Ahok diserang lewat mayat orang mati. Skenarionya sederhana. Jika anda muslim dan tetap mendukung Ahok, maka kalau anda mati, anda tidak akan disholatkan. Mayat anda akan ditelantarkan. Bagi orang yang masih hidup, hal ini jelas menakutkan. Setiap orang tidak tahu kapan ajalnya tiba. Jika ia tiba-tiba meninggal, lalu mayatnya tidak disholatkan, itu berarti terhalang masuk surga dan bisa masuk neraka. Ngeri.

Agar lebih menggigit dan mengerikan, dibuatlah spanduk-spanduk yang  dipasang di banyak Masjid di Jakarta. Bunyinya: “Masjid ini tidak mensholatkan jenazah pendukung Ahok”. Tujuannya adalah agar orang-orang Muslim pendukung Ahok takut dan akhirnya tidak memilih Ahok dan berbalik memilih Anies-Sandi. Strategi ini sangat menohok dan telak. Ini sama saja mengubur Ahok hidup-hidup. Jika semua pemilih kaum Muslim tidak memilih Ahok, maka bisa dipastikan Ahok akan kalah telak. Lalu apakah strategi itu berhasil? Ternyata gagal.

Orang Muslim yang masih waras ternyata langsung bergerak. GP Ansor NU, Pemrov DKI Jakarta, Kementerian agama langsung berteriak. Siapapun yang meninggal setiap masjid wajib mensholatkan jenazah. Seluruh kampung berdosa jika tidak mensholatkan jenazah itu. Begitulah pernyataan keras Menteri agama. GP Ansor NU menjadi barisan terdepan yang siap 24 jam mensholatkan jenazah yang ditelantarkan.

Pemrov DKI Jakarta tak tinggal diam.  Seluruh spanduk provokatif dan menyebarkan isu SARA langsung diturunkan. Sementara itu aparat kepolisian pun turun tangan. Polisi mengancam bahwa siapapun yang menyebar spanduk-spanduk provokatif itu akan dipidanakan. Kini polisi tengah menyelidiki aktor di balik spanduk-spanduk provokatif itu. Strategi serang Ahok lewat jenazah pun kini gagal total. Publik menjadi muntah dan muak melihat kampanye hitam seperti itu. Akibatnya spanduk itu menjadi blunder yang merugikan pasangan Anies-Sandi.

Pasangan Anies-Sandi  jelas kini kelabakan. Apalagi senjata yang tersisa untuk menjegal Ahok? Ahok yang diserang lewat politik mayat itu, malah mengubahnya menjadi keuntungan. Ahok dengan kampanye senyapnya tiba-tiba mengunjungi keluarga Nenek Hindun, yang menjadi korban politik mayat itu. Ahok pun berfoto ria dengan mereka dan gegerlah sosial media. Rasa simpati publik pun mengalir kepada Ahok dan keluarga Nenek Hindun.

Melihat strategi politik mayat gagal, Anies mencari celah lain untuk menyerang Ahok-Djarot. Ketika Djarot yang diundang saat haul Soeharto, dihadang oleh pendukungnya, Anies bukannya meminta maaf. Malah Anies ikut memanasi situasi. Anies menuding Djarot telah melecehkan rakyat. Jika pemimpin melecehkan rakyat, maka rakyat pun akan melecehkan pemimpinnya. Anies menambahkan bahwa penghadangan Djarot itu adalah efek dari kriminalisasi kepada para kaum ulama.

Lalu apa pesan dari tudingan Anies itu? Ternyata kedok Anies terbongkar. Anies ternyata setuju penghadangan terhadap Djarot. Itu berarti juga Anies selama ini juga setuju kepada setiap penghadangan kampanye Ahok-Djarot. Jika Anies setuju terhadap penghadangan kampanye Ahok-Djarot, maka Anies sama saja telah melecehkan demokrasi di negeri ini. Anies telah melecehkan nalar untuk bertarung secara fair. Ternyata santun, bersih dan jujur hanyalah kedok alias tameng.

Jika Anies menuding dan melecehkan nalar, Sandiaga tidak jauh berbeda. Kini Sandi terlihat gencar memfitnah Ahok. Ketika Ahok walk-out dari rapat pleno KPUD Jakarta karena jam karet, Sandi memfitnah Ahok sudah janjian dengan investor yang akan menanamkan puluhan triliun rupiah untuk pembangunan Jakarta.

