Ketika tersiar berita Nenek Hindun yang meninggal dunia dan tidak diurus oleh RT setempat karena hanya masalah Pilkada, hanya karena nenek itu memilih seorang pemimpin karena Hati Nuraninya, ini tentu seperti hidup di Jaman Dinosaurus. Jaman yang barangkali belum ada peradaban di Muka Bumi ini.

Mari kita bayangkan bersama, seorang nenek. Tentu tergambar seorang perempuan tua. Perempuan ringkih dengan guratan-guratan keriput di makan jaman, guratan yang menjadi saksi bahwa nenek tersebut sudah kenyang makan asam dan garam kehidupan. Termasuk memilih seorang pemimpin.

Juga, barangkali di benak Nenek Hindun tidak mengerti apa itu politik. Yang terpenting adalah, siapapun orangnya yang mengerti terhadap rakyat kecil, yang sudah terbukti dan fakta dari kinerja seseorang itu, itu yang akan dipilihnya. Kebetulan di mata Nenek Hindun seorang Ahok mempunyai kriteria seperti itu. Tidak kepikiran Ahok itu agamanya apa, dari mana dia berasal dan Sukunya apa..

“Pokok e aye milih Ahok. TITIK.”

Yang membuat miris adalah, ketika mereka selalu bersuara Rahmatan Lill allamin, agama yang menjadi Rahmat bagi sekalian Umat, tiba-tiba hanya karena masalah Pilkada hilang itu Rahmatnya. Hilang itu adabnya. Adab yang hanya dimiliki oleh manusia. Oleh yang makhluk Tuhan yang konon lebih diberi kesempurnaan dibanding makhluk-makhluk lain.

Bukan soal Nenek Hindun saja, ketika beberapa temen memposting sesaat setelah Jumatan, bahwa materi dari Tausiyah Jumatan bukan lagi memberi Wejangan agar manusia lebih berakhlak. Eehh… malah membahas Pilkada. Menyerempet soal jangan milih pemimpin si ini.

Rasanya, tempat ibadah adalah tempat berkumpulnya manusia-manusia yang lebih beradab, yang lebih mempunyai moral dan tatakrama dalam berkehidupan.

Atau mereka bukan Golongan Manusia lagi? Entahlah …










Leave a Reply