Kolom M.U. Ginting: NASIONALIS TULEN

0
144

 

Trump menuduh media besar AS tidak memberitakan soal serangan teroris yang sering terjadi di Eropah, seperti teror Nice dan Paris. Dia mengatakan koran-koran ini ‘very, very dishonest’ dan menambahkan “they have their reasons and you understand that” katanya di depan para perwira dan prajurit di basis Angkatan Udara AS di Florida 6 feberuari lalu.

Kalau kita kaitkan dengan tuduhan Trump bahwa Obama dan Clinton yang membentuk ISIS, tentu koran-korannya tidak akan melaporkan terlalu jauh serangan teror yang dibangun sendiri, atau “you understand that” kata Trump, hubungannya secara implisit atau ‘tahu sama tahu’.

Obama dan Clinton tentu tidak pakai biaya sendiri bikin ISIS, tetapi di belakangnya adalah partai besar (satu-satunya partai di AS)  yaitu ‘partai duit’. Partai besar ini punya 2 cabang yaitu yang satu (D) dan satunya (R) seperti dikatakan oleh penulis Gore Vidal:

“There is one political party in this country, and that is the party of money. It has two branches, the Republicans and the Democrats, the chief difference between which is that the Democrats are better at concealing their scorn for the average man.”

 

‘The party of money’ itulah yang kita namakan sekarang Neolib GP (Greed and Power) atau the Secret Government. Roosevelt sempat juga bikin namanya dengan istilah ‘financial element of the large centers’ tahun 1933.

Orang-orang inilah yang menginstruksikan Obama dan Clinton bikin ISIS dibantu oleh Dubes istimewa AS di Syria Robert Ford, dengan tujuan pertama ialah duit dari minyak Syria dan Irak. Triliunan dolar sudah mengalir ke tangan pendiri ISIS ini, ketangan financial element of the large centers, dan masih mengalir tiap hari sampai detik ini.

Tujuan penting lainnya ialah untuk memecah belah, bikin aliran pengungsi untuk mengacau dan memecah kesatuan nasional/ nasionalisme Eropah dan AS, dalam rangka promosi politik ‘multikulti’ yang sudah bikin busuk dunia abad lalu. Bikin promosi ‘open borders’ sebagai bagian penting dari multikulti (multikulturalisme). Dalam hal ini seorang profesor dari Australia Frank Salter bilang kalau ‘the open borders movement is profoundly immoral’. Atau, terakhir menlu Poland bilang ‘tidak ada negara yang berkewajiban menerima imigran dari negeri lain’. Jadi,  ISIS memang ada 2 tujuan pokoknya: Pertama, duit dan ke dua, ialah  ‘open borders movement’. Dengan aliran pengungsi digerakkan secara sengaja di belakang layar untuk menentang gerakan nasionalisme yang sedang melanda Dunia Barat.

Dua keuntungan sekaligus. Tetapi gerakan pengungsi ini pulalah yang telah ikut lebih mendorong dan lebih membangkitkan nasionalisme bangsa-bangsa Eropah termasuk AS yang dipimpin oleh Trump dengan semboyan ‘America First’.

Dalam pidato pelantikannya Trump melukiskan lebih indah dan berseni serta menggambarkan pikiran nasionalisme sejati:

We will follow two simple rules: Buy American and hire American.

We will seek friendship and goodwill with the nations of the world – but we do so with the understanding that it is the right of all nations to put their own interests first.

We do not seek to impose our way of life on anyone, but rather to let it shine as an example — we will shine — for everyone to follow.

 

Maka dengan berakhirnya era Obama berakhirlah juga era neoliberalisme atau seperti dikatakan: The age of Obama was the last gasp of neoliberalism. Trump lebih meyakinkan lagi nasionalismenya dengan mengatakan ‘Americanism not globalism is our credo’.

Sudah jelas bahwa politik internasional Trump punya prinsip yang sama sekali terbalik dengan politik lama AS, Trump tak mau mencampuri urusan negara lain, dan mengakui kepentingan nasional tiap negara adalah yang utama. Dia mau membikin Amerika bersinar dan jadi contoh (make America great again), karena selama setengah abad terakhir ini sudah redup bahkan identitasnya jadi kabur, buruh pada nganggur besar-besaran karena fabrik-fabrik pada lari ke China. Karena itu dia bilang ‘buy American and hire American‘.

Banyak juga analisa pessimis tentang perjuangan nasional Trump ini, karena kekuatan musuhnya sangat terlalu besar yaitu neolib finans besar greed and power, bankir besar rentenir internasional yang sudah berkuasa penuh hampir 200 tahun sejak era Andrew Jackson, termasuk menguasai the Fed (bank negara), dan komplotan ini masih punya duit berjubel, terakhir triliunan dolar dari minyak Syria dan Irak, dan juga masih dikeruk dari SDA Indonesia walaupun sudah setengah abad dikeruk tanpa suara (Freeport Papua).




Banyak yang ragu memang, apakah Trump bisa survive tanpa revolusi berdarah model revolusi Lenin atau Mao? Mengingat juga kegagalan perlawanan Kennedy 1963 dan malah tewas. Begitulah sebagian berpikir pessimis. Itulah dia memang pertanyaan yang masih menghantui perkembangan nasionalisme Trump. Tetapi ‘hantu’ nasionlisme Trump memang sudah sempat menjelajahi seluruh benua Eropah bahkan sebelum Trump muncul, seperti Brexit, jadi bukan fenomena lokal AS tetapi seluruh dunia barat.

Hanya itulah yang bisa menjamin survival nasionalisme Trump. Trump boleh diganti, cepat atau lambat gerakan nasionalisme ini memang bisa dipengaruhi oleh sikap perorangan, tetapi arah perkembangan sudah pasti – Hantu Nasionalisme.

Leave a Reply