Kolom Bastanta P. Sembiring: Penulisan Kata-Kata Asing Dalam Aksara Karo

0
388

Setiap penulis aksara Karo (tentunya aksara daerah lainnya juga) masing-masing memilik teknik, taktik, dan gaya tersendiri. Inilah kemudian yang membuat literatur-literatur yang ditemukan memiliki perbedaan, walau dari daerah yang sama, bahkan dari penulis yang sama sekalipun, sebagimana hal senada juga pernah dikemukakan oleh antropolog yang juga memikliki kemampuan baca/ tulis aksara Karo, Juara R.Ginting. Dan perlu diingat, fenomena ini berlaku untuk semua aksara (tulisan).

Dari informasi di atas, dapat kita simpulkan antara karakter dalam penulisan aksara Karo, misalkan satu indung surat “ma” dari penulis satu dengan lainnya pasti memliki perbedaan, karena cara pandang dan sentuhan tangan setiap manusia berbeda. Demikian juga halnya dalam pemenggalan kata, misalkan pada kata SEMBIRING, ada yang “sem-bi-ring” ada juga “se-mbi-ring”, oleh karena standar baku untuk aksara Karo belumlah ada.

Dalam penulisan bahasa-bahasa asing (non Karo) ke dalam aksara Karo, para penulis juga memiliki kiat masing-masing. Cara yang paling lazim dilakukan oleh para penulis aksara Karo dan aksara non-Latin lainnya adalah dengan melakukan proses adaptasi. Dalam aksara Karo dapat kita lakukan sepeti berikut.

Zombi –> Jombi
Zaman –>  Jaman
Fitra –> Pitra
Syahdan –> Sahdan
Ruth –> Rut
Sutta –> Suta
David –> Daud
Dll.

Seperti halnya proses adaptasi dalam bahasa/ aksara Jepang yang sedikit pernah penulis pelajari,

Smith –> Sumitsu
Deutsch –> Doitsu (Jerman)
Dll

Proses adaptasi ini dilakukan agar kata-kata dari bahasa asing menjadi sesuai dengan penuturan lokal. Hubungannya dengan penulisan aksara seperti misalkan aksara Karo yakni, agar kata-kata itu dapat ditulis dalam aksara Karo, sepert contoh, “fitra”. Oleh karena dalam aksara Karo tidak ditemuan huruf (font) “f”, maka kata ‘fitra’ kemudian diadaptasikan mendaji ‘pitra’. Bagaimana pula dengan kata, ‘example’ atau ‘zweckgerecht’?

Ya, cukup kita terjemahkan ke dalam bahasa Karo dan kemudian artinya kita tuliskan dalam aksara Karo (exampele : contoh ; zweckgerecht : seh kel pentingna).

Nah, yang kemudian menjadi dilema bagi banyak penulis awal (pelajar) aksara Karo yakni, kata-kata yang tidak selamanya dapat diterjemahkan, misalkan, nama orang, nama negara, judul lagu kebangsaan, istilah-istilah (dalam profesi dan keilmuan), dsb.




Memang, selama ini dalam penulisan aksara Karo belum sampai kepada pebahasan demikian, oleh karena fungsi penlisan aksara Karo masih sebatas surat-menyurat, menuliskan mangmang/tabas (mantera), tambar-tambar (kitab pengobatan), nyanyian, dsb dan juga masih mengunakn bahasa Karo. Sehingga penulis aksara Karo jarang bersentuhan dengan kata-kata asing (kecuali Arab dan India) hususnya dari lagi dari Eropa .

Misalkan saya kutip satu kasus penulisan Lagu Kebagsaan Polandia : “Mazurek Dąbrowskiego”, karya Józaf Wybicki. Bait pertamanya “Jeszcze Polska nie zginęła.” Maka hal yang paling bijak yang dapat kita lakukan adalah tetap menuliskannya seperti aslinya.

Sebagai bahan perbandingan dapat kita lihat di film-film Jepang, Cina, Korea, Thailand, ataupun Arab. Di bagian akhir yang menginformasikan semua yang terlibat dalam produksi, tidak jarang kia temukan kata-kata atau nama-nama yang tetap ditulis Latin.

Leave a Reply