Kolom Asaaro Lahagu: Hidup Terbolak-Balik, SBY Cium Kekalahan, Ahok Menang

0
245

 

Ketika menjadi Presiden, SBY menggembar-gemborkan filosofi hidupnya, yakni seribu teman, nol musuh. Itu berarti saat menjadi Presiden, SBY berusaha berteman dengan siapa saja dan menghindari permusuhan. Artinya, SBY berusaha berteman dengan semua pihak dan tidak menciptakan musuh yang menentang dirinya sebagai presiden. Jelas SBY tidak suka kegaduhan. Ia lebih suka damai, aman, nol konflik.

Akan tetapi setelah lengser dari kursi Presiden, SBY justru ikut-ikutan membuat gaduh dengan memprovokasi Demo 411 dan 212 lewat ucapan ‘demo sampai Lebaran Kuda’. Ini jelas filosofi hidup terbolak-balik. Jika semasa presiden pernah merasakan bagaimana pahitnya dikadali musuh, maka pada saat sudah tidak lagi menjadi presiden, SBY seharusnya ikut mendukung pemerintah agar dapat fokus bekerja dan bukan ikut-ikutan membuat kegaduhan.

Ketika menjadi Presiden, SBY selalu optimis semu bahwa Indonesia adalah negara aman, stabil dan giat membangun di segala bidang. Walaupun fakta sebenarnya pembangunan infrastruktur berjalan di tempat, subsidi BBM terus membengkak, mafia ada di mana-mana, korupsi merajalela, namun SBY tetap optimis bahwa Indonesia adalah negara aman, semakin bersih dari korupsi dan terus membangun. Sekali lagi, pada saat itu, SBY selalu optimis.

Akan tetapi, setelah tidak lagi menjabat sebagai Presiden, SBY justru terus mengobarkan rasa pesimistis tinggi. Di saat pembangunan infrastruktur benar-benar nyata dilakukan secara masif, subsidi BBM sukses dihilangkan, korupsi sampai Pungli terus dihabisi, justru SBY selalu pesimistis. Saat pemerintah sukses menjalankan program Tax Amnesty, ekonomi terus tumbuh, utang digunakan tepat sasaran, laut bersih dari para pencuri, justru SBY terus mengobarkan rasa pesimistis bahwa negara kok begini. Ini jelas pola pikir galau dan bermuka dua.

Ketika masih menjadi Presiden, SBY menyindir dinasti politik yang sedang dipraktekkan oleh para kepala daerah. SBY juga mengatakan bahwa prajurit TNI aktif tidak boleh ikut-ikutan berkecimpung  di dunia politik.  Tetapi nyatanya, setelah lengser dari kursi Presiden, SBY justru berusaha membangun dinasti kekuasan. SBY kemudian rela mengorbankan karir militer puteranya Agus demi terjun lebih cepat di dunia politik. Ini menjadi bukti hidup SBY yang bermuka dua.

Ketika menjadi Presiden, SBY menutup mata dan kurang sensitif pada praktek ketidakadilan dan intolerasi di masyarakat. Namun setelah lengser dari kursi presiden, SBY justru sangat sensitif terhadap ketidakadilan, termasuk ketidakadilan terhadap dirinya. Ia merasa terus dizalimi, difitnah dan diusik. Padahal sekarang, toleransi dan keadilan ekonomi terus diperjuangkan oleh pemerintah. Keadilan ekonomi juga sangat diperhatikan. Sebagai contoh, dulu harga BBM di Papua dijual hingga Rp. 60.000 per liter. Sekarang harga BBM di Papua sudah sama dengan harga di Jawa. Inilah keadilan ekonomi.

Saat Handphone-nya disadap oleh pihak Australia, SBY saat itu tidak bereaksi keras. Ia menganggap persoalan itu sebagai persoalan pribadi. Baru setelah isterinya, Ani Yudhoyono disadap, baru SBY sedikit bereaksi. Padahal, sebagai seorang Presiden saat itu, SBY seharusnya bereaksi keras. Namun setelah ia lengser dari kursi Presiden, SBY yang baru merasa dirinya disadap, justru bereaksi  sangat keras  sampai-sampai kebelet  menggalang hak angket di DPR. Ini reaksi berlebihan nan lebay.

Saat masih menjabat Presiden, SBY justru tidak menjalankan tugasnya sebagai Presiden dengan sebenar-benarnya. SBY saat itu membiarkan  negara auto-pilot. Namun, ketika tidak lagi menjabat Presiden, SBY bertindak seolah-olah menjadi presiden. Ia terus mengajari Jokowi bagaimana seharusnya menjadi Presiden, membangun infrastruktur, menciptakan keadilan dan seterusnya. Padahal, saat masih Presiden, negara dibiarkan auto-pilot dan sibuk membuat album.

Soal album, ketika menjabat sebagai Presiden, SBY mampu meluncurkan beberapa album spektakuler. Logikanya, jika saat menjadi presiden yang waktunya super sibuk, SBY masih bisa membuat beberapa album, maka setelah lengser dari kursi presiden, SBY yang mempunyai waktu lebih banyak, pasti akan melahirkan lebih banyak album. Faktanya? Lebih 2 tahun setelah lengser dari kursi Presiden, tak satupun album yang berhasil ditelurkan oleh SBY. Ini berarti kehidupan SBY terbolak-balik.

Karena hidupnya terus terbolak-balik, saya yakin bahwa keinginan SBY untuk membesarkan Demokrat lagi justru yang terjadi adalah kebalikannya. Demokrat akan menjadi semakin kerdil. Demikian juga keinginan besar SBY agar puteranya Agus memenangkan kursi Gubernur Jakarta, justru yang terjadi adalah hal yang terbalik. SBY akan mencium kekalahan. Buktinya Tren elektabilitas Agus terlihat terus menurun menjelang pencoblosan 15 Februari 2017 mendatang.




Seharusnya SBY setelah tidak menjadi presiden, dia menikmati hidup lebih tenang. Ia seharusnya mencontoh cara hidup mantan Presiden Habibie yang tidak lagi mencampuri urusan politik. Bahkan Habibie terlihat mendukung pemerintah yang sah dan terus mengobarkan rasa optimisme kepada pemerintah dan rakyat. Nah, coba jika SBY selama 2 tahun ini terus mendukung pemerintahan Jokowi dan terus membangun optimisme, maka yang terjadi adalah SBY akan dipuji dan terus dikenang.

Namun, karena SBY masih mau berkuasa, mungkin takut diusik hartanya, maka ia mencoba melindunginya dengan kekuasaan lewat taktik licik.  SBY pun terus memperlihatkan dirinya sebagai korban kezaliman, disadap dan fitnah. Namun sebetulnya, SBY sedang menjalankan sebuah strategi galau untuk mencapai ambisi pribadinya. Karena ambisi liciknya yang bermuka dua, bolak-balik dan galau, maka SBY pun mulai mencium aroma kekalahan di Pilkada DKI Jakarta.

Sementara itu aroma kemenangan mulai dicium Ahok. Pada sidang ke-9 hari ini, kesaksian para saksi fakta sama sekali tidak memberatkan Ahok. Pada tanggal 12 Februari mendatang, Ahok akan kembali aktif menjadi gubernur DKI Jakarta. Kembalinya Ahok menjadi gubernur, akan langsung menggetarkan lawan-lawannya. Hasil-hasil survei terakhir, menunjukkan bahwa elektabilitas Ahok semakin menukik naik. Nah apakah Ahok akan menang satu putaran? Mari kita tanya kepada kura-kura.

Leave a Reply