Jokowi bertemu dengan SBY di saat yang tepat. Sebelum putaran ke dua Pilkada, pertemuan Jokowi-SBY itu amatlah penting. Berkat pertemuan itu, kini hubungan Jokowi-SBY kembali jernih. Para kader Demokratpun mendapat angin semilir nan segar dari SBY. Setiap kader dan para simpatisan Demorat, diberi kebebasan untuk memilih Ahok.




Bisa dipastikan bahwa SBY seperti pada Pilpres 2014 lalu, akan tetap berdiri netral alias Non Blok. Secara kepartaian, Demokrat tidak menyatakan dukungan secara resmi kepada Ahok. Namun kader-kader Demokrat sudah banyak yang ngefans kepada Ahok. Sebut saja Ruhut Sitompul dan Hayono Isman, sudah duluan mendukung mati-matian Ahok.

Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat Adjeng Ratna Suminar sebagaimana dilansir JPNN.com, menyatakan kader-kader partainya dibebaskan dalam memilih pada Pilkada DKI putaran ke dua. Menurut Adjeng, SBY sebagai Ketua Umum Demokrat tidak menginstruksikan kader-kader partai Demokrat untuk memilih pasangan tertentu pada 19 April mendatang.

“Kami dibebaskan kok untuk memilih,” kata Adjeng di sela-sela deklarasi dukungan Gerakan Relawan Agus-Sylvi (Gerasi) kepada duet Ahok-Djarot di Jalang Talang, Menteng, Jakarta Pusat [Senin 13/3].

Alasan Adjeng memilih Ahok-Djarot karena pasangan ini sudah terbukti kinerjanya melalui Kartu Jakarta Pintar, Kartu Jakarta Sehat, dan pelayanan warga sangat baik.

“Ahok-Djarot sudah teruji, kenapa harus pilih yang lain?” ucap Adjeng.

Kinerja luar biasa Ahok dalam membangun Jakarta sudah sangat sejalan dengan spirit Demokrat. Demokrat kini telah berubah dan mulai terlihat waras untuk mendukung pemimpin Jakarta yang tegas, profesional, transparan, bersih, terbukti kinerja secara nyata dan menciptakan kesejahteraan bagi warga. Dan, itu ada dalam diri Ahok-Djarot. Pasangan gubernur ini, sudah sangat jelas memiliki program pro-rakyat dan konsisten dalam pemberantasan korupsi.

Sementara itu, keras kepalanya Lulung yang tidak mau mendukung Ahok, membuat Ketua Umum Djan Faridz berang. Hari ini [Senin 13/3], Lulung resmi dipecat dari PPP. Menurut Dzan Faridz, karena Lulung keras kepala dan lebih memilih mendukung Anies-Sandi, maka partai harus bertindak tegas. Lulung jelas telah bertindak menyalahi Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) di Partai PPP.

“Betul (Lulung dipecat, red) karena melanggar AD/ ART partai,” ujar Djan melalui layanang pesan singkat kepada wartawan.

Djan menegaskan, pemecatan atas Lulung  diambil berdasarkan keputusan DPP PPP. Selain Lulung dipecat dari keanggotaan PPP, Lulung juga dipecat dari kursi pimpinan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta.

Jelas nasib Lulung ke depan akan mengalami nasib pilu. Sangat besar kemungkinan dalam putaran Pilkada ke dua 19 April mendatang, Anies-Sandi kalah. Jika demikian maka Lulung akan gigit jari, stress menyaksikan Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta untuk periode ke dua. Lulung akan merasakan pahitnya dipecat dari partai dan pasangannya yang didukungnya mengalami kekalahan. Nah, itu Lulung. Lalu bagaimana dengan Gerinda?

Gerindra mulai goyah. Pengurus partai Gerindra Kecamatan Duren Sawit membelot dengan mendeklarasikan dukungan kepada Ahok-Djarot. Deklarasi dipimpin oleh Ahmad Hidayat yang sebelumnya aktif jadi pengurus Gerindra Jakarta Timur. Ahmad Hidayat sudah bertekad untuk berjuang memenangkan Ahok-Djarot untuk kembali menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Ahmad Hidayat mendukung Ahok-Djarot dengan alasan sudah merasa tidak sejalan dan tidak cocok dengan janji-janji Pasangan Calon Nomor 3.

“Janjinya semakin lama semakin tinggi dan cara-cara yang ditempuh untuk menang membuat kami tidak suka,” ujar Ahmad Hidayat dalam deklarasi dukungan pengurus Partai Gerindra dan simpatisan AHY untuk Ahok-Djarot, di Jakarta Timur, Sabtu, 11 Maret 2017 lalu.




Dukungan dari kader Gerindra ini jelas menambah amunisi Ahok untuk bertarung dengan Anies. Ada sekitar 6.000  suara pasangan Nomor Urut 3 akan dikerahkan Hidayat untuk berbalik mendukung Ahok-Djarot. Demi mendukung Ahok, Hidayat tidak takut dipecat. Alasannya, Hidayat sudah muak melihat pasangan Anies-Sandi yang menggoreng dan mencampuradukkan agama dengan politik. Spanduk yang menolak mensholatkan mayat pendukung Ahok, adalah contoh konkritnya. Itu jelas perbuatan yang sangat menjijikkan.

Kini, dengan berbagai dukungan baru itu, Ahok dipastikan sedikit demi sedikit mulai meraup suara dari pasangan Agus-Sylvi. Hal itu membuat Ahok semakin di atas angin. Kampanye Ahok yang senyap, dengan mendatangi langsung warga yang dilanda kesusahan mulai menarik simpati warga Jakarta. Kunjungan Ahok untuk mendatangi keluarga nenek Hindun, adalah salah satu usaha Ahok untuk meraih simpati warga dan kini menjadi viral di sosial media.

Nah, dengan adanya dukungan kader elit Demokrat dan warga Jakarta akar rumput, maka langkah Ahok untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta periode ke dua semakin lapang. Berkat kinerjanya yang luar biasa untuk membangun DKI, kader Partai Gerindra terpaksa membelot mendukung Ahok. Sebagian kader Gerindra yang masih waras, sudah muntah dan mencret mendengar janji-janji surga dari Anies-Sandi.

Sementara itu Lulung yang sampai kiamat tetap menyerang Ahok karena lahannya di Tanah Abang telah dihancurkan oleh Ahok, tetap keras kepala mendukung Anies. Dan, keputusan itu membuat Lulung dipecat dari keanggotaan PPP dan kursi Ketua DPRD DKI Jakarta. Akibat pemecatan itu, bisa dipastikan Lulung akan semakin terpuruk bersama proyek USB-nya.

Foto header adalah Model Sora Sirulo (Yanti beru Ginting)







Leave a Reply