejutkan adalah pengakuan SBY bahwa ada percakapan dirinya dengan Ma’ruf. Ternyata pengakuan Ma’ruf  di persidangan bahwa tidak pernah ada percakapan telepon antara dirinya dengan SBY, dibantah sendiri oleh SBY. SBY mengakui bahwa ada percakapan. Dengan demikian SBY meluruskan pernyataan Ma’ruf Amin yang sebelumnya membantah adanya percakapan tersebut. Itu berarti membuka kedok Ma’ruf  yang ternyata tidak jujur dalam kesaksiannya.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa SBY mengakui adanya percakapan telepon dengan Ma’ruf dan rela mencoreng wajah Ma’ruf? Itu jelas karena SBY sudah mulai panik. Ia paham bahwa ada bukti percakapan teleponnya dengan Ma’ruf. SBY sendiri mengaku bahwa ia telah disadap. Jadi ia tidak bisa lagi menutupi bahwa percakapan telepon dirinya dengan Ma’ruf tidak pernah ada. Jadi, tidak ada pilihan selain mengakui adanya percakapan itu lebih cepat kendatipun membuat wajah Ma’ruf Amin tercoreng.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa Ahok akhirnya minta maaf kepada Ma’ruf Amin dan tidak melaporkan Ma’ruf kepada polisi?

Pertama, Ahok jelas telah berhasil menguak ketidakjujuran Ma’ruf kepada publik. Ketika lawan-lawannya menjadikan Ma’ruf sebagai korban baru penghinaan Ahok, Ahok dengan cepat melokalisir masalah agar tuduhan baru itu tidak dipelintir yang akhirnya memprovokasi warga NU.




Ke dua, Ahok sama sekali tidak keberatan meminta maaf kepada Ma’ruf. Alasannya publik akan menilai apakah permintaan maaf Ahok itu layak untuk seorang Ma’ruf atau tidak. Dibanding dengan apa yang telah Ahok bongkar di depan publik, maka permintaan maaf yang telah disampaikan Ahok itu bukanlah masalah besar bagi Ahok dan para pendukungnya.

Ke tiga, permintaan maaf Ahok itu adalah bentuk kerendahan hati seorang Ahok. Kalau memang ada yang merasa tersinggung, maka Ahok tidak segan-segan meminta maaf. Ketika Ahok menyerempet Surat Al-Maidah ayat 51 di Kepulauan Seribu 27 September 2016 lalu, Ahok juga minta maaf. Namun bukan itu substansi masalahnya. Masalahnya adalah benarkah ada percakapan telepon itu? Lalu apa isinya?

Nah, dengan adanya pengakuan SBY yang membantah pernyataan Ma’ruf, maka publik juga menunggu permintanf maaf Ma’ruf bahwa ia tidak jujur di pengadilan terkait adanya telepon dari SBY itu. Ini jelas menjadi pertanyaan besar publik. Atau sebaliknya, ucapan Ahok kepada Ma’ruf  malah akan terus dibesar-besarkan dan berujung pada keluarnya fatwa baru: Ahok telah menghina Ma’aruf, menghina ulama?


[one_fourth]Kesimpulan[/one_fourth]

Permintaan maaf Ahok dan pengakuan SBY hari ini, telah terus membuka nalar publik. Tuduhan Ahok kepada Ma’ruf bahwa ada percakapan telepon dirinya dengan SBY ternyata bukan fitnah namun benar adanya. SBY sendiri telah mengakui hal itu. Terlepas apa isi percakapan itu, namun pengakuan bahwa adanya telepon SBY kepada Ma’ruf telah membuat publik semakin paham tentang apa sebenarnya yang terjadi sebelum fatwa MUI dikeluarkan.

Jadi, sidang Ahok ke-8 telah membuka secara terang-benderang siapa Ma’ruf Amin. Ketika Ahok mencoba menyibak semak, menguak sosok Ma’ruf, para lawan Ahok sangat sensitif. Mereka mencoba menjadikan ucapan Ahok sebagai senjata baru untuk menghantamnya. Namun Ahok cepat bergerak. Ia dengan cepat meminta maaf kepada Ma’ruf yang membuat Ma’ruf dan pendukungnya malu karena ternyata SBY mengakui kebenaran ucapan Ahok itu.

Jelas para lawan Ahok saat ini sudah kehabisan isu untuk menghantam Ahok. Para lawan Ahok sedang menderita kehabisan isu. Ahok kini semakin membuktikan dirinya tahan uji. Elektabilitasnya pun kembali rebound, tertinggi dari kedua pasangan lainnya. Nah, apakah kebenaran masih ditutup-tutupi? Mari kita tanya kepada kura-kura.

Leave a Reply