Kolom Asaaro Lahagu: Sikap Keras Tito Kepada Rizieq-FPI, Wiranto Terjebak

1
410

 

Rizieq-FPI sedang menjerit. Ia dihantam kanan-kiri oleh berbagai pihak. Berbagai kasus yang menjeratnya membuat polisi semakin garang mematikannya. Tidak ada lagi Rizieq yang dulu. Tidak ada lagi Rizieq yang keras kepala, menakutkan, bebas mengucapkan kata apa saja, mau mencopot Kapolda atau memenjarakan Presiden dan Kapolri jika melarangnya berdemo.

Di tangan Tito, Rizieq yang sempat melambung tinggi hingga ke langit ke tujuh, kini kembali membumi dan akan tenggelam ke dasar jurang. Keberanian Tito menekuk Rizieq dengan menetapkannya sebagai tersangka, membuat para pendukung gelapnya mundur teratur. Rizieq panik plus pusing tujuh keliling. Kasus Firza Hots, telak menusuk tulangnya.

Rizieq sudah berdarah-darah mengibarkan bendera SOS kepada berbagai pihak, meminta dukungan, bantuan dan pembelaan. Tetapi semuanya cuci tangan. Habis manis sepah dibuang. Pembelaan dari GNPF-MUI sudah kandas. Bantuan koak-koak dari trio kewek-kewek Fadli, Fahri dan Benny Karman di DPR tinggal sayup-sayup. Pun bantuan dari Cikeas tersumbat dan mengalami kemacetan. Peserta demo yang mengikutinya pun menyusut drastis.

Kekuatan Tito yang meluncur menekuk Rizieq baru 20%. Itupun sudah membuat Rizieq  mengaum-ngaum dan menjerit-jerit. Mengapa? Selain dirinya yang menjadi sasaran jepitan, teman-teman persekutuan Rizieq juga kena getahnya. Berderet-deret teman-teman Rizieq seperti Munarman, Kevlin Zein, Sri Bintang, Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani sudah juga dijadikan sebagai tersangka. Hotel Prodeo pun menanti mereka. Sekutu Rizieq yang lain Bachtiar Natsir, sedang dalam bidikan Tito.

Rizieq baru merasakan tangan keras Pakde Jokowi lewat Tito.  Tito adalah ahli di bidang radikalisme dan terorisme, baik di bidang akademik maupun di lapangan. Lewat instink tajamnya Tito amat yakin rencana dan skenario pihak-pihak yang ingin menjadikan Indonesia seperti Suriah. Oleh karena itu rencana busuk kaum ekstrim berbaju agama yang ingin meng-Suriah-kan dan Meng-Irak-kan Indonesia, menjadi perhatian paling besar Tito.

Penciuman Tito tentang skenario dan taktik para kaum radikalisme, sudah terbukti pada Demo 411 dan 212. Dalam demo besar itu, Tito mengendus dengan tajam pihak-pihak yang menunggangi demo untuk melengserkan pemerintah yang sah. Itulah sebabnya Tito sangat berani mengambil resiko apapun menangkap langsung kesebelas orang terduga pelaku makar. Tito berani bertarung keras demi menegakkan NKRI.

Tidak berhenti sampai di situ, Tito terus begerak menghantam episentrum pemicu, penggerak dan penyembur demo. Publikpun paham bahwa Rizieq adalah otak di balik gerakan-gerakan radikal, sweeping, main hakim sendiri dan musuh dalam selimut pemerintahan Jokowi. Rizieq adalah bagai batu kerikil tajam dalam sepatu. Dan karenanya, Tito amat keras kepada Rizieq dan kepada orang-orang yang bersekutu dengannya.

Rizieq dengan mulut harimaunya, berani menista Pancasila, menghina agama, menghina Hansip dan seterusnya harus dihentikan. Dengan sistematis, terstruktur dan masif, Tito mulai mematikan daya juang Rizieq lewat pintu penistaan Pancasila dan penghinaan kepada Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Soekarno. Tito paham bahwa kaum nasionalis yang peduli pada NKRI, setuju dengan tindakan Tito.

Nah, setelah bertubi-tubi mendapat serangan balik dengan dipanggil sana-sini, kini Rizieq melambat-melaun tenaganya habis. Rizieq mulai angkat bendera putih. Tanda-tanda kehebatan Rizieq -FPI tinggal sejarah. Rencana demo habis-habisan Rizieq di Monas, terus disemprit Tito. Tak ada lagi celah bagi Rizieq untuk bergerak. Bahkan ketika Rizieq mengubah rencana aksi demonya menjadi ‘Zikir dan Tausyiah Nasional’ di Masjid Istiglal,  Tito terus memelototinya dengan teriakan kencang agar tidak dicampur dengan bau kentut politik.

Ketika Rizieq tak bisa lagi bernafas dan sebelum ia jatuh tertelungkup, ia mencoba meraih tangan kawan lamanya Wiranto. Rizieq terpaksa berteriak kepada Wiranto meminta pertolongan. Wiranto adalah kawan seperjuangan Rizieq sejak lama. FPI yang lahir sebagai ‘attack dog-nya’ aparat, mengingatkan Wiranto akan kemesraannya dengan Rizieq yang sudah berlinangan air mata.




Rintihan Rizieqpun ditanggapi oleh Wiranto dengan pertemuan mereka kemarin. Rizieq sambil menyembah, memohon, meminta, mengadu sambil merengek kepada Wiranto agar Rizieq dan FPI-nya diselamatkan. Permintaan bantuan Rizieq itu pun menggugah hati Wiranto. Berbeda dengan Tito yang sangat keras melarang adanya aksi demo, Wiranto dalam pertemuan itu mempersilahkan aksi 112, namun harus mematuhi peraturan yang berlaku.

Jelas SOS Rizieq itu membuat Wiranto terjebak. Akankah Wiranto dengan posisinya sebagai Menkopolhukam akan mencoba menyelamatkan keberadaan FPI-nya Rizieq di percaturan politik Indonesia? Ataukah Wiranto tetap konsisten berada di pihak pemerintahan Jokowi? Apakah Wiranto dengan ikhlas mendukung sikap keras Tito kepada Rizieq atau sebaliknya ia mencoba mengeremnya? Atau, apakah sikap Wiranto kemarin yang kembali bermesraan dengan Rizieq hanya sebagai kamuflase Wiranto untuk mencapai tujuan politiknya?

Jawaban pertanyaan itu akan terlihat pada reaksi Wiranto pada sikap keras Tito kepada Rizieq selanjutnya. Hari ini, Jumat, 10 Febuari, Rizieq tidak memenuhi panggilan kedua Polda Jawa Barat. Maka malam ini pukul 00:01, Polda Jawa Barat akan menerbitkan surat perintah penjemputan paksa atau surat penangkapan kepada Rizieq. Jika Rizieq benar-benar ditangkap dan ditahan, akankah Wiranto bereaksi keras, pedas, lembut, atau gemulai? Mari kita tunggu bersama kura-kura.

1 COMMENT

Leave a Reply