Kolom M.U. Ginting: Trump Melawan Sopan Santun Penghisap Darah Rakyat

0
432

 

Presiden Jokowi sangat bijak dan tepat dalam mengomentari sikap tegas pemerintah Trump yang melarang masuk ke AS pengungsi dari 7 negara Timur Tengah dan Afrika.

“Kita tidak terkena dampak dari kebijakan itu, kenapa resah?” ujar Presiden.

Dia menambahkan: “Prinsip konstitusi saya kira jelas bahwa yang namanya keadilan, yang namanya kesetaraan, harus terus diperjuangkan.”

Jadi, ketidakadilan atau ketidaksetaraan bisa muncul di mana saja dan kapan saja. Kewajiban kita ialah berjuang menentang dan memperbaikinya serta mencegah supaya itu tidak terjadi.

Keberanian Trump menerapkan pikirannya dalam praktek secara jelas dan tegas, bukan seolah-olah (dalam bahasa Karo, bagi si lit bagi lang) menghasilkan masyarakat terbagi 2 secara jelas. Tidak ada ‘jalan tengah’, tidak ada yang meragukan maksudnya. Hanya ada pilihan mendukung atau menentang Trump.

Masyarakat yang mendukung dari the silent majority tidak banyak berkoak-koak, tetapi mereka memilih Trump dengan tegas, tidak meragukannya sedikitpun. Trump mewakili perubahan dan perkembangan pikiran manusia Era Abad 21, terutama sangat terasakan oleh golongan yang disisihkan selama setengah abad terakhir. Trump mewakili pikiran baru nasionalisme AS. Pikiran ini sedang bergerak ke arah dominasi yang tidak terelakkan di semua negeri dunia, terutama di Eropah, yang telah menjadi sarang dan benteng terkuat multikulti globalis internasional neolib dunia. UE Uni Eropah) adalah puncak pencerminannnya di Eropah.

Kalau di negeri berkembang seperti Indonesia atau Filiipina, perasaan dan solidaritas nasionalisme itu tidak pernah luntur sejak era perjuangan nasional menentang kekuasaan kolonial Abad 20. Memang pernah sempat terhambat karena dipengaruhi secara sepihak oleh kekuasaan internasional ‘imperialisme’ atau ‘neo-kolonialisme’, istilah yang populer abad 20.

Intermezzo halangan ini telah menimbulkan banyak kekuasaan diktator di negeri-negeri berkembang, prakarsa neolib itu. Berangsur-angsur imperialisme atau neokolonialsime itu menjelma menjadi ‘makhluk’ sesunggunya yaitu neolib, gerombolan manusia Greed and Power mau menciptakan global hegemony, satu penguasa mau mengontrol dunia untuk selama-lamanya.

Gerombolan manusia serakah Greed and Power ini, yang tujuannya semata-mata hanya duit, kekuasaan, duit, dan dengan duit itu jadi penghegemoni dunia dengan cara machiawelli, artinya melegalkan semua cara jahat, seperti terorisme, pecah belah, perang, pembunuhan kepala-kepala negara lain dan pembunuhan rakyatnya, persis seperti digambarkan oleh Paus Fransiskus:

“Behind all this pain, death and destruction there is the stench of what Basil of Caesarea called ‘the dung of the devil’. An unfettered pursuit of money rules. The service of the common good is left behind. Once capital becomes an idol and guides people’s decisions, once greed for money presides over the entire socio-economic system, it ruins society, it condemns and enslaves men and women, it destroys human fraternity, it sets people against one another and, as we clearly see, it even puts at risk our common home.”http://fortune.com/

 

Inilah definisi yang tepat menggambarkan orang-orang serakah ini. Mereka bikin perang, kematian dan pecah-belah negara lain menuju SDAnya seperti Indonesia 1965. Bisa dikatakan, 99% negara dunia yang punya SDA cukup menggiurkan menjadi sasaran neolib. Selain negeri kita juga seperti Konggo, Nigeria di Afrika, Venezuela, Argentina, Costa Rica dll di Amerika Latin. Terakhir negeri-negeri Arab dalam ‘Arab Spring’ yang pada pokoknya adalah gerakan/ hasutan neolib terutama hasutan Obama, menjatuhkan kekuasaan diktator kolot yang setengah nasionalis tetapi tidak memberikan kebebasan bagi modal neolib masuk ke negerinya.

Setelah diktator-diktator itu lenyap atas bantuan rakyat Arab dalam gerakan Arab Spring, sekarang muncul penguasa baru yang membebaskan modal neolib masuk secara aman. Tetapi dengan kemenangan Trump di AS, tidak diragukan bahwa kekuasaan-kekuasaan baru di negeri-negeri Arab ini akan berubah jadi ‘the last gasp of neoliberalism’ di negeri-negeri itu, tak ada bedanya dengan era Obama di AS.

