Kolom Asaaro Lahagu: Jokowi-Ahok itu Ganda Petarung Fadli, Fahri, Paham?

1
270

 

Fadli Zon mengirim surat kepada Jokowi agar memberhentikan Ahok dari kursi Gubernur DKI. Ah, ternyata Fadli Zon juga tidak paham-paham langkah Pakde Jokowi. Apakah perlu dijelaskan agar anda paham Fadli? Begini Fadli, Ahok itu menjadi korban politisasi agama dengan tekanan demo 7 jutaan hitungan alai dan lebai.

Agar demo itu padam, untuk sementara Ahok dijadikan tersangka dan kini jadi terdakwa dengan ancaman hukuman di bawah 5 Tahun. Padahal kasusnya tidak layak masuk ke pengadilan. Buang-buang waktu, bung Fadli. Tetapi tidak apa-apa. Yang namanya strategi, mundur selangkah untuk menang. Nah, ternyata setelah Ahok tersangka, demo pun terbukti padam. Lalu pakde Jokowi lolos dari jebakan batman. Jokowi menang. Sampai di sini pahamkan Fadli?

Setelah cuti kampanye Ahok kembali aktif menjadi Gubernur. Dan ternyata Ahok keluar sebagai pemenang di DKI. Kalau di daerah lain bung Fadli, Ahok sudah dipastikan menjadi Gubernur DKI karena yang dihitung adalah suara tertinggi dan bukan 50+1. Bersyukurlah anda Fadli bahwa ini ibu kota negara. Peraturannya beda sedikit. Jadi Anies-Sandi jagoan Fadli masuk putaran ke dua bertarung dengan Ahok. Anda beruntungkan Fadli?

Nah, sekarang Fadli dan teman-teman memasang jebakan kepada Pakde Jokowi lagi. Anda terus-menerus menuntut agar Ahok harus diberhentikan. Kalau diberhentikan, pasti Fadli bersorak. Karena sinar Ahok akan padam pelan-pelan. Sinar Anies berkilau. Sebaliknya kalau tidak diberhentikan, maka Pakde Jokowi masuk jebakan, yakni melawan hukum.

Demo 212 di DPR yang dikocar-kacirkan hujan dan banjir itu ditambah hak angket-angketan (tidak serius), bung Fadli menjadi senjata untuk menekan Pakde. Tetapi, lagi-lagi Pakde pintar, bung Fadli. Pakde lewat Mendagri meminta Fatwa MA. Hasilnya, MA mengembalikan urusan itu kepada Mendagri.

Jadi, sampai di sini paham kan, bung Fadli? Siapa yang menang? Lagi-lagi Jokowi. Pakde kembali sukses lolos dari jebakan. Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) kemudian buru-buru mencabut tuntutan di PTUN kepada Jokowi tentang perkara aktifnya Ahok itu, bung Fadli. Itu tanda KO, bung Fadli. Mereka akhirnya ACTA sadar bahwa Pakde Jokowi yang benar. Jadi biarkan Ahok kerja sebagai gubernur sambil bertarung dengan Anies dengan konsep DP rumahnya yang nol persen itu atau di balik nol Rupiah itu.

Sekarang yang ribut-ribut temannya Fadli, Fahri Hamzah. Kata Fahri, segala sesuatu yang dilakukan Ahok sekarang seperti meresmikan RPTA, masjid dan bangunan lain adalah kampanye. Lho apakah Fahri tidak paham apa yang telah dilakukan Ahok sebelumnya? Apakah harus dijelaskan juga kepada anda, bung Fahri, agar paham? Begini, bung Fahri. Ahok itu selama 2 tahun setengah menjabat sebagai gubernur, dia kerja keras dan sangat keras. Beda dengan bung Fahri yang hanya berkoak-koak di DPR sana.

Nah, sesuai dengan prediksi awal, bahwa pada tahun 2017 ini sebagian besar hasil kerja Ahok itu yang sudah dimulai dilakukan sejak 2 tahun lalu itu selesai sekarang. Jadi, sekarang Ahok menikmati hasil kerjanya. Ia sekarang panen, bung Fahri. Ahok kini sambil senyum-senyum menggunting pita, meresmikan ini-itu dengan hati riang gembira. Nanti 2018-2019, lebih hebat lagi bung Fahri. Ahok dan Jokowi banyak panen lagi seperti jalan tol, pabrik, jembatan, lapangan udara dan seterusnya.

Bung Fahri, salahkah jika seseorang menikmati hasil kerjanya? Itu bukan kampanye, bung Fahri. Jangan cemburu dan takut jika Anies kalah juga nantinya. Itu nasib, bung Fahri. Jika Ahok menggunting pita, itu adalah acara kegembiraan Ahok setelah selesai kerja keras. Fahri boleh menggerutu jika Ahok menggunting pita untuk proyek yang setengah jadi. Namun, jika sudah selesai, ya diresmikan dengan sorak-sorai, bung Fahri. Paham, kan?

Saya jelaskan lagi, ya, bung Fadli dan bung Fahri. Jokowi-Ahok itu adalah 2 petarung hebat. Ganda petarung. Jika salah satunya cedera atau keluar dari arena pertarungan, maka kekuatan yang satunya hilang 50%. Jadi, Jokowi-Ahok itu 2 petarung yang sedang menghadapi puluhan, ratusan, ribuan dan bahkan jutaan lawan-lawan mereka yang korup, maling dan mafia. Jadi, Jokowi sedapat mungkin selalu bersama dengan Ahok untuk bertarung.

