HEVI S. TARIGAN. MEDAN. Sekdaprovsu Hasban Ritonga sambut baik niat Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) untuk mensosialisasikan beragam informasi tentang pencegahan maupun pengobatan bagi penderita diabetes mellitus (DM). Menurut Hasban, penyakit DM merupakan salah satu penyakit yang menimbulkan korban jiwa.

Selain itu, niat Persadia ini adalah juga merupakan kegiatan yang membantu salah satu tugas pemerintah daerah.

“Nawacita menghadirkan pemerintah di tengah-tengah masyarakat, Persadia membantu pemerintah untuk hadir di masyarakat Sumut khususnya di bidang kesehatan; yaitu berkenaan dengan penyakit Diabetes Mellitus,” ujar Hasban didampingi Staf ahli Gubsu Amran Uteh, Plt Kepala Biro Umum dan Aset Setdaporvsu Faisal dan para pejabat eselon III Dinas Kesehatan Provsu, Biro Sosial dan kemasyarakatan Setdaprovsu, dan Rumah sakit Haji Medan.

Sedangkan rombongan yang hadir dipimpin Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Kota Medan Syarifuddin Ritonga yang hadir bersama dr Dharma Lindarto, dr Santi  Syafril, dr M Aron Fase, Drs Pananggaran Ritonga dan Ediwardo Ritonga.

Pada kesempatan itu, Hasban juga mengapresiasi kegiatan yang akan dilaksanakan Persadia. Apalagi, lanjut Hasban, ternyata penyakit DM dapat dicegah. Sekdaprovsu mengatakan, Pemprovsu akan mendukung kegiatan yang akan dilaksanakan ini. Hasban berharap, sosialisasi ini agar segera dapat dilaksanakan khususnya di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

“Nantinya PNS pemprovsu bisa jadi pionir untuk mensosialisasikan tentang penyakit DM ini,” kata Hasban.

Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Kota Medan Syarifuddin Ritonga mengatakan, banyaknya penderita diabetes mellitus (DM) dari kalangan usia muda lebih disebabkan oleh faktor gaya hidup yang kurang sehat.

Perubahan gaya hidup, lanjut dia, menyangkut kecenderungan mengonsumsi makanan yang kurang serat ditambah dengan minuman yang banyak mengandung glukosa.

Selain itu, kurangnya aktivitas yang membakar lemak atau kurang gerak.

Sejauh ini dikenal 2 kelompok penderita diabetes, yakni mereka yang terkena sejak kecil atau remaja dan mereka yang terkena ketika sudah dewasa.

“Diabetes memang tidak bisa disembuhkan. Namun dengan perawatan yang baik, setiap penderita dapat menjalani kehidupannya secara normal,” ujarnya.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, menurut Dharma, penderita DM sebaiknya menerapkan pola 3J, yakni jumlah kalori, jadwal makan dan jenis makanan.

Pengertian tepat jumlah kalori, yaitu jumlah makanan yang diberikan disesuaikan dengan status gizi penderita DM dan bukan berdasarkan tinggi rendahnya kadar gula darah.

Tepat jadwal makan bagi pengidap DM dianjurkan lebih sering dengan porsi sedang, sehingga jumlah kalori merata sepanjang hari. Mengatur jadwal makan dengan porsi sedang bertujuan agar beban kerja tubuh tidak terlampau berat dan produksi kelenjar ludah perut tidak terlalu mendadak.

Khusus mengenai jenis makanan, Syarifuddin menyarankan kepada para penderita DM agar menghindari jenis makanan yang berpotensi mempercepat naiknya kadar gula darah.

Syafruddin Ritonga mengatakan, pihaknya ingin bekerjasama dengan pemerintah provinsi Sumatera Utara untuk mensosialisasikan beragam informasi tentang pencegahan maupun pengobatan bagi penderita DM.

“Hingga kini masih banyak warga yang kurang memahami secara klinis tentang bagaimana mencegah diabetes mellitus, oleh karenanya kami mohon dukungan dari Pemerintah Provinsi Sumatera agar informasi tentang diabetes ini dapat disampaikan khususya untuk kalangan PNS di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara,” ucap dia.






Leave a Reply