Putusan Trump melarang masuknya warga dari 7 negara, telah berhasil membangkitan aktivitas memobilisasi penentangan besar-besaran terhadap kebijakan Trump dalam soal itu. Imbasnya tentu juga ke luar negeri, terutama di negeri UE dimana UE adalah sarang dan benteng neolib di Eropah. 

Perdebatan dan diskusi resmi bersemarak di Eropah. Lucunya, di Eropah, diskusi resmi itu selalu di kalangan yang menentang Trump saja, tidak pernah diikutsertakan yang pro Trump. Diskusinya jadi membosankan. Orang-orangnya hanya berlomba menunjukkan siapa yang paling pintar menjelekkan politik dan sikap politik Trump. Mereka saling memuji pula sebagai hadiahnya. Sama halnya ketika mendiskusikan Brexit, hanya di kalangan yang menentang.

Melihat dan mendengar diskusi ini sering kita merasa bosan memang dan ‘kasihan’ sama orang-orang ini. Mereka dihinggapi ketakutan yang sangat mendalam dan menyedihkan akibat kemenangan Trump atau Brexit sehingga mereka tidak pernah berani mengikutkan pro-Trump atau pro-Brexit dalam diskusi. Padahal perluasan pandangan dan variasinya yang berlainan hanya mungkin datang dari pendapat yang bertentangan atau berseberangan. Ini sama kelakuannya dengan orang-orang FB yang blokir siapa saja yang tidak disenangi atau dianggap menentang. Makin pintar atau makin bodoh pemilik akun ini?

Bagaimana pikirannya akan pernah berkembang kalau blokir semua pendapat yang bertentangan? ‘Kontradiksi adalah tenaga penggerak perubahan dan perkembangan’. Contoh di Indonesia juga banyak sekali, seperti debat Ahok soal menista agama atau tidak, dimana dalam debat resmi biasanya semua argumentasi keluar dari yang pro dan yang kontra, dan publik bisa melihat dan menilai sendiri mana yang benar dan salah. Apalagi adanya pengadilan Ahok yang juga banyak mencerahkan seluk beluk penistaan agama Ahok itu. Kontradiksi dengan argumentasinya di atas meja, mengakibatkan semua pihak yang bertentangan ikut bicara dengan argumentasi yang semakin luas dan mendalam, serta semakin ilmiah. Publik tambah pandai dan tambah banyak pengetahuannya tentang semua soal yang sebelumnya tidak jelas.  

Politik nasionalis Trump bukan fenomena lokal, tetapi fenomena dunia soal gerakan nasionalisme tiap bangsa dunia. Memang dalam sejarah gerkan nasionalisme ini sudah pernah ada pada abad 18. Bermula dengan Revolusi Perancis, diikuti kemudian berdirinya banyak negara atau nation di Eropah, tanpa raja (republik) atau dengan rajanya masih ada walaupun sebagai simbol saja, tetapi negerinya masih bernama sebagai kerajaan. Ideologi Nasionalisme abad 18 ini kemudian berangsur menyusut  dengan munculnya gerakan kiri abad 19, dimulai oeh Marx dengan Marxismenya dan gerakan internasionalisme proletarnya. Bersamaan dengan internasionalisme proletar Marx, muncul internasionalisme pemilik kapital besar, yang dikatakan imperialisme atau neokolonialisme dan kemudian terkenal dengan nama neolib.

Di Eropah pendukung utama kekuasaan borjuasi neolib ini adalah kaum kiri itu sendiri, dan keduanya berganti-ganti pegang kekuasaan di tiap nation Eropah. Penguasa ini adalah dari partai kiri sosialis atau partai buruh, dan kekuasaan borjuasi dari partai-partai kanan, walaupun penguasa sebenarnya adalah pemilik kapital itu (neolib)

Memang di Eropah sulit untuk menunjukkan sandiwara gelap ini (the secret government) sebagai penguasa sesungguhnya, tetapi di AS banyak akademisi yang menunjukkan secara gamblang bagaimana ‘the secret government’ mengendalikan dua kudanya (R dan D). Paling jelas digambarkan oleh seorang penulis AS bernama Gore Vidal 1925 – 2012, dia bilang:

“There is one political party in this country, and that is the party of money. It has two branches, the Republicans and the Democrats, the chief difference between which is that the Democrats are better at concealing their scorn for the average man.”

Atau seperti presiden Roosevelt juga pernah bilang 1933:

The real truth of the matter is, as you and I know, that a financial element in the large centers has owned the government of the United States since the days of Andrew Jackson.”

Andrew Jackson jadi presiden 1829-1837. 