Anda mungkin perlu diingatkan, bung Fadli, bung Fahri. Bahwa dengan naiknya Jokowi menjadi RI-1 dan Ahok menjadi DKI-1, maka mudahlah mengatasi semrawutnya ibu kota. Itu sudah terbukti. Kerja sama antara pusat dan DKI luar biasa bersinerginya. Nah, jika sosok DKI-1 berbeda idenya, bisa dibayangkan repotnya pemerintah pusat merajutnya. Jadi, artinya apa, bung Fadli-Fahri? Jokowi-Ahok itu sepaket.




Saya juga terheran-heran jika ada relawan Jokowi mendukung Jokowi tetapi tidak mendukung Ahok. Saya perlu jelaskan kepada Zulkifi Hasan (PAN), Muhamin Iskandar (PKB) dan Romaharmuzy (PPP) tentang politik dua kaki itu. Anda dengan  partai-partai anda itu pendukung pemerintahan Jokowi, bung, dan dapat jatah menteri.

Nah DKI Jakarta adalah bagian proyek besar Jokowi seperti giant wall sea di Teluk Jakarta, penanganan banjir, program MRT, LRT dan seterusnya. Jika anda tidak mendukung Ahok di DKI sebagai pasangan petarung Jokowi untuk membangun negeri ini, maka  anda telah menekel sebelah kaki Jokowi. Paham, kan? Kalau tidak paham, siap-siap ditendang dari kabinet dan anda Romi akan gantian dengan Djan Faridz.

Akhirnya, saya ingat ucapan Rizal Ramli yang mengatakan bahwa negeri ini ribut karena hanya satu-dua orang. Maksud anda apa, bung Ramli? Yang dua orang itu diamankan, lalu diganti dengan dua orang yang bisa bekerja sama dengan ormas sangar, koruptor, maling, begal dan mafia? Dua orang itu menjadi biang keributan karena mereka sedang menjalankan revolusi mental yang menghentakkan dan menyingkirkan para maling yang sudah nyaman selama ini di negeri ini, bung Rizal Ramli.

Bung Rizal, saya sebetulnya mengharapkan agar ada 10 orang lagi Ahok dan 10 orang lagi Jokowi di negeri ini. Biar keributan luar biasa melanda negeri ini dan para koruptor akan terkencing-kencing di celana. Sesudah itu kita menjadi bangsa bermental tangguh seperti Jepang, Korea Selatan dan negara-negara Eropa. Salam ganda petarung, bung Rizal.

1 COMMENT

  1. Yang sangat aneh dalam abad lalu dan terus ke abad ini ialah kalau ada orang pejabat yang tidak korupsi dan tidak mau korupsi. Ini memang betul-betul aneh dan barangkali juga tidak akan pernah masuk akal bagi sebagian orang. Yang tidak aneh ialah pejabat korupsi, munafik, tukang kepul loudmouth bragarts. Inilah yang biasa dan masuk akal.

    Tetapi ke dunia ini lahir juga orang-orang yang tidak biasa, tidak korupsi, tidak munafik, tidak sembahyang untuk ngelabui orang, atau seperti dikatakan Dalai Lama, kalau sekarang banyak yang menggunakan agama untuk menipu orang. Jokowi dan Ahok adalah orang-orang yang tidak seperti biasanya itu, dan karena itu juga banyak sekali musuhnya, dimobilisasi oleh orang-orang yang ‘biasa’ itu.

    “Never doubt that a small group of thoughtful, committed citizens can change the world; indeed, it’s the only thing that ever has.”
    Margaret Mead

    Di Indonesia ada Jokowi dan Ahok, di Filipina ada Duterte, di AS ada Trump. Tetapi sebaliknya juga ada, atau sudah pasti ada, atau harus ada yaitu yang setengah thoughtful dan setengan comitment, bikin kacau menghalangi sekuat tenaganya terjadinya perubahan itu. Musuh utama dan terbesar dalam usaha perubahan itu ada di AS yang menjadi tantangan utama Trump yaitu keuasaan neolib (the establishment) dengan senjata utamanya terorisme, narkoba dan korupsi, dimana ketiganya ini telah sempat merambat ke seluruh dunia termasuk di Indonesia yang sekarang menjadi tugas utama Jokowi dan Ahok, dan di Filipina jadi tugas utama pemerintahan Duterte.

    Walaupun era Obama adalah ‘the last gasp of neoliberalism’, tetapi neolib ini masih sangat kuat dan banyak duitnya yang sudah dikumpulkan selama setengah abad, termasuk triliunan dolar dari Indonesia Freeport sejak teror 3 juta 1965. Terakhir triliunan dolar dari minyak Syria dan Irak yang berhasil dirampok oleh ISIS yang dibangun oleh puppet Obama-Clinton-Ford. Pendiri sebenarnya ISIS ialah ‘the secret government’ atau ‘financial element of the large centers’ (presiden Roosevelt).

    ISIS sudah selesai menjalankan misinya yaitu triliunan dolar bagi pendirinya, dan bikin pengungsian besar-besaran ke eropah barat dan AS dalam rangka politik multikulti neolib. Karena itu juga sekarang tidak ada lagi yang urusan terhadap hidup matinya ISIS, apakah bakal hancur atau dihancurkan sudah tak jadi soal.

    Trump tidak bisa dipakai mengawal atau melanjutkan ISIS , dan Obama sudah selesai ‘tugasnya’ sebagai the last puppet of neolib internasional.

    MUG

Leave a Reply