Mengenal Aksara Karo

0
1973

Oleh: Bastanta P. Sembiring

Tulisen (aksara) Karo atau juga disebut Surat Aru (Haru), merupakan salah satu tulisan (aksara) no-Latin yang ada di Nusantara. Dikatakan Tulisen Karo karena tumbuh dan berkembang, serta dipergunakan secara meluas di wilayah-wilayah Karo (Dataran Tinggi Bukit Barisan dan Pesisir Pantai Timur Sumatera), dan dipakai oleh masyarakat Karo untuk menuliskan cakap (bahasa) Karo.


[one_fourth]Ciri khas tulisen (aksara) Karo[/one_fourth]

Secara karakter dan pelafalan, aksara Karo memiliki kemiripan dan kesamaan dengan beberapa aksara-aksara non-Latin lainnya di Nusantara, kususnya lagi di Sumatera, seperti aksara dari daerah Pakpak, Simalungun, Mandailing, Batak (Toba), Kerinci, Lampung, dll.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, maka kemudian disebuat aksara Karo oleh karena fungsi dan penggunannya, yakni yang berkaitan dengan kehidupan Suku Karo. Di samping beberapa kekhasan lainnya.

Indung surat (huruf induk/ huruf utama) yang terdiri dari 21 surat (huruf/ font), merupakan pelambangan konsonan, walau pun dalam pelafalan atau pengejaannya selalu diakhiri oleh bunyi “a” yang nota bene adalah bunyi vokal.

Selanjutnya, vokal dan karakter penjelas lainnya (diakritik) dirangkum dalam kelompok anak surat (anak huruf) yang penempatannya biasanya setelah indung surat. Anak surat dalam aksara Karo dibagi dalam tiga kelompok, yakni: 1) Menghilangkan bunyi “a”, 2) Mengubah bunyi “a” menjadi bunyi “i, u , e, é, dan o”, serta 3) menambahkan bunyi “h” dan “ng”.

Aksara Karo, juga merupakan kelompok abuguida murni, hal ini tampak dalam pelafalan serta penulisan vokal-vokalnya yang sangat mutlak, baik untuk vokal “a, i, u, é, e, dan o”. Jika diperhatikan, tulisen (aksara) Karo juga memiliki ciri khas tersendiri yang sangat tampak pada dua indung suratnya “mba” dan “nda”, dimana kedua indung surat ini hanya dapat kita temui pada tulisen (aksara) Karo saja, serta merupakan khas logat Karo.

 

[one_fourth]Media tulis dalam menuliskan aksara Karo[/one_fourth]

Media dalam penulisan aksara Karo tidaklah jauh berbeda dengan aksara-aksara kuno lainnya, yang dimana semua dapat dijadikan media tulis, baik itu kayu, bambu, batu, daun, logam, kertas, dan lain-lain (media sastra klasik). Namun, di Karo yang paling sering ditemui adalah menulis pada bilah bambu ataupun kulit kayu, hal ini ditunjukkan dengan adanya kebiasaan masyarakat Karo zaman dahulu khususnya kaum muda yang menuliskan rintihan atau ratapan hidupnya terkhusus berkaitan dengan asmara yang diukir pada kulit bambu ataupun kayu, populer dengan sebutan buluh bilang-bilang.

Bukan itu saja, di wilayah-wilayah Karo juga sangat populer surat kaleng yang dalam bahasa lokalnya disebut dengan musuh berngi (musuh malam/musuh dalam kegelapan) yang berisikan ancaman dan tantangan.

 


[one_fourth]Fungsi tulisen (aksara) dalam masyarakat Karo[/one_fourth]

Tulisen (aksara) dalam masyarakat Karo zaman dahulu selain sebagai media komunikasi (surat-menyurat), juga dipergunakan untuk beberapa hal, seperti: menuliskan mangmang/ tabas (mantra), kitab ketabi-pan(ilmu pengobatan), bilang-bilang (ratapan), ndung-ndungen(pantun), kuning-kuningen (teka-teki), turi-turin (cerita berbentuk prosa yang biasanya memuat silsila, kejadian, ataupun kisah kehidupan), kitab mayan/ ndikar (kitab ilmu bela diri), musuh berngi (surat kaleng), kontrak (perjanjian), surat izin (surat jalan/izin memasuki wilayah Taneh Karo), dan lain-lain.




Namun, belakangan ini penggunakan aksara Karo kian menghilang, sehingga bisa dikatakan terancam punah. Untuk itu, perlu kiranya digali kembali dan dibuat sebuah wadah atau kelompok untuk memperkenalkan ke khalayak ramai, melalui kursus-kursus (pelatihan), seminar, atau perlombaan untuk meragsang minat masyarakat terhadap aksara Karo, khussnya kepada kaula muda Karo.

Peran serta semua pihak untuk menyelamatkan salah satu warisan budaya nusantara ini sangatlah penting, agar keberadaan aksara Karo sebagai salah satu aksara non-Latin bisa tetap eksis setidaknya di wilayah-wilayah Karo dan kalangan masyarakat Karo, seperti halnya aksara-aksara non-Latin yang masih eksis dan menjadi tuan di rumahnya, seperti aksara Arab, Jepang, Cina, India, Ibrani,Yunani, dsb yang menjadi aksara/ tulisan nasional di negeri asalnya, atau seperti aksara Jawa yang masih dipergunakan oleh kalagan-kalangan tertentu. Sehingga keberadaannya tetap terjaga.

Leave a Reply