Internasionalisme Marx sudah terlihat susut drastis pada akhir abad lalu, dan gongnya dipalu ketika berakhirnya kekuasaan kiri terakhir di AS, kekuasaan Obama sebagai ‘the last gasp of neoliberlism’.

Satu fenomena lain yang juga menarik diikuti, dimana penentang Trump berkoak-koak bahwa Trump sangat bermusuhan dengan penduduk asli AS orang Indian. Kalau dulu orang-orang Indian berperang untuk mengusir orang-orang pendatang eropah, dan sekarang Trump tidak membolehkan orang asing masuk Amerika, dan mau mengusir orang-orang ilegal, lantas seorang Indian berkata kepada Trump, ‘anda kapan pergi’? Karena Trump juga pendatang . . he he.

Bahwa penduduk asli orang Indian berusaha mengusir pendatang orang-orang Eropah masuk ke Amerika pada abad 16-17, adalah wajar. Ini adalah perjuangan nasionalisme Amerika yang pertama dalam sejarah. Tak ubahnya seperti suku-suku bangsa Indonesia berperang melawan penjajah dalam gerakan nasionalisme pertamanya. Kesalahan dunia ialah karena dunia tidak membantu gerakan nasionalisme pertamaa Amerika itu, perjuangan orang Indian itu, tidak mengakui hak mereka atas tanah dan wilayahnya. Itulah kesalahan dunia. 

Setelah perang nasionalis suku-suku Indian ini selesai, terbentuklah yang namanya bangsa Amerika terdiri dari penduduk asli dan pendatang, orang Eropah maupun Afrika atau Asia. Trump dan leluhurnya yang sudah hidup di AS termasuk di dalamnya. Sekarang, muncul lagi gerakan nasionlis Amerika yang keduakalinya setelah gerakan nasionlis pertama dalam perang suku-suku orang Indian melawan pendatang/ penjajah terjadi 4 abad lalu.

Mengapa Trump dan gerakan nasionalisnya disalahkan pula seperti menyalahkan gerakan nasionalis pertama yang dipelopori orang Indian pada abad 16-17? Dunia bikin kesalahan tidak mendukung gerakan nasionalis pertama di Amerika. Sekarang dunia harus belajar mendukung gerakan nasionalis ke 2 yang dipelopori oleh Trump, supaya tidak bikin kesalahan keduakalinya.

Ada bedanya memang, ketika gerakan nasionalisme pertama yang dipeopori oleh penduduk asli Indian itu, dunia tidak urusan. Ketika nasionlisme Trump, dunia terbagi dua, dan Trump di pihak yang mewakili perubahan. Eropahpun akan terpecah seperti contoh Brexit.

Bahwa Trump dikatakan memusuhi orang-orang Indian penduduk asli, hanyalah penyimpangan yang sengaja difabrikasi untuk menjelekkan Trump. Ketika diberitakan bahwa orang-orang penduduk reservat tidak menyukai Trump, Trump jadi heran dan ketawa. Soalnya, orang-orang yang ngomong begitu di reservat ternyata adalah pemilik ‘kasino Indian’ yang semuanya orang-orang putih Amerika. Mereka bikin kasino Indian (reservat) supaya bebas pajak, tidak seperti di Las Vegas yang bayar pajak tinggi. Trump sering memprotes kelakuan orang-orang kasino ini memanfaatkan reservat menghindari pajak. Karena itu Trump pernah bilang: “They don’t look like Indians to me and they don’t look like Indians to Indians.”

Salah satu organisasi orang asli Indian pendukung Trump ialah:

A newly formed Native American Coalition is made up of members who hail from tribal organizations in 15 states and include both grass-roots leaders and elected officials.

Trump ngomong seperti yang dia pikirkan saja, dan mengutamakan action, mengeritik para politikus, ‘politicians are all talk, no action’ katanya, dalam kaitan menanggapi  civil rights icon John Lewis yang bilang kalau Trump was not a ‘legitimate’ president. Trump bikin aksi sesuai dengan apa yang dikatakannya ketika kampanye. Bikin tembok, ya dibikin. Mencegah teroris masuk, ya dilarang masuk, dilaksanakan dalam praktek. Melarang abort juga dilaksanakan. Hakim tinggi yang menentang pelaksanaan aksinya dipecat langsung. AS dan dunia geger memang atas sikapnya. Tetapi dia mewakili perubahan dunia. Dia bisa gagal atau tewas, tetapi perubahan tidak bisa dihalangi, hanya bisa diperlambat sementara.

Gerakan nasionalis dunia bukan fenomena lokal tetapi fenomena seluruh dunia, menggambarkan kontradiksi baru dunia, antara kepentingan nasional semua bangsa-bangsa dunia, kontra kepentingan internasional neolib.





Leave a Reply