Sungguh, saya pernah mengalami masa-masa kelabu ketika hidup di Jaman Orba. Jaman dimana kita tidak boleh mengeritik pemerintah. Jaman dimana ketika hanya untuk nonton pertunjukan Iwan Fals saja sering diurungkan hanya karena Bung Iwan nyanyi Wakil Rakyat yang hanya bisa Nggah Nggih dan manthuk-manthuk sambil ngontak-ngantuk lalu dapat bayar.

Yang sedihnya adalah, rakyat juga tidak berani bersuara untuk menanyakan kemana uang hasil Sumber Daya Alam Negeri ini yang melimpah ruah sedangkan penduduk sekitar hidup dalam kemiskinan.

Pada suatu hari, pernah juga dalam suatu pertemuan dengan pejabat selevel gubernur, kami harus dibriefing dulu agar jangan nanya yang aneh-aneh. Jangan ngritik. Jangan berani macam-macam. Itu tentunya sangat sangat membelenggu kebebasan kami sebagai rakyat untuk berbicara.

Dalam kurun waktu 32 tahun ketika Jaman ORBA, apa sih Kontribusinya terhadap negeri ini?

Begini, saya masih ingat, ketika Awal Tahun 1998, ketika tiba-tiba ada Krisis melanda dunia. Negara-negara lain seperti Vietnam, Laos bahkan Malaysia bisa keluar dari krisis karena cadangan devisa mencukupi untuk menalangi krisis itu. Eeehhh … Indonesia malah terpuruk. Indonesia hancur berantakan. Lalu, ke mana uang negara hasil penjualan SDA sedangkan hutang negara juga menumpuk?

Bagi kami, Orba adalah mimpi buruk dari bangsa ini yang ditutupi oleh suasana tenang. Sekali lagi, ketenangan itu hanya kamulfase. Hanya Ecek-ecek. Hanya ethok-ethok. Namun, rakyat tidak berani “menjerit”.

Itulah, Mbak. Barangkali masih banyak cerita-cerita yang tidak enak didengar atau bahkan untuk didongengkan. Ke anak cucu saja sangat memalukan.

Orba hanya masa lalu, Mbak ….







Leave a Reply