Agnostik dan KBB (Karo Bukan Batak)

1
414

Oleh: Maja Barus (Medan)

 

Cara berpikir agnostik selalu ditempatkan antara agama dan penganut paham atheis. Orang agnostik menunda pengambilan keputusan, dengan menyatakan bahwa tidak cukup bukti untuk menegaskan atau menolak adanya Tuhan. Pada saat bersamaan, orang agnostik mungkin mengatakan bahwa eksistensi Tuhan meskipun bukan tidak mungkin.

Agnostikisme sebuah metode dan cara berpikir yang mengedepankan skeptisisme. Artinya, tidak menerima mentah-mentah apa yang dia lihat dan dengar. Karena pada dasarnya, ketika orang sudah masuk cara berpikir seperti ini, akan otomatis memiliki sifat untuk mempertanyakan dan sangat teliti terhadap apa yang diterimanya.

Akan tetapi metode cara berpikir seperti ini mungkin tidak akan pernah diterima oleh pemikir agama. Saya sudah beberapa kali diskusi dengan beberapa tokoh agama mengenai hal ini. Betapa terkejutnya mereka sewaktu saya mengatakan “cara berpikir agnostik sebenarnya sangat efektif untuk mengindari konflik antar agama”.

Saya memiliki alasan berpendapat demikian, karena saya melihat pemeluk agama di Indonesia pada umumnya sudah mulai kehilangan rasionalitasnya. Bagi orang-orang yang kehilangan rasionalitasnya biasanya karena terlalu mentah-mentah menerima apa yang mereka dengar dari ajaran agamanya, sehingga ‘agama’ menjadi ‘harga mati’. Mereka rela ‘mati’ demi sesuatu yang sebenarnya belum mereka pahami kebenarannya. Beberapa tokoh agama yang saya ajak diskusi tambah tidak terima ketika saya mengatakan,’

Mengapa injil yang tidak tepat lagi digunakan ‘pada jamannya’ harus ditonjolkan (tidak dihapus)? Mengapa harus mempertahankan injil yang dapat memancing konflik antara sesama? Bukankah semua agama mengajarkan kedamaian? Kalau ada injil yang membatasi hubungan antara sesama mansia untuk saling mencintai dan mengasihi, bukankah itu menentang ajaran agama yang selalu menceritakan tentang kedamaian? Saya tidak ingin menentang ajaran agama, saya hanya ingin pikiran saya tidak kehilangan rasionalitasnya.




Hal demikian, tidak hanya terjadi di dalam agama saja, akan tetapi terjadi di dalam perdebatan budaya. Akhir-akhir ini, perdebatan identitas Suku Karo lagi hangat-hangatnya. Hal ini ditandai dengan lahirnya sebuah pandangan baru terhadap identitas Karo yang mengatakan Karo Bukan Batak (KBB). Dengan beberapa data dan fakta yang ada, pandangan ini mengatakan bahwa sebenarnya kata ‘batak’ sangat tidak tepat untuk melekat dalam Karo. Pada dasarnya, pandangan ini tidak sama sekali ingin merubah tatanan budaya Karo yang sudah ada, malah mereka-mereka yang terlibat dalam pandangan ini berusaha sebanyak mungkin melakukan penggalian sejarah, menyebarkannya, dan melakukan kegiatan-kegiatan kekaroan untuk mengenalkan lebih luas tentang Karo itu sendiri.

Namun, tentunya pandangan ini tidak terlalu mudah untuk diterima oleh kalangan masyarakat yang selalu berpendapat bahwa Karo merupakan bagian dari Batak, dan sudah tepat dengan penamaan Batak Karo. Mereka selalu bertahan dengan mengacu pada hal-hal yang sudah tertulis dalam label agama maupu label buku. Di sinilah keterkaitan mengenai persoalan agama dan agnostik tadi. Bagi kalangan yang selalu mempertahankan Karo adalah Batak, mereka tidak mau menggali, tidak mau mempertanyaakan kebenarannya. Mereka menerima mentah-mentah apa yang mereka dengar dan lihat. Mereka selalu mempertahankan sesuatu yang belum tahu kebenarannya.

Bagi pandangan KBB, selalu memiliki sikap skeptisme untuk mencari dan membuktikan kebenarannya. KBB membebaskan pikirannya untuk bersikap skeptis terhadap apa yang mereka dengar dan lihat.

1 COMMENT

  1. Artikel menarik, menggambarkan berbagai kontradiksi. Juga menunjukkan kebenaran dan ketakutan akan kebenaran alias cari aman atau zona aman. Sifat ini banyak terdapat dikalangan suku/etnis yang introvert (stimulasi intern), seperti Karo, Pakpak, Gayo, Alas. Sifat ini jugalah yang umumnya dimanfaatkan oleh etnis-etnis mayoritas/extrovert untuk menundukkan etnis-etnis lain dalam ethnic competition, dan sering berakhir dengan kekalahan etnis ‘zona aman’ itu. Sifat ‘zona aman’ tidak bisa memenangkan penganutnya dalam ethnic competition yang semakin galak-galaknya sekarang ini, termasuk antara etnis Batak dan etnis Karo dalam semua bentuk dan pencerminannya terlihat dalam kekuasaan Sumut dimana Karo sangat jauh tersingkir dibandingkan etnis-etnis lain yang tidak pakai ‘zona aman’. Akhir-akhir ini Karo sudah mulai belajar soal ini, tetapi masih jauh dari cukup dalam prakteknya. Dominasi pemikiran ‘zona amana’ masih besar.

    MUG

Leave a Reply