Seolah Anies tidak puas menyerang Ahok. Pada awal kampanye Pilkada putaran ke dua, ketika Ahok tidak berkampanye hiruk-pikuk seperti pada putaran pertama, Sandi lagi-lagi memfitnah Ahok dengan tuduhan sedang bertemu dengan tokoh bisnis. Ahok menurut Sandi, sedang melakukan penggalangan dana dengan tokoh bisnis. Lalu mengapa Sandi memfitnah Ahok?

Jelas Sandi sedang dilanda ketakutan. Strategi kampanye Ahok sekarang adalah turun ke gang-gang sempit di Jakarta, melakukan pendekatan door to door, person by person. Jelas strategi ini menakutkan para pendukung Anies-Sandi karena strategi itu juga yang mereka lakukan selama putaran pertama.

Jika Ahok dan para relawannya akan senyap dan terjun ke gang-gang sempit di Jakarta, maka pendukung Anies-Sandi akan terdesak dan terpojok. Untuk mengerem laju Ahok, Sandi melempar tudingan. Menurutnya jika Ahok kampanye senyap, itu berarti dia sedang melakukan deal-deal dengan pengusaha. Padahal sebetulnya Ahok sedang kampanye senyap menemui kandidat pemilihnya.

Bisa jadi Sandi sedang mati-matian mem-framing Ahok sebagai gubernur pro-pengusaha dan pro-orang kaya demi tujuan politiknya. Dengan demikian semua warga kalangan akar rumput tidak akan memilih Ahok. Ini adalah strategi fitnah kejam yang sedang dibangun oleh Sandi terhadap Ahok.

Posisi Ahok kembali di atas Angin

Memasuki pertengahan Maret 2017, pertarungan merebut kursi empuk Gubernur DKI, memang semakin sengit. Para lawan Ahok terlihat menggunakan segala cara ala Machiavelli demi meraih kemenangan. Jakarta memang menjadi kunci sukses menuju RI-1 2019. Orang-orang besar seperti Megawati, Prabowo, SBY dan Jokowi sendiri dari dulu menjadikan Jakarta sebagai ajang pertarungannya.

Orang nomor satu di DKI Jakarta saat ini, Ahok yang dikenal sebagai sosok berkepala batu, menjadi musuh banyak pihak. Mereka yang korup, ketagihan memanipulasi Anggaran APBD DKI, kaum fanatisme agama, kaum intoleran, para oknum Ketua RT/ RW yang gemar memalak warga, pedagang, pemukim dan preman serta tukang parkir liar, perusahaan fiktif, pegawai manja, dan seterusnya menjadi musuh-musuh utama Ahok. Ahok dimusihi karena ia tak berkompromi dengan mereka.




November-Desember lalu, Ahok dikira sudah jatuh ke dalam jurang dan mati. Lewat tuduhan sebagai penista agama, Ahok dipandang tak bisa berkutik lagi. Para musuhnya pun bersorak kegirangan. Ahok pasti tersingkir pada putaran pertama Pilkada. Akan tetapi betapa lawan-lawan Ahok kembali terkejut menyaksikkan Ahok masih bisa bangkit. Ahok pun memenangkan Pilkada DKI putaran pertama. Ternyata Ahok tidak tersingkir pada putaran pertama seperti yang dikira oleh para lawannya.

Ahok juga ternyata tidak berhasil dimasukkan ke penjara. Pun Ahok tetap aktif menjadi gubernur setelah cuti kampanye putaran pertama. Ini jelas membuat lawan Ahok semakin sakit hati. Selain itu, potensi kemenangan Ahok pada putaran ke dua semakin hari semakin besar. Bisa dipastikan bahwa suara Agus-Silvi pasca bertemunya SBY-Jokowi mengalir kepada Ahok.

Jelas sosok Ahok semakin menakutkan lawan-lawannya. Jika Ahok sampai menjadi Gubernur DKI selama 5 tahun ke depan, maka terjadi kiamat bagi lawan-lawannya. Mereka keburu mencium tanah dan mati keropos, tersingkir dan akhirnya tiarap selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, serangan dahsyat lewat mayat orang mati pun diluncurkan, nalar dilecehkan dan fitnah pun dilontarkan.

Jadi, ketika Ahok mulai lagi di atas angin dan senjata untuk menjegalnya sudah habis, maka senjata mayat diluncurkan untuk mengubur Ahok. Pun tuduhan dan pelecehan nalar ala Anies serta fitnah-fitnah kejam ala Sandi mulai dilakukan. Apakah senjata-senjata itu berhasil? Ternyata tidak. Strategi curang tetaplah curang dan akan hancur lebur dibawa angin.

Model Foto Header: Pebrita beru Ginting











Leave a Reply