Kolom Asaaro Lahagu: Anies Iklan Banjir, Ahok Gagal Paham

0
318

 

Untung ada banjir kemarin [Selasa 21/2]. Mengapa untung? Dengan adanya banjir, Anies, Sandiaga, Agus, Sylvi, para pendemo, kaum khilafah dan seluruh warga Jakarta sadar.  Sadar bahwa: Pertama, Jakarta masih belum bebas dari banjir, dan ke dua, sangat dibutuhkan gubernur hebat dan berani yang programnya jelas dalam penanganan banjir.

Bagi warga yang mengalami sendiri banjir hari ini langsung teringat kepada Ahok dengan dua perspektif. Pertama, mereka yang menganut paham mie instant mengatakan bahwa ternyata Jakarta masih banjir. Penanganan banjir di Jakarta gagal. Jadi Ahok bohong. Ahok tidak benar sudah mengatasi banjir. Ahok ternyata gagal mengatasi banjir.

Ke dua, mereka yang waras mengatakan bahwa Jakarta masih banjir. Oleh karena itu Jakarta masih membutuhkan Ahok yang sudah memulai program normalisasi sungai. Program Ahok sudah terbukti. Dari tahun ke tahun, jumlah titik banjir di Jakarta semakin berkurang. Namun usaha yang telah dilakukan Ahok sejak dia menjabat masih setengah jalan. Itu berarti masih ada setengah jalan lagi usaha yang belum dlakukan.

Berhadapan dengan banjir  dalam beberapa hari ini, kita disuguhkan 2 cara berbeda dari 2 calon gubernur periode 2017 – 2022. Pertama, mari kita lihat cara Anies. Dalam foto-foto, Anies terlihat senyum-senyum melihat banjir. Ia terlihat menikmati banjir. Ia terjun langsung merasakan nikmatnya air banjir. Itu berarti Anies konsisten dengan ide briliannya.

Dalam perspektif Anies, banjir bukanlah musuh. Banjir tidak perlu ditakuti. Banjir adalah teman. Banjir adalah karunia alam yang perlu dinikmati, dilukis, disyukuri dan dijadikan sebagai sarana rekreasi dan bersosialisasi.

Lihatlah, saya asyik menikmati banjir yang sepinggang. Banjir tidak perlu diatasi tetapi ia dijadikan sebagai bagian dari hidup. Kita harus berdamai dengan banjir. Sama seperti Anies mengunjungi FPI. FPI adalah teman dan bukan lawan. Kita harus berdamai dengan FPI dan mencoba bersinergi dengan mereka.

Saya sangat salut kepada ide-ide Anies. Idenya tentang banjir sungguh brilian. Ah, saatnya warga Jakarta mulai mengubah perspektifnya tentang banjir. Anies telah menunjukkan kepada para pendukungnya bagaimana seharusnya menghadapi banjir. Ya, terjun langsung, merasakan segar dan dinginnya banjir serta berdamai dengannya. Penampilan Anies itu persis dengan anak-anak yang bersyukur dan bersorak-ria jika banjir datang karena mereka bisa berenang bersama.

Dengan demikian banjir menjadi kawan dan manusia harus hidup selaras dan seharmoni dengannya. Bahkan banjir bisa diubah menjadi iklan yang menarik. Banjir bisa menjual diri, membesarkan diri dan bahkan bisa memenangkan seseorang yang bercita-cita menjadi gubernur. Dahsyat bukan? Itulah pesan dari foto-foto Anies ketika ia mengunjungi daerah banjir di Kampung Melayu [Senin 20/2].

Lalu, bagaimana dengan penampilan Ahok saat berhadapan dengan banjir?

Ahok seperti terlihat dari foto, tidak basah-basahan dengan banjir. Ia menjaga diri dari banjir. Terlihat sekali filosofi Ahok terhadap banjir. Banjir bukan kawan, ia adalah musuh. Banjir identik dengan kotoran, kerusakan, sumber penyakit, sumber malapetaka. Banjir bisa membuat kehidupan lebih menderita, merana, hancur dan tak manusiawi.

Oleh karena itu, Ahok tidak perlu terjun langsung di daerah banjir. Ahok tidak mencari banjir yang seleher misalnya, biar dada dengan televisi, bisa difoto dan menjadi berita heboh. Ahok tidak juga terjun ke daerah banjir setinggi leher. Bagi Ahok itu adalah penistaan yang mengerikan. Bila Ahok terjun dan basah-basahan dengan banjir dan menjual dirinya di sana, ia berarti menghina para korban banjir dan menjadikan mereka sebagai ladang iklan, objek  yang jualan agar dia bisa memenangkan kursi gubernur untuk kedua kalinya.

Ahok terlihat jujur kepada dirinya. Ia tidak perlu berfoto bersama banjir selutut, sepinggang, sedada, seleher atau berenang dengan ria gembira bersama banjir. Ahok lebih memilih mengunjungi korban banjir, menyalami mereka dan bertekad untuk mengatasi penderitaan mereka ke depan dengan kerja keras. Sama dengan FPI, Ahok tidak pernah berdamai dengan ormas-ormas sangar yang kerjanya anarkis.

Di tengah kunjungan kepada para korban banjir, Ahok memberitahukan apa rencananya ke depan. Ahok mengatakan bahwa semua sungai-sungai di Jakarta harus dinormalisasi. Semua rumah-rumah di pinggir sungai harus digusur dan para penghuninya direlokasi ke rumah susun. Ahok juga bertekad untuk merealisasi proyek sodeten Kali Ciliwung-Kanal banjir Timur. Ahok juga bertekad terus melanjutkan proyek reklamasi dan tanggul.

Ahok yakin bahwa Jakarta yang seperti tempurung dan berada 40% di bawah laut, akan terus bermasalah dengan banjir. Itu akan semakin membesar seiring dengan penurunan permukaan tanah. Oleh karena itu, Jakarta mutlak membutuhkan tanggul raksasa di tengah laut (giant sea wall) yang bisa menahan air laut. Sementara di musim hujan, lewat system polder (penampungan air), air yang melimpah dari sungai-sungai bisa dipompa ke laut.

Sebagai gubernur petahana, Ahok jelas gagal paham jika ada cara lain dalam mengatasi banjir tanpa normalisasi sungai. Ahok gagal paham jika rumah-rumah di pinggir sungai tidak digusur namun hanya ditata atau digeser sedikit. Ahok gagal paham, jika reklamasi dan tanggul raksasa di teluk Jakarta tidak dilakukan dalam waktu cepat.

Ahok gagal paham jika sodetan untuk membagi aliran sungai tidak dilakukan. Ahok juga gagal paham jika banjir dijadikan iklan diri seperti yang dilakukan oleh Anies. Ahok lebih gagal paham lagi jika banjir dijadikan teman, kawan, rezeki, karunia dan hidup harmoni dengannya. Lebih gagal paham lagi jika ada warga Jakarta mendukung gubernur yang tidak mempunyai program jelas tentang penanganan banjir di Jakarta ke depan.

Semoga saya juga ikut gagal paham.





Leave a Reply