Kolom Asaaro Lahagu: Ahok-Raja Salman Bersalaman, Taktik Jitu Jokowi

0
439

 

Jokowi-Ahok itu sepaket. Mereka sepaket bukan karena agama mereka yang sama. Pun bukan karena berkat hubungan bisnis to bisnis. Mereka sepaket karena etos kerja mereka yang membara. Keduanya bekerja keras bukan untuk kepentingan pribadi, keluarga atau golongannya tetapi untuk bangsanya, negaranya dan Ibu Pertiwi. Itulah sebabnya jika Jokowi bertemu dengan Raja Salman, Ahok juga.

Saya yakin jika yang sedang menjadi Presiden sekarang, SBY atau Prabowo, mungkin Ahok tak pernah diijinkan ikut menyambut Raja Salman. Mengapa? Karena Ahok bukan seorang Muslim. Ahok kafir. Namun berkat Jokowi, Ahok diperkenankan menyambut dan akan bertemu dengan Raja Salman.

Jokowi jelas lewat the invisible hand-nya dengan gampang mengatur pertemuan Raja Salman dengan Ahok. Jokowi juga akan gampang menghindari pertemuan Raja Salman dengan pimpinan-pimpinan Ormas Islam Radikal semacam Rizieq-FPI. Jika Raja Salman menolak bersalaman dengan Ahok, maka saya yakin, Jokowi tidak begitu antusias menyambut Raja Salman.

Kedatangan Raja Salman yang heboh sangat menguntungkan pemerintahan Jokowi. Indonesia yang nyaris jatuh ke kubangan radikalisme, revolusi ala FPI, khilafah ala HTI, akan dengan mudah ditangkis berkat kedatangan Raja Salman itu. Raja Salman telah menjelma bagai lilin pencerahan di negeri ini. Ia akan mengajari kaum kurang waras, bahwa semakin beragama itu, maka sikap dan perilaku semakin toleran. Padangan itulah yang dimanfaatkan oleh Jokowi lewat the invinsible hand-nya.

Lewat the invinsible hand-nya, Jokowi telah menunjukkan kekuatannya. Jokowi akhirnya mampu membuktikan bahwa dialah the Real President di negeri ini. Jokowi menunjukkan kepada siapapun di negeri ini bahwa yang mengatur kedatangan Raja Salman, siapa yang boleh bertemu dengannya dan siapa yang tidak boleh adalah Presiden Jokowi lewat kaki tangannya.




Jokowi telah membuktikan bahwa ia adalah tuan rumah di negeri ini. Oleh sebab itu Jokowi berhak mengatur dan mengarahkan Raja Salman bersalaman dengan Ahok yang sedang dirundung masalah politis, penistaan agama. Tentu saja jika Raja Salman tidak mau bertemu dengan Ahok, maka Raja Salman tidak boleh bermimpi untuk menginjakkan kaki di negeri ini.

Bertatap mukanya Raja Salman dengan Ahok membuktikan bahwa Ahok yang kafir masih layak bersalaman dengan Raja Salman, raja yang negerinya dikunjungi oleh jutaan umat Islam di seluruh dunia. Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta yang kinerjanya membahana sampai di negeri Arab Saudi justru menarik bagi Raja Salman untuk bertemu.

Raja Salman yang negerinya menuju kebangkrutan karena etos kerja para pegawainya, membutuhkan terobosan-terobosan ekstrim untuk berubah. Dan itu telah diberi contoh oleh Ahok di DKI Jakarta. Raja Salman akan belajar kepada Ahok bagaimana berperang dengan para bandit APBD, para oknum maling DPRD, para mafia dan memecat habis para pegawai yang tidak becus bekerja.

Raja Salman jelas tidak akan menggubris mereka yang hanya paham teriakan agama, berteriak lancang soal kafir dan berbicara soal bidadari. Raja Salman jelas akan tertarik bertemu dengan pimpinan-pimpinan agama yang toleran, kerja sama, moderat dan mau membangun manusia secara utuh. Raja Salman tentu telah banyak belajar dari Amerika, bagaimana sebuah bangsa dibangun.

Bagi Raja Salman, tujuan kedatangannya di Indonesia adalah semata-mata untuk menyelamatkan ekonomi negaranya, ekonomi keluarga, harta dan kekuasaannya. Artinya, Raja Salman datang ke Indonesia dengan motif ekonomi dan bukan motif agama yang konon akan bertemu dengan pimpinan Ormas radikal di negeri ini.

Salaman Ahok dengan Raja Salman jelas mempunyai arti strategis yang menguntungkan Ahok dan Jokowi. Lewat pertemuan Raja Salman-Ahok, Jokowi telah unjuk kekuatan untuk membungkam lawan-lawan politiknya dari kelompok ekstrim. Salaman Ahok- Raja Salman juga mengubah persepsi bahwa Ahok yang Non-Muslim tidak bermasalah menjadi seorang Gubernur di daerah yang mayoritas Muslim.

Bagi Raja Salman, kinerja hebat, etos kerjalah yang menentukan seseorang pemimpin yang mau menjadi pelayan rakyat. Ahok adalah hadiah bagi bangsanya. Lalu, mengapa ia harus ditolak? Ahok mungkin dibutuhkan di Arab sana untuk merevolusi etos kerja bangsa Arab yang terpuruk. Dari data statistik pemerintah Arab Saudi, selama ini Arab Saudi memperkerjakan 70% lebih dari total angkatan kerja di sektor publik.




Hal itu benar-benar tidak produktif dan miskin etos kerja. Dalam debat di stasiun televise MBC, Menteri Layanan Sipil, Khalid Al-Araj menjelaskan bahwa pegawai negeri sipil di Arab Saudi rata-rata hanya bekerja sejam sehari. Motivasi mereka untuk bekerja amat rendah. Sistem berjalan sangat buruk di Saudi. Gaji tetap dibayarkan kepada pegawati negeri meskipun mereka meninggalkan tugas. Ini jelas memberatkan anggaran pemerintah menuju kebangkrutan akibat anjiloknya harga minyak dunia.

Maka pengaturan pertemuan Raja Salman-Ahok bisa terjadi karena dua hal. Pertama, karena peran Jokowi yang ingin membungkam para bandit radikalisme yang berkoak-koak atas nama agama, ke dua, karena keinginan Raja Salman sendiri yang mau belajar dari seorang Ahok. Jelas etos kerja Ahok yang luar biasa bagai mutiara emas yang berkilau-kilau di belantara jazirah Arab yang miskin etos kerja.

Saya angkat tangan kepada taktik jitu Jokowi yang telah menjadi tuan atas negerinya sendiri. Pakde Jokowi telah mampu mengatur siapa yang harus bertemu dengan Raja Salman termasuk Ahok sendiri. Selamat juga kepada Ahok yang bisa bertemu langsung dengan Raja Salman. Anda layak bertemu dengan siapapun karena etos kerja hebat anda dalam membangun Jakarta.

Nah, bagi mereka yang ngebet dan ngiler bertemu dengan Raja Salman namun tidak kesampaian, harap bersabar bersama kura-kura.





Leave a Reply